Saya terlahir dari keluarga
sederhana, tidak kekurangan, juga tidak berlebihan dalam segi materi.
Ibu saya seorang guru Sekolah Dasar biasa asli Banten, Ayah saya asli
Jawa Timur, tepatnya di Kabupaten Jombang. Dari Jombang, Ayah saya
berkelana mencari secercah cahaya untuk memperbaiki nasib. Berasal dari
keluarga yang kurang mampu dan berbekal ijazah, Tuhan menuntun ayah saya
tiba di pelosok perkampungan di daerah Banten, menjadi seorang guru di
Yayasan pendidikan yang baru saja dibangun. Ayah saya tidak punya tempat
tinggal, akhirnya ditawari tinggal di rumah Pak RT di kampung tersebut,
yang tak lain adalah rumah Kakek saya.
Rupa Ayah saya tidak jelek, bahkan mungkin kalau jaman sekarang bisa dibilang "kece" dan banyak ditaksir oleh beberapa gadis di kampung itu, termasuk Ibu saya. Akhirnya, mungkin Ibu adalah jodoh Ayah saya, mereka menikah tahun 1989 dengan modal nekat. Nekat karena belum punya pekerjaan tetap, nekat karena Ibu saya masih punya 4 orang adik perempuan yang harus dibantu biaya pendidikannya. Mengapa harus dibantu? Karena kakek saya hanya seorang petani sekaligus penjaga sekolah. Sekalipun kakek saya seorang abdi negara dan mempunyai gaji tetap, rasanya tidak bisa mencukupi kebutuhan keenam anak dan seorang istri baginya.
Selain mengajar di Yayasan Pendidikan, Ayah dan Ibu saya rajin sekali bertani, semua demi mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. Setelah 2 tahun lamanya menikah, Ayah dan Ibu baru dikaruniai seorang putri kecil bernama Ira Arini. Itu saya. Setelah saya lahir, Ibu saya diangkat menjadi abdi negara, karena beliau lulusan SPG (Sekolah Pendidikan Guru) setara dengan Sekolah Menengah Akhir (SMA). Saat itu, SPG akan ditutup oleh pemerintah dan hampir semua lulusannya diangkat menjadi abdi negara dengan jabatan fungsional sebagai guru. Namun, karena saat itu sistem pemerintahan bersifat otonomi daerah, Ayah saya yang juga sebagai alumni SPG tidak bisa di angkat sebagai abdi negara seperti Ibu karena Ayah berasal dari daerah luar.
Mungkin saat itu, Ayah saya amat sangat kecewa dan mempunyai beban moral yang amat sangat berat. Yang seharusnya menjadi hak Ayah saya, karena beberapa peraturan yang harus dipatuhi, beliau harus mengalah dan tidak kembali ke Jombang dan tetap di Banten bersama istri dan anaknya dengan predikat sebagai "suami dari seorang abdi negara". Entah memang karena masalah ini atau karena memang takdir Tuhan, Ayah jatuh sakit tidak lama setelah Ibu Prajabatan.
1 bulan lamanya Ayah harus menjalani pengobatan di rumah sakit. Saat itu yang menunggu hanya Ibu dan Kakek saya. Adik-adik Ibu masih sangat kecil, harus sekolah. Nenek saya mengurusi anak-anaknya, yang memungkinkan bisa terus stand by adalah Ibu dan Kakek saya saja. Itupun pagi-pagi Ayah ditinggal karena harus bekerja sampai siang. Betapa berat perjuangan Ibu dan Kakek saya, Tuhan amat sangat memberi kekuatan kepada mereka saat itu.
Semenjak itu, Ayah terus sakit-sakitan, hingga pada saya berumur 2 tahun, Ayah dipanggil Tuhan. Katanya, sebelum pergi, Ayah minta Ibu untuk memeluknya dengan erat, berpesan untuk tidak terlalu keras mendidik saya, menjaga saya, membesarkan saya, serta menuntun saya untuk menjadi anak solehah yang selalu mendoakan orang tuanya. Saya sendiri lupa dengan rupa Ayah saya. Maklum saja, usia saya masih terlalu dini untuk dapat mengingat hal itu.
Seperginya Ayah, Ibu harus menjadi seorang single parent untuk satu putrinya, saya. Ayah saya tahu, Ibu itu berwatak keras, makanya sebelum beliau meninggal selalu berkata jangan terlalu keras sama anak dan menitipkan saya kepada semua anggota keluarga jika nanti Ibu mendidik saya terlalu keras. Ibu mendidik saya dengan baik, walaupun kadang agak tempramental. Saya yang sudah berumur 6 tahun masih saja ngompol di kasur, sangat tidak berani membuka mata karena tahu pasti ibu akan memarahi saya dengan hebat. Selayaknya anak-anak, saya juga banyak melakukan kenakalan. Misalnya, ingin pergi renang bersama teman-teman, tapi Ibu tidak mengijinkan. Hasilnya, saya renang di bak air kamar mandi dan ketahuan Ibu. Saat itu Ibu menangis karena kelakuan saya yang amat sangat bodoh, sambil mencubit dan memukul saya pakai sapu. Saya merasa Ibu benci saya, tidak sayang saya, tapi sekarang tidak lagi merasa seperti itu. Ibu amat sayang sama saya, cinta sama saya.
Seorang single parent yang kuat, keras, berkarakter, itulah yang mungkin dapat saya gambarkan mengenai Ibu saya saat itu. Semua kekerasan yang pernah saya alami, bukan karena Ibu benci saya, tapi karena Ibu sayang saya, serta beberapa faktor psikologis yang mungkin menjadikan Ibu bertindak seperti itu. Tidak sedikit laki-laki yang mencoba mendekati Ibu, dari mulai yang masih single, beristri, sampai single berpaket. Saat itu, saya amat sangat tidak menyukai lelaki manapun yang mendekati Ibu. Alasannya, saya takut Ibu saya diambil oleh mereka, lalu saya dibuang begitu saja. Hahahaa.. Konyol memang.
8 tahun lamanya Ibu membesarkan saya seorang diri. Hinggal akhirnya, ada seorang lelaki single, sekampung dengan Ibu mulai mendekati. Saat itu ada acara pernikahan sanak saudara, Ibu dan lelaki itu berteman dari kecil, namun baru bertemu lagi setelah 6 tahun lamanya. Entah mengapa, saya tidak menggalaki lelaki itu, saya mau saja digendong dan dibelikan ini itu oleh beliau. Tidak mudah bagi Ibu untuk memberikan pengertian kepada saya untuk menerima lelaki itu menjadi orang baru dalam keluarga kecil kami. Hingga akhirnya saya menyetujui untuk mempunyai Ayah kembali pada kelas 5 SD.
Ayah, begitu panggilan saya terhadap lelaki baru yang masuk di keluarga kecil kami. Beliau begitu baik, baiknya sudah melebihi kebaikan seorang Ayah kandung pada umumnya. Kelas 6 SD, keluarga kami dikaruniai seorang anak perempuan, saya sangat senang sekali. Mempunyai seorang adik perempuan dan harus rela kasih sayang orang tua dibagi tidaklah mudah. Kadang saya cemburu karena hal kecil itu, namun seiring bertambahnya usia, saya sadar akan hal itu. Tidak semua orang seberuntung saya.
Kami berempat sangat bahagia, selalu berusaha menjadi hamba Tuhan yang taat, berusaha memperbaiki perekonomian keluarga bersama, berusaha mengejar cita-cita bersama, serta berusaha menjadi warga negara yang lebih mendahulukan kewajiban daripada haknya. Jika saja ada lomba keluarga paling harmonis, mungkin keluarga saya juaranya. Semoga Tuhan selalu memberkahi keluarga kami sampai ajal menjemput. Aamiin.
Ira Arini
Rupa Ayah saya tidak jelek, bahkan mungkin kalau jaman sekarang bisa dibilang "kece" dan banyak ditaksir oleh beberapa gadis di kampung itu, termasuk Ibu saya. Akhirnya, mungkin Ibu adalah jodoh Ayah saya, mereka menikah tahun 1989 dengan modal nekat. Nekat karena belum punya pekerjaan tetap, nekat karena Ibu saya masih punya 4 orang adik perempuan yang harus dibantu biaya pendidikannya. Mengapa harus dibantu? Karena kakek saya hanya seorang petani sekaligus penjaga sekolah. Sekalipun kakek saya seorang abdi negara dan mempunyai gaji tetap, rasanya tidak bisa mencukupi kebutuhan keenam anak dan seorang istri baginya.
Selain mengajar di Yayasan Pendidikan, Ayah dan Ibu saya rajin sekali bertani, semua demi mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. Setelah 2 tahun lamanya menikah, Ayah dan Ibu baru dikaruniai seorang putri kecil bernama Ira Arini. Itu saya. Setelah saya lahir, Ibu saya diangkat menjadi abdi negara, karena beliau lulusan SPG (Sekolah Pendidikan Guru) setara dengan Sekolah Menengah Akhir (SMA). Saat itu, SPG akan ditutup oleh pemerintah dan hampir semua lulusannya diangkat menjadi abdi negara dengan jabatan fungsional sebagai guru. Namun, karena saat itu sistem pemerintahan bersifat otonomi daerah, Ayah saya yang juga sebagai alumni SPG tidak bisa di angkat sebagai abdi negara seperti Ibu karena Ayah berasal dari daerah luar.
Mungkin saat itu, Ayah saya amat sangat kecewa dan mempunyai beban moral yang amat sangat berat. Yang seharusnya menjadi hak Ayah saya, karena beberapa peraturan yang harus dipatuhi, beliau harus mengalah dan tidak kembali ke Jombang dan tetap di Banten bersama istri dan anaknya dengan predikat sebagai "suami dari seorang abdi negara". Entah memang karena masalah ini atau karena memang takdir Tuhan, Ayah jatuh sakit tidak lama setelah Ibu Prajabatan.
1 bulan lamanya Ayah harus menjalani pengobatan di rumah sakit. Saat itu yang menunggu hanya Ibu dan Kakek saya. Adik-adik Ibu masih sangat kecil, harus sekolah. Nenek saya mengurusi anak-anaknya, yang memungkinkan bisa terus stand by adalah Ibu dan Kakek saya saja. Itupun pagi-pagi Ayah ditinggal karena harus bekerja sampai siang. Betapa berat perjuangan Ibu dan Kakek saya, Tuhan amat sangat memberi kekuatan kepada mereka saat itu.
Semenjak itu, Ayah terus sakit-sakitan, hingga pada saya berumur 2 tahun, Ayah dipanggil Tuhan. Katanya, sebelum pergi, Ayah minta Ibu untuk memeluknya dengan erat, berpesan untuk tidak terlalu keras mendidik saya, menjaga saya, membesarkan saya, serta menuntun saya untuk menjadi anak solehah yang selalu mendoakan orang tuanya. Saya sendiri lupa dengan rupa Ayah saya. Maklum saja, usia saya masih terlalu dini untuk dapat mengingat hal itu.
Seperginya Ayah, Ibu harus menjadi seorang single parent untuk satu putrinya, saya. Ayah saya tahu, Ibu itu berwatak keras, makanya sebelum beliau meninggal selalu berkata jangan terlalu keras sama anak dan menitipkan saya kepada semua anggota keluarga jika nanti Ibu mendidik saya terlalu keras. Ibu mendidik saya dengan baik, walaupun kadang agak tempramental. Saya yang sudah berumur 6 tahun masih saja ngompol di kasur, sangat tidak berani membuka mata karena tahu pasti ibu akan memarahi saya dengan hebat. Selayaknya anak-anak, saya juga banyak melakukan kenakalan. Misalnya, ingin pergi renang bersama teman-teman, tapi Ibu tidak mengijinkan. Hasilnya, saya renang di bak air kamar mandi dan ketahuan Ibu. Saat itu Ibu menangis karena kelakuan saya yang amat sangat bodoh, sambil mencubit dan memukul saya pakai sapu. Saya merasa Ibu benci saya, tidak sayang saya, tapi sekarang tidak lagi merasa seperti itu. Ibu amat sayang sama saya, cinta sama saya.
Seorang single parent yang kuat, keras, berkarakter, itulah yang mungkin dapat saya gambarkan mengenai Ibu saya saat itu. Semua kekerasan yang pernah saya alami, bukan karena Ibu benci saya, tapi karena Ibu sayang saya, serta beberapa faktor psikologis yang mungkin menjadikan Ibu bertindak seperti itu. Tidak sedikit laki-laki yang mencoba mendekati Ibu, dari mulai yang masih single, beristri, sampai single berpaket. Saat itu, saya amat sangat tidak menyukai lelaki manapun yang mendekati Ibu. Alasannya, saya takut Ibu saya diambil oleh mereka, lalu saya dibuang begitu saja. Hahahaa.. Konyol memang.
8 tahun lamanya Ibu membesarkan saya seorang diri. Hinggal akhirnya, ada seorang lelaki single, sekampung dengan Ibu mulai mendekati. Saat itu ada acara pernikahan sanak saudara, Ibu dan lelaki itu berteman dari kecil, namun baru bertemu lagi setelah 6 tahun lamanya. Entah mengapa, saya tidak menggalaki lelaki itu, saya mau saja digendong dan dibelikan ini itu oleh beliau. Tidak mudah bagi Ibu untuk memberikan pengertian kepada saya untuk menerima lelaki itu menjadi orang baru dalam keluarga kecil kami. Hingga akhirnya saya menyetujui untuk mempunyai Ayah kembali pada kelas 5 SD.
Ayah, begitu panggilan saya terhadap lelaki baru yang masuk di keluarga kecil kami. Beliau begitu baik, baiknya sudah melebihi kebaikan seorang Ayah kandung pada umumnya. Kelas 6 SD, keluarga kami dikaruniai seorang anak perempuan, saya sangat senang sekali. Mempunyai seorang adik perempuan dan harus rela kasih sayang orang tua dibagi tidaklah mudah. Kadang saya cemburu karena hal kecil itu, namun seiring bertambahnya usia, saya sadar akan hal itu. Tidak semua orang seberuntung saya.
Kami berempat sangat bahagia, selalu berusaha menjadi hamba Tuhan yang taat, berusaha memperbaiki perekonomian keluarga bersama, berusaha mengejar cita-cita bersama, serta berusaha menjadi warga negara yang lebih mendahulukan kewajiban daripada haknya. Jika saja ada lomba keluarga paling harmonis, mungkin keluarga saya juaranya. Semoga Tuhan selalu memberkahi keluarga kami sampai ajal menjemput. Aamiin.
Ira Arini