Teruntuk seseorang di masa depan saya...
Saya hanya seorang wanita yang mudah luluh pada pria yang rajin menjalani kewajiban kepada Tuhan. Itu saja. Jika memang kami melanjutkan perbicaraan-pembicaraan ringan dan ternyata sudah berlangsung 2 jam, maka akan membuat saya semakin luluh. Celakanya, jika pria itu bisa menenangkan saya ketika saya panik, maka saya akan jauh semakin luluh. Bencana dimulai jika pria itu selalu menjawab apa yang saya tanyakan dengan jawaban yang menurut saya tepat, kedalaman luluhnya hati saya semakin jauh.
Jatuh cinta memang semudah itu. Teringat 5 tahun lalu, begitu banyak kriteria yang saya sisipkan melalui doa kepada Tuhan. Sampai akhirnya sekarang, saya memprioritaskan doa di urutan terakhir setelah doa di urutan utama sudah saya capai semua. Alhamdulillah. Tidak banyak yang saya deskripsikan dalam doa urutan terakhir ini. Dari beberapa referensi yang saya baca, jika ingin meminta kepada Tuhan, harus dengan jelas dan detail. Awalnya, saya meminta dengan amat jelas, detail, dan terkesan sangat rumit.
Namun, saya masih percaya kepada Tuhan saya bahwa Dia pasti akan mengerti apa yang saya pinta.
Tuhan luar biasa menguji kesabaran saya mengenai doa prioritas terakhir saya pada batas usia maksimal 25 tahun ini. Perasaan saya yang mudah luluh ini dibuat seperti sedang menaiki roller coaster. Dinaikkan, lalu diturunkan, dibalik ke depan dan ke belakang. Entah apa yang sedang disiapkan olehNya, saya masih belum paham. Yang jelas, saya masih optimis bahwa Dia tahu yang terbaik, kapan waktunya, dengan siapa, dan bagaimana.
Beberapa membuat dada saya berdebar begitu hebat ketika hanya dengan mendengar suaranya saja, atau sekedar mendapat sapaan, Beberapa membuat ingin rasanya saya mengabdi sepenuhnya untuk surga Tuhan. Namun, saya lupa satu hal, perasaan luluh saya tidak akan cukup membuat saya bahagia. Saya lupa meminta kepada Tuhan agar perasaan yang saya miliki juga sama dengan perasaan pria itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar