Sabtu, 01 Oktober 2016

Kaya Raya

Beberapa bulan terakhir, saya disibukkan oleh pemikiran-pemikiran primitif bahwa tidak bekerja secara normal selayaknya orang kantoran lainnya akan jatuh miskin, tidak punya uang, tidak punya pergaulan, dijauhi banyak orang bahkan dicibir, dan lain hal yang sangat buruk untuk dipikirkan. Belakangan, saya keliru. Pilihan saya untuk tidak bekerja secara Office hour seperti kesibukkan saya satu tahun belakangan, memang sangatlah banyak pertimbangan. Bagaimana kedepannya, apakah nasib saya akan semujur teman-teman saya yang bekerja di kantoran, apakah saya akan memiliki uang untuk biaya hidup saya, apakah saya akan bahagia dengan pilihan yang saya ambil?
Terlalu banyak waktu luang yang saya miliki kala itu. Akhirnya saya memperluas imajinasi negatif ini sampai semenakutkan mungkin. Saya membuang jauh semangat positif yang selama ini coba saya tanamkan dalam kehidupan. Saya selalu berpikiran negatif kepada semua orang yang menatap saya, bahkan orang yang sedang saya pikirkan secara sepintaspun saya negatifkan. Sadar bahwa hal tersebut tidaklah akan membawa kebaikan dalam kehidupan dan masa depan saya, saya mencoba untuk membuang pemikiran itu jauh-jauh. Harus. Wajib.
Suatu hari di penghujung bulan Juli. Saya berkesempatan untuk berbincang dengan seorang dokter ahli kejiwaan yang mumpuni di bidangnya. Tentu, saya tidak akan melewatkan kesempatan ini sia-sia begitu saja. Namun, saya bingung, pertanyaan atau bahasan apa yang harus saya mulai untuk pembicaraan perdana kami. Kemudian, beliau melontarkan satu pertanyaan "Apa yang Anda lakukan 2 hari terakhir?".
"Saya diem aja, Dok di rumah karena sedang libur bekerja. Kalau gak libur ya kerja. Selama libur saya mengerjakan pekerjaan rumah biar gak bete &^I&()(*^1253712"
"Saya hanya bertanya, apa yang Anda lakukan 2 hari terakhir? Adakah hal yang Anda takutkan sampai jawabannya sangat panjang begini?"
"Iya, Dok. Saya di rumah saja. Karena sedang libur kerja dan merubah haluan gaya hidup, saya takut tidak bisa menikmati hidup."
"Memang, gaya hidup di Ibu kota dengan kota kelahiranmu ini berbeda sekali. Anda takut miskin, kan? Penghasilan Anda tidak sebanyak di Ibu kota, kan?"
Kemudian, saya menelan ludah, berusha menjelaskan sejelas-jelasnya keruitan kata yang akan saya ungkapkan dari pikiran saya. "Saya takut tidak punya uang, karena saya sudah tidak bekerja kantoran dan mendapatkan penghasilan tetap setiap bulannya." Ketika kalimat tersebut saya lontarkan kepada dokter kejiwaan saat saya berkonsultasi, beliau hanya tertawa.
Kemudian, beliau berkata "Nabi kita berpesan kepada umatnya bahwa orang yang paling miskin di dunia adalah orang yang takut miskin."
Saya termenung sejenak, ingin sekali menimpali kalimat dokter dengan ribuan kata. Saya sehat, saya punya orang tua yang luar biasa baik, dididik dengan penuh kasih sayang dan makna, punya saudara yang begitu peduli, punya guru-guru yang amat hebat, punya teman dan sahabat yang luar biasa menyenangkan. Maka, apa lagi yang saya takutkan? Apakah saya benar-benar miskin? Tentu tidak. Saya kaya raya, sangat kaya raya. Miskin hanya sebuah kata yang mengandung banyak arti. Jika kata itu berdiri sendiri, maka masih harus dilakukan beberapa penalaran. Jika dimaknai dengan harta duniawi, mungkin saya termasuk golongan orang miskin. Usia 25 tahun, tidak mempunyai tabungan yang melimpah, tidak memiliki aset rumah maupun kendaraan, tidak memiliki simpanan perhiasan yang seberapa, seperti idealnya seumuran saya.
Kemudian, saya menelisik atas segala yang telah saya capai sampai pada usia 25 tahun ini. Tidakkah saya bersyukur atas segala apa yang saya nikmati sekarang? Tidakkah harta dunia hanya titipan Tuhan. Ya, benar Sesungguhnya saya sangat kaya raya atas diri saya sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar