6 bulan sudah menjalani keseharian yang itu-itu saja. Awal minggu bangun pagi-pagi buta, itupun dibangunkan oleh suara alarm yang tak pernah mengingkari janjinya. Ya, alarm yang tak pernah ingkar janji kepada pemiliknya. Mungkin kita sebagai manusia harus mengikuti contoh kesetiaan yang dimiliki alarm. Terkadang, sebelum alarm itu berbunyi, suara seorang wanita paruh baya di luar kamar sering sekali terdengar. Iya, beliau ibu saya. Ibu yang amat sangat hebat, ibu paling hebat yang ada dunia ini membangunkan putri sulungnya untuk pergi mengais ilmu dan menuntut rejeki (agak terbalik). Pergi ke ibukota negara yang mungkin sudah tak layak untuk ditinggali, tak layak untuk menjadi destinasi para petualang, Jakarta.
Setiap hari senin, dari pagi sampai sore, selalu duduk manis di gedung Aldevco octagon lantai 4, mahasiswa magang bagian Product Manajemen yang tinggal sendiri, duduk di sudut ruangan, itulah saya. Jika pukul 14.00 WIB tiba, dengan cepat saya pergi meninggalkan kantor menuju kampus, kuliah. Mahasiswa semester 8 kok masih kuliah? Yaaa, sekedar mengisi SKS yang kosong dan mengisi kekosongan saja, makanya kuliah. Kuliah sampai pukul 17.00 WIB, pulang ke kostan, atau sekedar bersantai sore sampai malam di McD Arion Mall dekat kostan.
Hari berikutnya, selasa sampai dengan jumat, bangun setiap pagi. Lagi, lagi dan lagi, mengandalkan alarm. Dia yang tak pernah ingkar janji membangunkan untuk beribadah kepada Tuhan sebelum matahari terbit dan mempermalukan hamba Tuhan yang masih saja terjaga.Alarm amat sangat berjasa untuk itu, mungkin dia tidak akan dibutuhkan lagi ketika sudah ada pasangan yang membangunkan (alamak curcol). Pergi ke kantor pada saat waktu Dhuha, dan pulang ke kostan ba'da Ashar. Terkadang, terselip kata "ingin mengejar target skripsi" yang sudah dari jauh hari tersetting di alarm. Itu semua dilakukan di sela-sela kesibukan magang loh. Jika hari jumat telah tiba, perasaan senang tak bisa disembunyikan dari mata yang harus terbungkus oleh lensa kacamata minus 3 ini. Senang bisa pulang kembali, senang bisa melihat senyum ibu, senang bisa ikut tawa canda dalam indahnya kekeluargaan.
Weekend di rumah? Terkadang pergi melepas penat bersama sahabat, terkadang hanya menghabiskan waktu untuk tidur dan beristirahat di rumah.
Sekali lagi, terima kasih pada alarm yang sudah memberikan kesetiaan kepada pemiliknya. Tanpa settingan pemilkmu, kamu tak akan pernah bisa disebut alarm. Apalah guna alarm jika dia tak bisa berbunyi dan mengingatkan pemiliknya.Lalu bagaimana dengan nasib skripsi yang masih saja jalan di tempat dengan kerangka berpikir dan penelitian yang relavan? Entahlah.Saya jadi merasa bukan orang yang setia setelah merenungkan hal ini.
Jika kamu mempunyai alarm, perlakukanlah dia dengan setia. Sesetia dia kepada pemiliknya. Seandainya kesetiaan alarmmu masih teruji dengan baik namun kamu masih melalaikannya tanpa aksi apapun, berarti kamu tidak setia pada alarmmu. Tidak setia pada janji yang sudah kamu sepakati dengan alarmmu. Tidak setia pada diri sendiri.
Aturlah waktumu dengan baik dan benar, agar semua target dalam dalam hidupmu tercapai. Walaupun tidak tepat waktu, minimal meleset sedikit lah, jangan kebanyakan. Namanya juga belajar.
Ira Arini

Tidak ada komentar:
Posting Komentar