Kamis, 20 Agustus 2015

Allah, Ayah dan Ibu

Bagaimana doa itu terus terucap disetiap alunan tangan memuji namaNya, bagaimana doa itu terus terucap disetiap sujud, bagaimana doa itu terucap pada setiap hembusan nafas ini. Serta, bagaimana usaha itu terus dilakukan di setiap sela kegiatan yang padat, bagaimana usaha itu terus dilakukan disela nafas yang terengah-engah karena hampir menyerah kelelahan, bagaimana usaha itu terus dilakukan saat semua orang hampir menyerah karenanya.

Ada doa dari seorang wanita paruh baya yang dengan tulus mendoakan putri sulungnya untuk tak gentar menghadapi segala cobaan dan tantangan. Ada sepotong semangat yang terus disuarakan wanita paruh baya itu untuk putri sulungnya. Ada usaha dan materi yang tak terhingga dari wanita paruh baya itu untuk putri sulungnya. Wanita itu tidak pernah memuji segala usaha yang dilakukan putri sulungnya. Beliau hanya memberikan senyum simpul kecil di ujung lengkung bibirnya ketika mendengar putri sulungnya telah selesai dalam menempuh kewajiban yang dibuatnya sendiri.

Ada usaha dan penyemangat lain yang tiada hentinya mengalir untuk sang putri sulung. Seorang lelaki paruh baya yang berusia hampir sama dengan wanita paruh baya di atas. Kalori dan energi yang dikeluarkan rasanya sudah tidak dapat terhitung lagi untuk menyemangati putri sulungnya. Ah, saya menangis menulis ini.

Allah, Ayah dan Ibu...