Teruntuk calon suamiku, Mas Wisnu...
Terpujilah segala kepintaran manusia yang Allah karuniakan, karena dengan adanya teknologi berupa internet, kami bisa berkenalan.
Dimulai pada tanggal 18 Januari 2017, Mas Wisnu, panggilan sayang yang biasa ucapkan, mulai menyapa saya. Dengan metode tarik ulur cantiknya, beliau menjadi salah satu pria yang tidak terlalu intens berkomunikasi dengan saya. Saat itu, saya masih dekat dengan laki-laki lain, karena seleksi itu perlu. Saat itu juga, Mas Wisnu tidak terlalu saya perhitungkan sebagai kandidat pria yang dekat dengan saya. Bayangkan saja, Mas Wisnu menghubungi saya 2 minggu sekali, kalau telepon paling 15 menit diakhiri dengan alasan ngantuk.
Sekalipun tidak pernah terlintas di pikiran saya untuk jauh lebih mengenal ataupun dekat dengan Mas Wisnu. Beberapa kali kami pernah sepakat untuk bertemu, beberapa kalo juga gagal karena yaaa Mas Wisnu yang cuek, dan saya menganggap kalau pria seperti itu gak minat untuk menjalin hubungan lebih dekat lagi. Secara ya usia kami sudah melewati seperempat abad, kalau hanya sekedar telepon dan komunikasi lucu, serasa membuang waktu.
Tanggal 17 April 2017, tepatnya hari senin jam 8.30, akhirnya kami memutuskan untuk bertemu di stasiun Rangkasbitung. Untuk pertemuan pertama, rasanya ini kurang romantis untuk diceritakan. Kami sepakat untuk mencoba menggunakan transportasi Commuter Line relasi Rangkasbitung - Tanah Abang karena pada 1 April 2017 baru beroperasi. Tujuan kami adalah stasiun Serpong, kemudian naik taksi online ke Teras Kota untuk menonton bioskop. Ya, sesederhana itu rencana kami untuk bertemu. Kami mengobrol sepanjang perjalanan, membicarakan hal-hal kecil yang membuat kami tidak sadar bahwa sebentar lagi kami tiba di tempat tujuan.
Pada pertemuan pertama kami, kesan saya biasa saja. Tidak terlalu berharap hubungan kami akan berlanjut, hanya sebatas pertemanan, menyambung silaturahmi sesama muslim. Tapi, ada cerita lucu setelah kami selesai nonton dan makan. Kami berencana pulang tapi ketinggalan kereta dan harus menunggu kereta 1 jam kemudian. Di sela-sela menunggu kereta, sambil killing time kami mencoba naik kereta ke palmerah. Setelah menunaikan kewajiban, kami duduk sebelahan di kursi tunggu lantai atas stasiun Palmerah. Mas Wisnu menyatakan ingin membina hubungan serius dengan saya, menawarkan apakah ingin menjadi pacarnya atau taarufannya. Sejenak saya bingung, ini laki-laki kok baru pertama ketemu udah ngajak serius aja? Kalau ngajak pacaran kesannya main-main, banyakin dosa. Kalau ngajak taaruf, ini sudah menyalahi taaruf, kami jalan berdua, kemudian nonton. Karena kami 4 bulan terakhir mengenal lewat chat dan telepon tapi jarang-jarang, saya sempat berpikir untuk menunda ajakan Mas Wisnu. Tapi, saya pikir lagi, seumur-umur jalan sama laki-laki, belum ada yang menjaga shalat dan sesopan Mas Wisnu. Jadi, pada saat itu juga saya mengiyakan tawaran Mas Wisnu. Entahlah itu namanya pacaran atau taaruf. Hehehehe
Setelah kami jalan seharian, Mas Wisnu masih cuek sama saya. Sampai saya berpikir, ini cowok ngajak serius tapi kok cuek. Apa cuma mainin perasaan saya saja ya? Tapi ada kemajuan sih, dari 2 minggu sekali ngajak ngobrol, ini 3 hari sekali. Hehehe...
Beberapa hari setelah pertemuan perdana kami, Mas Wisnu memberi kontak Mamanya dan meminta saya untuk memperkenalkan diri kepada Mamanya. Respon Mama Mas Wisnu sangat positif. 2 minggu kemudian kami bertemu kembali, tadinya mau dikenalkan ke keluarganya tapi pada saat itu keluarganya sedang ada di Solo.
Bulan Mei 2017, kebetulan saya ada urusan pekerjaan sambil liburan ke Solo. Allah maha baik, Mas Wisnu juga kebetulan sedang pulang ke Solo, bertemu dengan semua anggota keluarganya. Saya berkesempatan untuk bertemu keluarganya di Solo dan mendapat respon yang sangat positif. Karena deretan kejadian tersebut, saya mantapkan hati untuk fokus pada Mas Wisnu seorang. Tidak ada pria lain selain Mas Wisnu.
Setelah Lebaran Idul Fitri, Mas Wisnu dan keluarga pulang ke Cilegon dan ada beberapa perbincangan untuk lebih serius dalam hubungan kami. Ternyata tidak semulus yang dibayangkan, orang tua saya masih belum yakin kalau saya siap dengan hubungan kami. Rencana kami untuk lebih serius ke tahap selanjutnya masih harus ditunda dengan alasan saya yang belum siap untuk menjalin hubungan yang lebih serius. Ini ujian untuk saya, karena kasus-kasus kedekatan dengan laki-laki sebelumnya yang membuat orang tua saya ragu, bahwa saya sudah yakin dengan Mas Wisnu.
Pada tanggal 21 September 2017, Mas Wisnu dan keluarganya resmi melamar saya untuk menjadi istrinya. Entah apa yang saya rasakan, bahagia dan haru. Rasanya tidak percaya, ada pria dan keluarganya datang ke rumah, menyatakan keseriusannya dan meminta saya kepada orang tua saya untuk dijadikan seorang pendamping hidup.
Mas Wisnu, calon imamku...
Mengapa saya memilih Mas Wisnu? Karena saya yakin, Mas Wisnu adalah pria yang baik, yang sabar, yang menjaga Shalat 5 waktunya, yang mau sama saya yang aneh ini, yang memiliki keluarga harmonis, yang berasal dari keturunan baik-baik, yang selalu mensupport saya saat saya kendor semangatnya, yang selalu memuji saya saat saya tidak dandan tanpa alis dan lipstik, yang selalu angkat telepon saya saat saya terbangun tengah malam dan tidak bisa tidur, yang tidak henti mengucapkan kata cinta untuk saya setiap harinya dan semoga selamanya, yang selalu memuji masakan saya yang hanya mie telor saja, yang selalu saya omeli karena kamu bawakan helm dengan kaca yang kendor, yang selalu mengiyakan apa yang saya pinta, yang selalu menghapus air mata saya saat saya menangis.
Semoga selalu dan akan seperti itu, Mas.
I Love you
mas wisnu & ceu ira, semoga jodoh dunia akhirat aamiin
BalasHapus