Teruntuk seseorang di masa depan saya...
Saya hanya seorang wanita yang mudah luluh pada pria yang rajin menjalani kewajiban kepada Tuhan. Itu saja. Jika memang kami melanjutkan perbicaraan-pembicaraan ringan dan ternyata sudah berlangsung 2 jam, maka akan membuat saya semakin luluh. Celakanya, jika pria itu bisa menenangkan saya ketika saya panik, maka saya akan jauh semakin luluh. Bencana dimulai jika pria itu selalu menjawab apa yang saya tanyakan dengan jawaban yang menurut saya tepat, kedalaman luluhnya hati saya semakin jauh.
Jatuh cinta memang semudah itu. Teringat 5 tahun lalu, begitu banyak kriteria yang saya sisipkan melalui doa kepada Tuhan. Sampai akhirnya sekarang, saya memprioritaskan doa di urutan terakhir setelah doa di urutan utama sudah saya capai semua. Alhamdulillah. Tidak banyak yang saya deskripsikan dalam doa urutan terakhir ini. Dari beberapa referensi yang saya baca, jika ingin meminta kepada Tuhan, harus dengan jelas dan detail. Awalnya, saya meminta dengan amat jelas, detail, dan terkesan sangat rumit.
Namun, saya masih percaya kepada Tuhan saya bahwa Dia pasti akan mengerti apa yang saya pinta.
Tuhan luar biasa menguji kesabaran saya mengenai doa prioritas terakhir saya pada batas usia maksimal 25 tahun ini. Perasaan saya yang mudah luluh ini dibuat seperti sedang menaiki roller coaster. Dinaikkan, lalu diturunkan, dibalik ke depan dan ke belakang. Entah apa yang sedang disiapkan olehNya, saya masih belum paham. Yang jelas, saya masih optimis bahwa Dia tahu yang terbaik, kapan waktunya, dengan siapa, dan bagaimana.
Beberapa membuat dada saya berdebar begitu hebat ketika hanya dengan mendengar suaranya saja, atau sekedar mendapat sapaan, Beberapa membuat ingin rasanya saya mengabdi sepenuhnya untuk surga Tuhan. Namun, saya lupa satu hal, perasaan luluh saya tidak akan cukup membuat saya bahagia. Saya lupa meminta kepada Tuhan agar perasaan yang saya miliki juga sama dengan perasaan pria itu.
Selasa, 04 Oktober 2016
Sabtu, 01 Oktober 2016
Kaya Raya
Beberapa bulan terakhir, saya disibukkan oleh pemikiran-pemikiran primitif bahwa tidak bekerja secara normal selayaknya orang kantoran lainnya akan jatuh miskin, tidak punya uang, tidak punya pergaulan, dijauhi banyak orang bahkan dicibir, dan lain hal yang sangat buruk untuk dipikirkan. Belakangan, saya keliru. Pilihan saya untuk tidak bekerja secara Office hour seperti kesibukkan saya satu tahun belakangan, memang sangatlah banyak pertimbangan. Bagaimana kedepannya, apakah nasib saya akan semujur teman-teman saya yang bekerja di kantoran, apakah saya akan memiliki uang untuk biaya hidup saya, apakah saya akan bahagia dengan pilihan yang saya ambil?
Terlalu banyak waktu luang yang saya miliki kala itu. Akhirnya saya memperluas imajinasi negatif ini sampai semenakutkan mungkin. Saya membuang jauh semangat positif yang selama ini coba saya tanamkan dalam kehidupan. Saya selalu berpikiran negatif kepada semua orang yang menatap saya, bahkan orang yang sedang saya pikirkan secara sepintaspun saya negatifkan. Sadar bahwa hal tersebut tidaklah akan membawa kebaikan dalam kehidupan dan masa depan saya, saya mencoba untuk membuang pemikiran itu jauh-jauh. Harus. Wajib.
Suatu hari di penghujung bulan Juli. Saya berkesempatan untuk berbincang dengan seorang dokter ahli kejiwaan yang mumpuni di bidangnya. Tentu, saya tidak akan melewatkan kesempatan ini sia-sia begitu saja. Namun, saya bingung, pertanyaan atau bahasan apa yang harus saya mulai untuk pembicaraan perdana kami. Kemudian, beliau melontarkan satu pertanyaan "Apa yang Anda lakukan 2 hari terakhir?".
"Saya diem aja, Dok di rumah karena sedang libur bekerja. Kalau gak libur ya kerja. Selama libur saya mengerjakan pekerjaan rumah biar gak bete &^I&()(*^1253712"
"Saya hanya bertanya, apa yang Anda lakukan 2 hari terakhir? Adakah hal yang Anda takutkan sampai jawabannya sangat panjang begini?"
"Iya, Dok. Saya di rumah saja. Karena sedang libur kerja dan merubah haluan gaya hidup, saya takut tidak bisa menikmati hidup."
"Memang, gaya hidup di Ibu kota dengan kota kelahiranmu ini berbeda sekali. Anda takut miskin, kan? Penghasilan Anda tidak sebanyak di Ibu kota, kan?"
Kemudian, saya menelan ludah, berusha menjelaskan sejelas-jelasnya keruitan kata yang akan saya ungkapkan dari pikiran saya. "Saya takut tidak punya uang, karena saya sudah tidak bekerja kantoran dan mendapatkan penghasilan tetap setiap bulannya." Ketika kalimat tersebut saya lontarkan kepada dokter kejiwaan saat saya berkonsultasi, beliau hanya tertawa.
Kemudian, beliau berkata "Nabi kita berpesan kepada umatnya bahwa orang yang paling miskin di dunia adalah orang yang takut miskin."
Saya termenung sejenak, ingin sekali menimpali kalimat dokter dengan ribuan kata. Saya sehat, saya punya orang tua yang luar biasa baik, dididik dengan penuh kasih sayang dan makna, punya saudara yang begitu peduli, punya guru-guru yang amat hebat, punya teman dan sahabat yang luar biasa menyenangkan. Maka, apa lagi yang saya takutkan? Apakah saya benar-benar miskin? Tentu tidak. Saya kaya raya, sangat kaya raya. Miskin hanya sebuah kata yang mengandung banyak arti. Jika kata itu berdiri sendiri, maka masih harus dilakukan beberapa penalaran. Jika dimaknai dengan harta duniawi, mungkin saya termasuk golongan orang miskin. Usia 25 tahun, tidak mempunyai tabungan yang melimpah, tidak memiliki aset rumah maupun kendaraan, tidak memiliki simpanan perhiasan yang seberapa, seperti idealnya seumuran saya.
Kemudian, saya menelisik atas segala yang telah saya capai sampai pada usia 25 tahun ini. Tidakkah saya bersyukur atas segala apa yang saya nikmati sekarang? Tidakkah harta dunia hanya titipan Tuhan. Ya, benar Sesungguhnya saya sangat kaya raya atas diri saya sendiri.
Langganan:
Komentar (Atom)