Rabu, 08 Januari 2014

Ayah dan Ibuku Hebat

Saya terlahir dari keluarga sederhana, tidak kekurangan, juga tidak berlebihan dalam segi materi. Ibu saya seorang guru Sekolah Dasar biasa asli Banten, Ayah saya asli Jawa Timur, tepatnya di Kabupaten Jombang. Dari Jombang, Ayah saya berkelana mencari secercah cahaya untuk memperbaiki nasib. Berasal dari keluarga yang kurang mampu dan berbekal ijazah, Tuhan menuntun ayah saya tiba di pelosok perkampungan di daerah Banten, menjadi seorang guru di Yayasan pendidikan yang baru saja dibangun. Ayah saya tidak punya tempat tinggal, akhirnya ditawari tinggal di rumah Pak RT di kampung tersebut, yang tak lain adalah rumah Kakek saya.

Rupa Ayah saya tidak jelek, bahkan mungkin kalau jaman sekarang bisa dibilang "kece" dan banyak ditaksir oleh beberapa gadis di kampung itu, termasuk Ibu saya. Akhirnya, mungkin Ibu adalah jodoh Ayah saya, mereka menikah tahun 1989 dengan modal nekat. Nekat karena belum punya pekerjaan tetap, nekat karena Ibu saya masih punya 4 orang adik perempuan yang harus dibantu biaya pendidikannya. Mengapa harus dibantu? Karena kakek saya hanya seorang petani sekaligus penjaga sekolah. Sekalipun kakek saya seorang abdi negara dan mempunyai gaji tetap, rasanya tidak bisa mencukupi kebutuhan keenam anak dan seorang istri baginya.

Selain mengajar di Yayasan Pendidikan, Ayah dan Ibu saya rajin sekali bertani, semua demi mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. Setelah 2 tahun lamanya menikah, Ayah dan Ibu baru dikaruniai seorang putri kecil bernama Ira Arini. Itu saya. Setelah saya lahir, Ibu saya diangkat menjadi abdi negara, karena beliau lulusan SPG (Sekolah Pendidikan Guru) setara dengan Sekolah Menengah Akhir (SMA). Saat itu, SPG akan ditutup oleh pemerintah dan hampir semua lulusannya diangkat menjadi abdi negara dengan jabatan fungsional sebagai guru. Namun, karena saat itu sistem pemerintahan bersifat otonomi daerah, Ayah saya yang juga sebagai alumni SPG tidak bisa di angkat sebagai abdi negara seperti Ibu karena Ayah berasal dari daerah luar.

Mungkin saat itu, Ayah saya amat sangat kecewa dan mempunyai beban moral yang amat sangat berat. Yang seharusnya menjadi hak Ayah saya, karena beberapa peraturan yang harus dipatuhi, beliau harus mengalah dan tidak kembali ke Jombang dan tetap di Banten bersama istri dan anaknya dengan predikat sebagai "suami dari seorang abdi negara". Entah memang karena masalah ini atau karena memang takdir Tuhan, Ayah jatuh sakit tidak lama setelah Ibu Prajabatan.

1 bulan lamanya Ayah harus menjalani pengobatan di rumah sakit. Saat itu yang menunggu hanya Ibu dan Kakek saya. Adik-adik Ibu masih sangat kecil, harus sekolah. Nenek saya mengurusi anak-anaknya, yang memungkinkan bisa terus stand by adalah Ibu dan Kakek saya saja. Itupun pagi-pagi Ayah ditinggal karena harus bekerja sampai siang. Betapa berat perjuangan Ibu dan Kakek saya, Tuhan amat sangat memberi kekuatan kepada mereka saat itu.

Semenjak itu, Ayah terus sakit-sakitan, hingga pada saya berumur 2 tahun, Ayah dipanggil Tuhan. Katanya, sebelum pergi, Ayah minta Ibu untuk memeluknya dengan erat, berpesan untuk tidak terlalu keras mendidik saya, menjaga saya, membesarkan saya, serta menuntun saya untuk menjadi anak solehah yang selalu mendoakan orang tuanya. Saya sendiri lupa dengan rupa Ayah saya. Maklum saja, usia saya masih terlalu dini untuk dapat mengingat hal itu.

Seperginya Ayah, Ibu harus menjadi seorang single parent untuk satu putrinya, saya. Ayah saya tahu, Ibu itu berwatak keras, makanya sebelum beliau meninggal selalu berkata jangan terlalu keras sama anak dan menitipkan saya kepada semua anggota keluarga jika nanti Ibu mendidik saya terlalu keras. Ibu mendidik saya dengan baik, walaupun kadang agak tempramental. Saya yang sudah berumur 6 tahun masih saja ngompol di kasur, sangat tidak berani membuka mata karena tahu pasti ibu akan memarahi saya dengan hebat. Selayaknya anak-anak, saya juga banyak melakukan kenakalan. Misalnya, ingin pergi renang bersama teman-teman, tapi Ibu tidak mengijinkan. Hasilnya, saya renang di bak air kamar mandi dan ketahuan Ibu. Saat itu Ibu menangis karena kelakuan saya yang amat sangat bodoh, sambil mencubit dan memukul saya pakai sapu. Saya merasa Ibu benci saya, tidak sayang saya, tapi sekarang tidak lagi merasa seperti itu. Ibu amat sayang sama saya, cinta sama saya.

Seorang single parent yang kuat, keras, berkarakter, itulah yang mungkin dapat saya gambarkan mengenai Ibu saya saat itu. Semua kekerasan yang pernah saya alami, bukan karena Ibu benci saya, tapi karena Ibu sayang saya, serta beberapa faktor psikologis yang mungkin menjadikan Ibu bertindak seperti itu. Tidak sedikit laki-laki yang mencoba mendekati Ibu, dari mulai yang masih single, beristri, sampai single berpaket. Saat itu, saya amat sangat tidak menyukai lelaki manapun yang mendekati Ibu. Alasannya, saya takut Ibu saya diambil oleh mereka, lalu saya dibuang begitu saja. Hahahaa.. Konyol memang.

8 tahun lamanya Ibu membesarkan saya seorang diri. Hinggal akhirnya, ada seorang lelaki single, sekampung dengan Ibu mulai mendekati. Saat itu ada acara pernikahan sanak saudara, Ibu dan lelaki itu berteman dari kecil, namun baru bertemu lagi setelah 6 tahun lamanya. Entah mengapa, saya tidak menggalaki lelaki itu, saya mau saja digendong dan dibelikan ini itu oleh beliau. Tidak mudah bagi Ibu untuk memberikan pengertian kepada saya untuk menerima lelaki itu menjadi orang baru dalam keluarga kecil kami. Hingga akhirnya saya menyetujui untuk mempunyai Ayah kembali pada kelas 5 SD.

Ayah, begitu panggilan saya terhadap lelaki baru yang masuk di keluarga kecil kami. Beliau begitu baik, baiknya sudah melebihi kebaikan seorang Ayah kandung pada umumnya. Kelas 6 SD, keluarga kami dikaruniai seorang anak perempuan, saya sangat senang sekali. Mempunyai seorang adik perempuan dan harus rela kasih sayang orang tua dibagi tidaklah mudah. Kadang saya cemburu karena hal kecil itu, namun seiring bertambahnya usia, saya sadar akan hal itu. Tidak semua orang seberuntung saya.

Kami berempat sangat bahagia, selalu berusaha menjadi hamba Tuhan yang taat, berusaha memperbaiki perekonomian keluarga bersama, berusaha mengejar cita-cita bersama, serta berusaha menjadi warga negara yang lebih mendahulukan kewajiban daripada haknya. Jika saja ada lomba keluarga paling harmonis, mungkin keluarga saya juaranya. Semoga Tuhan selalu memberkahi keluarga kami sampai ajal menjemput. Aamiin.

Ira Arini

2013, Saya Telah...

Tulisan ini saya tulis pada tanggal 31 Desember 2013, pukul 15:15 tepatnya.

Sebenarnya ingin sekali menulis kaledioskop 2013 dari kemarin-kemarin, Alhamdulillah mumpung masih tanggal 31 Desember 2013, berarti masih ada kesempatan untuk menulis semua kejadian 2013 ini.

Januari 2013
Saya mendapat gelar sarjana dengan nilai sesuap nasi. Mengapa sesuap nasi? walaupun tidak terlalu membanggakan orang tua karena nilai yang hanya pas-pasan dan tidak sesuai target kelulusan (baca: kuliah 9 semester), tapi ibu saya tetap bangga pada putri sulungnya ini. Ibu tidak pernah mengucapkan itu, tapi saya lihat jelas di matanya (PeDe).

Februari 2013
Bulan yang paling ditunggu sepanjang tahun. Bulan bertambahnya umur, dan selalu banyak sekali kejutan. Tepat pada tanggal 23 Februari 2013 lalu, saya genap berusia 22 tahun. Masih muda jika dibandingkan dengan usia Ibu dan Ayah, dan sudah tua jika dibandingkan dengan usia adik sendiri. Pada hari itu, semua keluarga berkumpul dan mengucapkan selamat ulang tahun, hanya tempatnya saja yang agak tidak nyaman. Ruang tunggu pasien ICU. Ya, Kakek tercinta sedang tidak sehat dan harus masuk ruang ICU pada hari ulang tahun saya, hingga kemudian beliau pergi 3 hari setelah hari itu tepatnya pada tanggal 26 Februari 2013. InsyaAllah kami semua ikhlas.

Maret 2013
Puncak dari segala kebahagiaan setelah 9 semester berjuang mengais ilmu. TOGA! Semua keluarga berkumpul, sahabat, teman, dan semua orang-orang terkasih menyempatkan diri untuk memberi selamat. Tapi setelah hari bahagia itu, saya tertegun, "abis wisuda mau ngapain lagi yaa?"

April, Mei 2013
Beristirahat cantik di rumah dengan lebel pengangguran. Bangun siang, pulsa masih minta ke Ibu, makan dan semua kehidupan masih ditanggung orang tua. Pengangguran berlabel ijazah sarjana memang tidak enak. Pernah mencoba melamar pekerjaan di perusahaan BUMN, tapi kalah telak karena tinggi badan tidak mumpuni.

Juni 2013
Dapat pekerjaan yang mengharuskan saya menjadi morning person. Berangkat gelap dan pulang juga gelap. Saya hanya kuat 1 bulan, sisanya saya menyerah. Bukan karena capek, namun ada alasan lainnya yang rasanya tidak etis saya jelaskan di sini.

Juli, Agustus 2013
Menjalani ramadhan pertama tanpa kakek tersayang. Berat tapi harus dijalani. Ditambah krisis kepercayaan diri karena masih berpredikat pengangguran, tapi semua karena berkah ramadhan, saya mendapat kabar untuk membantu dosen walau hanya sampai bulan Desember saja.

September, Oktober dan November 2013
Awal September saya memulai status baru saya sebagai mahasiswa Pascasarjana di kampus yang sama dengan kampus dimana saya dulu mengambil program sarjana. Bertemu teman baru, kehidupan baru, dan tentunya saya harus membagi waktu antara mengajar, membantu dosen, dan belajar. Tidak mudah bagi saya membagi waktu, banyak sekali yang harus saya korbankan. Waktu luang dengan keluarga, misalnya. Tapi, waktu bersama keluarga menjadi sangat lebih berharga dari sebelumnya karena hal ini. Family is everything for me. 3 bulan itu saya jalani dengan hectic. 3 bulan itu juga saya mencoba mengadu nasib untuk memanfaatkan ijazah yang saya punya menjadi seorang calon abdi negara.

Desember 2013
Pengumuman sebagai calon abdi negara sudah keluar, Alhamdulillah saya lolos sebagai calon abdi negara. Dengan resiko yang tidak kecil, saya harus bersedia ditempatkan di luar pulau jika saya lulus sebagai cadangan. Keluarga mendukung, sahabat, guru dan teman mendukung saya untuk mengambil keputusan itu, hingga akhirnya saya menandatangani sebuah surat penyataan bermaterai bahwa jika saya lulus sebagai peserta cadangan, saya bersedia ditempatkan di luar daerah Jakarta. Saya dan keluarga begitu menaruh harapan besar terhadap keputusan itu, istilahnya "tinggal nunggu penempatan, keterima sih udah. Wong udah ttd materai." Mungkin karena saya dan keluarga warga yang awam akan hukum, tanggal 24 Desember lalu saya membuka pengumuman akhir, saya lulus seleksi calon abdi negara sebagai cadangan, saya harus siap ditempatkan di luar daerah, meninggalkan studi, keluarga, sahabat dan teman.

Tuhan berkata lain, surat bermaterai yang saya pikir memiliki kekuatan hukum yang cukup, ternyata tidak berarti apa-apa. Mereka bilang keputusan surat itu dianulir dengan berbagai alasan yang sampai saat ini saya kurang paham betul. Saling melempar bola panas, lempar kesalahan, yang pada ujungnya saya merasa bahwa hak saya sebagai warga negara sudah diinjak-injak. Geram, kecewa, sedih, itu sudah pasti. Hak saya yang sudah dinyatakan 100% lulus seleksi calon abdi negara ternyata tidak cukup bisa mengantarkan saya ke gerbang yang mungkin orang tua saya akan sangat bangga.

Tanpa berpikir panjang, saya mengambil keputusan untuk tidak memproses hal ini ke jalur hukum. Biar saja mereka yang menyia-nyiakan hak saya dan 25 orang yang senasib dengan saya yang menanggungnya. Jika Tuhan tidak mengijinkan saya untuk jauh dari orang tua, maka inilah kejadiannya. Mungkin Tuhan menghendaki saya untuk selalu berada di dekat orang tua, menyelesaikan studi, dan mempersiapkan jalan yang lebih baik dari kemarin.

Semoga tahun 2013 ini barokah, dan 2014 akan lebih barokah. Aamiin

Ira Arini

Ditulis pada tanggal 31 Desember 2013, pukul 15.15 WIB