Bagaimana doa itu terus terucap disetiap alunan tangan memuji
namaNya, bagaimana doa itu terus terucap disetiap sujud, bagaimana doa
itu terucap pada setiap hembusan nafas ini. Serta, bagaimana usaha itu
terus dilakukan di setiap sela kegiatan yang padat, bagaimana usaha itu
terus dilakukan disela nafas yang terengah-engah karena hampir menyerah
kelelahan, bagaimana usaha itu terus dilakukan saat semua orang hampir menyerah karenanya.
Ada
doa dari seorang wanita paruh baya yang dengan tulus mendoakan putri
sulungnya untuk tak gentar menghadapi segala cobaan dan tantangan. Ada
sepotong semangat yang terus disuarakan wanita paruh baya itu untuk
putri sulungnya. Ada usaha dan materi yang tak terhingga dari wanita
paruh baya itu untuk putri sulungnya. Wanita itu tidak pernah memuji
segala usaha yang dilakukan putri sulungnya. Beliau hanya memberikan
senyum simpul kecil di ujung lengkung bibirnya ketika mendengar putri
sulungnya telah selesai dalam menempuh kewajiban yang dibuatnya sendiri.
Ada
usaha dan penyemangat lain yang tiada hentinya mengalir untuk sang
putri sulung. Seorang lelaki paruh baya yang berusia hampir sama dengan
wanita paruh baya di atas. Kalori dan energi yang dikeluarkan rasanya
sudah tidak dapat terhitung lagi untuk menyemangati putri sulungnya. Ah,
saya menangis menulis ini.
Allah, Ayah dan Ibu...