Tulisan ini saya tulis pada tanggal 31 Desember 2013, pukul 15:15 tepatnya.
Sebenarnya ingin sekali menulis kaledioskop 2013 dari kemarin-kemarin, Alhamdulillah mumpung masih tanggal 31 Desember 2013, berarti masih ada kesempatan untuk menulis semua kejadian 2013 ini.
Januari 2013
Saya mendapat gelar sarjana dengan nilai sesuap nasi. Mengapa sesuap nasi? walaupun tidak terlalu membanggakan orang tua karena nilai yang hanya pas-pasan dan tidak sesuai target kelulusan (baca: kuliah 9 semester), tapi ibu saya tetap bangga pada putri sulungnya ini. Ibu tidak pernah mengucapkan itu, tapi saya lihat jelas di matanya (PeDe).
Februari 2013
Bulan yang paling ditunggu sepanjang tahun. Bulan bertambahnya umur, dan selalu banyak sekali kejutan. Tepat pada tanggal 23 Februari 2013 lalu, saya genap berusia 22 tahun. Masih muda jika dibandingkan dengan usia Ibu dan Ayah, dan sudah tua jika dibandingkan dengan usia adik sendiri. Pada hari itu, semua keluarga berkumpul dan mengucapkan selamat ulang tahun, hanya tempatnya saja yang agak tidak nyaman. Ruang tunggu pasien ICU. Ya, Kakek tercinta sedang tidak sehat dan harus masuk ruang ICU pada hari ulang tahun saya, hingga kemudian beliau pergi 3 hari setelah hari itu tepatnya pada tanggal 26 Februari 2013. InsyaAllah kami semua ikhlas.
Maret 2013
Puncak dari segala kebahagiaan setelah 9 semester berjuang mengais ilmu. TOGA! Semua keluarga berkumpul, sahabat, teman, dan semua orang-orang terkasih menyempatkan diri untuk memberi selamat. Tapi setelah hari bahagia itu, saya tertegun, "abis wisuda mau ngapain lagi yaa?"
April, Mei 2013
Beristirahat cantik di rumah dengan lebel pengangguran. Bangun siang, pulsa masih minta ke Ibu, makan dan semua kehidupan masih ditanggung orang tua. Pengangguran berlabel ijazah sarjana memang tidak enak. Pernah mencoba melamar pekerjaan di perusahaan BUMN, tapi kalah telak karena tinggi badan tidak mumpuni.
Juni 2013
Dapat pekerjaan yang mengharuskan saya menjadi morning person. Berangkat gelap dan pulang juga gelap. Saya hanya kuat 1 bulan, sisanya saya menyerah. Bukan karena capek, namun ada alasan lainnya yang rasanya tidak etis saya jelaskan di sini.
Juli, Agustus 2013
Menjalani ramadhan pertama tanpa kakek tersayang. Berat tapi harus dijalani. Ditambah krisis kepercayaan diri karena masih berpredikat pengangguran, tapi semua karena berkah ramadhan, saya mendapat kabar untuk membantu dosen walau hanya sampai bulan Desember saja.
September, Oktober dan November 2013
Awal September saya memulai status baru saya sebagai mahasiswa Pascasarjana di kampus yang sama dengan kampus dimana saya dulu mengambil program sarjana. Bertemu teman baru, kehidupan baru, dan tentunya saya harus membagi waktu antara mengajar, membantu dosen, dan belajar. Tidak mudah bagi saya membagi waktu, banyak sekali yang harus saya korbankan. Waktu luang dengan keluarga, misalnya. Tapi, waktu bersama keluarga menjadi sangat lebih berharga dari sebelumnya karena hal ini. Family is everything for me. 3 bulan itu saya jalani dengan hectic. 3 bulan itu juga saya mencoba mengadu nasib untuk memanfaatkan ijazah yang saya punya menjadi seorang calon abdi negara.
Desember 2013
Pengumuman sebagai calon abdi negara sudah keluar, Alhamdulillah saya lolos sebagai calon abdi negara. Dengan resiko yang tidak kecil, saya harus bersedia ditempatkan di luar pulau jika saya lulus sebagai cadangan. Keluarga mendukung, sahabat, guru dan teman mendukung saya untuk mengambil keputusan itu, hingga akhirnya saya menandatangani sebuah surat penyataan bermaterai bahwa jika saya lulus sebagai peserta cadangan, saya bersedia ditempatkan di luar daerah Jakarta. Saya dan keluarga begitu menaruh harapan besar terhadap keputusan itu, istilahnya "tinggal nunggu penempatan, keterima sih udah. Wong udah ttd materai." Mungkin karena saya dan keluarga warga yang awam akan hukum, tanggal 24 Desember lalu saya membuka pengumuman akhir, saya lulus seleksi calon abdi negara sebagai cadangan, saya harus siap ditempatkan di luar daerah, meninggalkan studi, keluarga, sahabat dan teman.
Tuhan berkata lain, surat bermaterai yang saya pikir memiliki kekuatan hukum yang cukup, ternyata tidak berarti apa-apa. Mereka bilang keputusan surat itu dianulir dengan berbagai alasan yang sampai saat ini saya kurang paham betul. Saling melempar bola panas, lempar kesalahan, yang pada ujungnya saya merasa bahwa hak saya sebagai warga negara sudah diinjak-injak. Geram, kecewa, sedih, itu sudah pasti. Hak saya yang sudah dinyatakan 100% lulus seleksi calon abdi negara ternyata tidak cukup bisa mengantarkan saya ke gerbang yang mungkin orang tua saya akan sangat bangga.
Tanpa berpikir panjang, saya mengambil keputusan untuk tidak memproses hal ini ke jalur hukum. Biar saja mereka yang menyia-nyiakan hak saya dan 25 orang yang senasib dengan saya yang menanggungnya. Jika Tuhan tidak mengijinkan saya untuk jauh dari orang tua, maka inilah kejadiannya. Mungkin Tuhan menghendaki saya untuk selalu berada di dekat orang tua, menyelesaikan studi, dan mempersiapkan jalan yang lebih baik dari kemarin.
Semoga tahun 2013 ini barokah, dan 2014 akan lebih barokah. Aamiin
Ira Arini
Ditulis pada tanggal 31 Desember 2013, pukul 15.15 WIB
Sebenarnya ingin sekali menulis kaledioskop 2013 dari kemarin-kemarin, Alhamdulillah mumpung masih tanggal 31 Desember 2013, berarti masih ada kesempatan untuk menulis semua kejadian 2013 ini.
Januari 2013
Saya mendapat gelar sarjana dengan nilai sesuap nasi. Mengapa sesuap nasi? walaupun tidak terlalu membanggakan orang tua karena nilai yang hanya pas-pasan dan tidak sesuai target kelulusan (baca: kuliah 9 semester), tapi ibu saya tetap bangga pada putri sulungnya ini. Ibu tidak pernah mengucapkan itu, tapi saya lihat jelas di matanya (PeDe).
Februari 2013
Bulan yang paling ditunggu sepanjang tahun. Bulan bertambahnya umur, dan selalu banyak sekali kejutan. Tepat pada tanggal 23 Februari 2013 lalu, saya genap berusia 22 tahun. Masih muda jika dibandingkan dengan usia Ibu dan Ayah, dan sudah tua jika dibandingkan dengan usia adik sendiri. Pada hari itu, semua keluarga berkumpul dan mengucapkan selamat ulang tahun, hanya tempatnya saja yang agak tidak nyaman. Ruang tunggu pasien ICU. Ya, Kakek tercinta sedang tidak sehat dan harus masuk ruang ICU pada hari ulang tahun saya, hingga kemudian beliau pergi 3 hari setelah hari itu tepatnya pada tanggal 26 Februari 2013. InsyaAllah kami semua ikhlas.
Maret 2013
Puncak dari segala kebahagiaan setelah 9 semester berjuang mengais ilmu. TOGA! Semua keluarga berkumpul, sahabat, teman, dan semua orang-orang terkasih menyempatkan diri untuk memberi selamat. Tapi setelah hari bahagia itu, saya tertegun, "abis wisuda mau ngapain lagi yaa?"
April, Mei 2013
Beristirahat cantik di rumah dengan lebel pengangguran. Bangun siang, pulsa masih minta ke Ibu, makan dan semua kehidupan masih ditanggung orang tua. Pengangguran berlabel ijazah sarjana memang tidak enak. Pernah mencoba melamar pekerjaan di perusahaan BUMN, tapi kalah telak karena tinggi badan tidak mumpuni.
Juni 2013
Dapat pekerjaan yang mengharuskan saya menjadi morning person. Berangkat gelap dan pulang juga gelap. Saya hanya kuat 1 bulan, sisanya saya menyerah. Bukan karena capek, namun ada alasan lainnya yang rasanya tidak etis saya jelaskan di sini.
Juli, Agustus 2013
Menjalani ramadhan pertama tanpa kakek tersayang. Berat tapi harus dijalani. Ditambah krisis kepercayaan diri karena masih berpredikat pengangguran, tapi semua karena berkah ramadhan, saya mendapat kabar untuk membantu dosen walau hanya sampai bulan Desember saja.
September, Oktober dan November 2013
Awal September saya memulai status baru saya sebagai mahasiswa Pascasarjana di kampus yang sama dengan kampus dimana saya dulu mengambil program sarjana. Bertemu teman baru, kehidupan baru, dan tentunya saya harus membagi waktu antara mengajar, membantu dosen, dan belajar. Tidak mudah bagi saya membagi waktu, banyak sekali yang harus saya korbankan. Waktu luang dengan keluarga, misalnya. Tapi, waktu bersama keluarga menjadi sangat lebih berharga dari sebelumnya karena hal ini. Family is everything for me. 3 bulan itu saya jalani dengan hectic. 3 bulan itu juga saya mencoba mengadu nasib untuk memanfaatkan ijazah yang saya punya menjadi seorang calon abdi negara.
Desember 2013
Pengumuman sebagai calon abdi negara sudah keluar, Alhamdulillah saya lolos sebagai calon abdi negara. Dengan resiko yang tidak kecil, saya harus bersedia ditempatkan di luar pulau jika saya lulus sebagai cadangan. Keluarga mendukung, sahabat, guru dan teman mendukung saya untuk mengambil keputusan itu, hingga akhirnya saya menandatangani sebuah surat penyataan bermaterai bahwa jika saya lulus sebagai peserta cadangan, saya bersedia ditempatkan di luar daerah Jakarta. Saya dan keluarga begitu menaruh harapan besar terhadap keputusan itu, istilahnya "tinggal nunggu penempatan, keterima sih udah. Wong udah ttd materai." Mungkin karena saya dan keluarga warga yang awam akan hukum, tanggal 24 Desember lalu saya membuka pengumuman akhir, saya lulus seleksi calon abdi negara sebagai cadangan, saya harus siap ditempatkan di luar daerah, meninggalkan studi, keluarga, sahabat dan teman.
Tuhan berkata lain, surat bermaterai yang saya pikir memiliki kekuatan hukum yang cukup, ternyata tidak berarti apa-apa. Mereka bilang keputusan surat itu dianulir dengan berbagai alasan yang sampai saat ini saya kurang paham betul. Saling melempar bola panas, lempar kesalahan, yang pada ujungnya saya merasa bahwa hak saya sebagai warga negara sudah diinjak-injak. Geram, kecewa, sedih, itu sudah pasti. Hak saya yang sudah dinyatakan 100% lulus seleksi calon abdi negara ternyata tidak cukup bisa mengantarkan saya ke gerbang yang mungkin orang tua saya akan sangat bangga.
Tanpa berpikir panjang, saya mengambil keputusan untuk tidak memproses hal ini ke jalur hukum. Biar saja mereka yang menyia-nyiakan hak saya dan 25 orang yang senasib dengan saya yang menanggungnya. Jika Tuhan tidak mengijinkan saya untuk jauh dari orang tua, maka inilah kejadiannya. Mungkin Tuhan menghendaki saya untuk selalu berada di dekat orang tua, menyelesaikan studi, dan mempersiapkan jalan yang lebih baik dari kemarin.
Semoga tahun 2013 ini barokah, dan 2014 akan lebih barokah. Aamiin
Ira Arini
Ditulis pada tanggal 31 Desember 2013, pukul 15.15 WIB
Tidak ada komentar:
Posting Komentar