Selasa, 25 Juni 2013

Cocok sih... Tapi....

Cocok sih... Tapi dia pacarnya sahabat sendiri.
Cocol sih... Tapi dia kakaknya gebetan sendiri.
Cocok sih... Tapi dia... dan sebagainya dan sebagainya.
Yaah, asal jangan "Cocok sih... Tapi dia cewek." yaa itumah sahabat sendiri kali.

Ungkapan di atas memang kadang jadi skandal hati tersendiri (kecuali ungkapan yang terakhir). Kadang memang kecocokan itu tidak diduga dan tidak dinyana. Datang begitu saja. Mencari yang lebih baik diantara yang baik-baik, tapi bukan yang terbaik. Karena yang terbaik hanya milik Tuhan #terbundadorce.

Ini pertama kalinya menulis mengenai hati dan perasaan, selebihnya hanya pengalaman pribadi saja. Bukan bualan, bukan fiktif belaka. Hanya menulis apa yang sedang dirasakan.

Pokoknya seminggu ini pengennya protes terus sama pemerintah. Diantaranya: turunkan harga BBM jadi Rp 4.500,- lagi, hapuskan "friendzone" dari muka bumi ini, dan tentunya cocokin hati sama yang bukan pacarnya sahabat atau kakaknya gebetan.

Sekian dan pinang aku dengan Bismillah sekarang juga.

Ira Arini

Kamis, 13 Juni 2013

I'm Not Morning Person


Siang...


Saat nulis blog ini, sedang mendengarkan khutbah Jumat di sekolah. Ya, di sekolah tempat saya bekerja. Ya, alhamdulillah sekarang saya sudah bekerja, sudah mengurangi 1 angka pengangguran di muka bumi ini, sudah mulai naik kelas satu tingkat dari masa kuliah, namun masih saja meminta uang makan sama orang tua, dikarenakan gajiannya bulan depan. muahehehehee...

Almost everyday, I wake up in every 5 o'clock, karena masuk sekolah pukul 6:30 WIB. Lokasi tempat kerja yang lumayan jauh dari kostan (kurang lebih 1 jam perjalanan) memaksa saya untuk bangun jam segitu, berangkat jam segitu. Setiap hari...

I'm not morning person, actually. But I try so hard to be a morning person. Lebih dari 12 jam berada di luar lingkar kamar-kasur-guling memang agak tidak manusiawi. Rasa kantuk yang luar biasa emang kadang bikin kerja jadi males. Bisa gak tidur 15 menit lagi, 5 menit lagi, atau 1 meniiit lagi? Tapi inilah hidup, inilah Jakarta, keras brooo....

Mungkin masa leha-leha 2 bulan gak ngapa-ngapain di rumah sudah berakhir, masa main-main ke sana ke mari sama temen-temen juga berakhir. Tapi masa belajar? oooh tentu tidak. Prinsip belajar sepanjang hayat sudah pasti akan saya terapkan terus-menerus. Selama bekerja di sini, yang saya keluhkan adalah jarak dan waktu. Jarak yang mungkin tidak terlalu jauh namun amat sangat memakan waktu. Ya, karena macet.

Pernah saya menangis, hampir menyerah karena macet Jakarta yang amat sangat menyebalkan. Namun, ketika ingat beberapa hal, saya tersenyum sendiri. Seakan menertawakan diri sendiri, air mata itupun tak jadi jatuh. Saya ganti dengan senyum kecil di kedua ujung bibir saya.

Mengapa saya harus mengeluh akan pekerjaan saya? Toh teman-teman seangkatan dan sejurusan dengan saya sedang berjuang mati-matian untuk skripsinya.

Mengapa saya masih saja merindukan orang tua padahal baru 2 minggu tidak pulang? Karena saya butuh mereka. Pertama, soal kaget karena sebelumnya setiap hari bertemu, ini 2 minggu gak ketemu. Kedua karena finansial. hehee #teteup

Mengapa saya tidak mencari tempat tinggal yang lebih dekat dengan tempat kerja? karena saya kurang nyaman dengan lingkungannya. Lebih nyaman dengan lingkungan kampus yang dulu. Toh bulan September saya akan bersekolah lagi di kampus yang sama. Yaa sekalian numpang juga. hehehee

Blog ini, walaupun jarang diisi, walaupun baru 2 tahun saya melahirkannya, tapi setidaknya menjadi saksi hidup saya selama 2 tahun ini. Selama 2 tahun juga saya tidak pernah sesering ini untuk bangun pagi, because I'm not morning person. Terima kasih...

Ira Arini

Jumat, 07 Juni 2013

Proudly Present


Good afternoon.


Sekali-kali nyoba nulis fiksi. Kali ini mencoba menyesuaikan dengan background ilmu yang telah saya pelajari 5 tahun terakhir. Iya, mengenai kurikulum.

As we known, kurikulum 2013 ini lagi heits banget di ranah pendidikan. Seantero Indonesia heboh dibuatnya. Bedanya apa sama KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan)? Kok ganti-ganti terus yah kurikulumnya? Ini dia review saya mengenai perbedaan KTSP dengan Kurikulum 2013.

  • Tujuan pendidikan KTSP mengacu pada UU No 20 th 2003. Tujuan pendidikan Kurikulum 2013 mengacu pada UU No 17 Th 2010.
  • KTSP berbasis mata pelajaran, jadi tiap-tiap mata pelajarannya dipisah. Kurikulum 2013 berbasis tematik, tiap-tiap mata pelajaran diintegrasikan ke dalam satu tema yang menjadi acuan atau bahan ajar.
  • Pada KTSP ada Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar ditentukan o/ pemerintah, smntara Indikator oleh tiap-tiap satuan pendidikan. Pada kurikulum 2013 digunakan Kompetensi Isi (KI) berbasis tematik, sehingga dalam tiap-tiap pelajaran diintegrasikan dengan satu tema.
  • Silabus KTSP dibuat oleh masing-masing satuan pendidikan, sedangka kurukulum 2013 dibuat oleh pusat untuk seluruh Indonesia.
  • Penilaian KTSP berfokus pada output, sedangkan kurikulum 2013 berfokus pada proses dan output.
  • Pengelolaan kurikulum KTSP oleh satuan pendidikan, sedangkan pengelolaan kurikulum 2013 oleh pemerintah pusat dan daerah.
Itu tadi perbedaan antara KTSP dengan Kurikulum 2013. Tadi itu versi saya yah, jika ada yang kurang-kurang atau berlebihan mohon kritikannya. This is the first time for me, nulis beginian di blog. Thanks for your kind.


You can also read article about KTSP vs Kurikulum 2013

Ira Arini (baru lulus jadi sarjana Kurikulum dan Teknologi Pendidikan)

Minggu, 02 Juni 2013

Everyone Enjoy His/Her "Pengangguran" Period

"Setelah lulus kuliah mau ngapain?" I think, this is one of a lot of common questions. Pasti jawabannya mau kerja. Pasti banget!

Tadinya sih, mau antimainstream dengan menjawab selain yang di atas tadi. Sekitar 2 bulan diam di rumah, membantu pekerjaan rumah karena tidak ada PRT, membantu usaha orang tua, sambil merenungkan diri mau apa dan bagaimana kehidupan setelah lulus kuliah ini.

Tapi kalau dipikir lebih jernih lagi, dengan ijazah strata 1 yang saya peroleh, apakah setara dengan pekerjaan yang saya lakukan sekarang? Yaa membantu orang tua memang kewajiban. Kebanyakan kata tapi, ya tapi jika saya begini terus, ilmu yang saya dapatkan akan berkarat, bahkan keropos dan akan hilang dengan sendirinya.

Melihat teman-teman yang lain sudah bekerja, bukan tidak dipungkiri saya juga iri. Yaa bagaimana lagi. Hidup ini pilihan. Ini pilihan saya, walaupun banyak yang mencibir. Toh ujungnya saya yang merasakan. Toh orang tua saya merestui atas langkah besar yang saya ambil ini. Semoga ini keputusan terbaik.

Eeiiittts. Saya bisa dibilang pengangguran ya. Bisa juga dibilang sedang merenungi diri sendiri, memahami makna hidup. Doakan saja masa ini lekas berakhir. Semoga...

Aamiin :)

Ira
Ditulis pada tanggal 26 Mei 2013, pukul 23:44 WIB

Inikah Bagian dari Usaha?

Sering orang bilang, inspirasi itu datang biasanya tengah malam begini, atau waktu subuh, saat otak masih segar untuk digunakan menuangkan ide.

Sebenarnya ini bukan ide, tapi sedang ingin share pengalaman saja.

Alhamdulillah sudah mendapat gelar Sarjana bulan Maret lalu. Langkah selanjutnya ya mencari kerja. Kebetulan, kampus yang telah memberikan ilmu di jenjang Strata 1 tidak menyalurkan mahasiswanya untuk bekerja pada lembaga tertentu (ikatan dinas). Kalaupun iya, mungkin itu berlaku bagi mahasiswa berprestasi, bukan untuk saya yang hanya seonggok mahasiswa kupu-kupu (kuliah pulang-kuliah pulang). Nilaipun pas-pasan. Alhamdulillah bisa lulus.

Setelah wisuda, terasa sekali banyak pertanyaan yang menjadi beban. Selain karena sudah tidak menjadi anak kost lagi, tinggal di rumah dengan menyandang gelar baru (pengangguran) itu amat sangat meresahkan. Meresahkan bagi diri keluarga, lingkungan, dan diri sendiri tentunya.

Tanpa panjang lebar, selayaknya dilakukan para fresh graduated, ya mencari pekerjaan. Tentunya pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan, kesempatan, minat dan bakat. Berhubung basic saya dari pendidikan, walaupun tidak melulu dicetak menjadi guru, akhirnya nekad untuk melamar pekerjaan sebagai tenaga pendidik.

Beberapa lembaga pendidikan di kota kelahiran, tempat dibesarkan, serta tempat tinggal saya sekarang, sudah saya coba kirimi surat lamaran. Dengan bekal ilmu yang dimiliki, saya berusaha menjelaskan maksud dan tujuan saya datang ke lembaga tersebut. Tentunya dengan membawa berkas yang relavan selayaknya orang mencari kerja.

Sekitar 8 lembaga pendidikan telah saya datangi bulan April ini, Alhamdulillah hanya satu yang memberikan feedback. Itupun dengan penuh rasa sesal, saya melewatkan kesempatan itu karena faktor geografis. Bagaimana dengan lembaga lain? Mungkin belum memberi tahu kelanjutannya atau tidak sama sekali. Lembaga yang saya lamar itu semuanya adalah lembaga pendidikan yaa.

Hikmah yang saya ambil dari cerita di atas:
1. Kota kelahiran, dibesarkan, serta tempat tinggal saya sekarang masih melihat "anda siapanya siapa?" Itu sangat terasa sekali ketika saya mencoba berbicara menjadi diri saya sendiri.

2. Ada 3 faktor yang mungkin bisa memperlancar untuk bisa bekerja di kota saya. 3D (Duit, Dulur, Dekeut) itu bahasa sunda, silakan mengartikan sendiri.

3. Saya yakin, mungkin sekarang orang-orang itu menganggap saya sebelah mata karena saya masih belajar untuk berdiri. Someday, we'll see...

4. Inilah bagian dari usaha, berdoa sudah pasti dilakukan. Sebagaimana yang sudah saya tulis di notes sebelumnya.

Selamat malam...
Ira Arini

ditulis pada tanggal 23 April 2013, pukul 23:30 WIB

Adil?

Pagi :)

Pernah merasa doamu langsung terkabul? Bahkan kenyataannya lebih indah dari apa yang kamu harapkan dalam doamu?

Atau pernah berdoa terus menerus namun belum terkabul juga? Betahkan kamu sampai hampir putus asa untuk terus berdoa dan menganggap Tuhanmu tidak mendengarkan doamu?

Sesungguhnya, tidak ada doa yang tidak dikabulkan oleh Tuhanmu. Tuhanmu adil kepada setiap hambanya. Ingat, adil bukan berarti menyama ratakan, tetapi disesuaikan dengan kebutuhan.

Mungkin saja doamu yang langsung terkabulkan adalah ujian untukmu, ujian apakah kamu akan tetap berdoa kepadaNya. Kalaupun doamu belum terkabul, teruslah meminta.

Tuhan menyiapkan yang terbaik untuk setiap hambaNya. Doanya dikabulin sukur, gak dikabulin juga terus aja berdoa.


Ira
ditulis pada tanggal 30 Maret 2013, pukul 8:05 WIB

Trimester 2013

Baca judul notes ini pasti kaget. Iya, trimester 2013. Bukan karena sedang hamil atau apalah, tapi memang masuk ke istilah sudah melewati 3 bulan pertama di 2013 ini.

Padahal baru 3 bulan, tapi kok banyak banget yang ngerubah haluan hidup ya? Ah, tahun ini begitu ajaib. Seakan memutar balik kehidupan yang tahun sebelumnya. Semuanya berubah, terasa asing, dan mungkin ini rencana terbaik dari Tuhan. Tentunya untuk hambaNya jadi lebih baik.

Bulan Januari...
Resmi menjadi seorang sarjana pendidikan, walaupun nilai kurang memuaskan, tapi tetap jadi kebanggaan orang tua. Alhamdulillah, target jadi sarjana di usia 21 tahun telah tercapai.

Bulan Februari...
Bulan paling indah, paling diharapkan sepanjang tahun dari tiap tahunnya. Menginjak usia 22 tahun pada tanggal 23, melewati hari itu bersama orang-orang terkasih, pelukan hangat keluarga, serta di tengah kegelisahan tentang penyakit Kakek. Kakek yang biasa dipanggil Ama, sosok yang amat sangat dikagumi, dihormati, dan menjadi panutan untuk istri, anak, menantu, cucu serta cicit. Ketika semua ketidakpastian itu menerkam hari bahagia tanggal 23, setelah 3 hari kemudian beliau wafat. Semoga amal ibadah beliau diterima di sisiNya. I'm so sad...

Bulan Maret...
Entah ini bahagia atau apa, melewati hari membanggakan dengan mengenakan kebaya nan mewah serta toga yang membungkus badan, tanpa kehadiran seorang kakek. Namun hari itu terlalu larut dalam kebahagiaan, yang saking bahagianya sampai menitikan air mata sambil memeluk ibu. Iya, Ibu adalah orang yang paling berjasa dalam meraih gelar sarjana.

Ini hari paling bahagia, pertama kali pake bulu mata palsu :D

 with lovely mom and dad

with TPers UNJ 2008

Di hari wisuda itu, banyak sekali orang-orang tersayang yang mendampingi, hidup jadi lebih terasa berharga sekali. Lebih terasa berharga lagi, mengunjungi kota Yogyakarta bersama sahabat. Alhamdulillah, doaku terkabul. Setiap kali menginjakkan kaki di kota itu, selalu berharap bisa kembali lagi. Maret tahun lalu sudah ke sana, berdoa, kemudian Maret tahun inipun sudah ke sana kembali.

at Prambanan Temple, DI Yogyakarta

3 bulan ini benar-benar membuat hidup lebih berarti. Menghargai apa yang sudah dimiliki, mengenang apa yang telah meninggalkan, mengingat apa yang telah diraih, dan mengejar apa yang ingin di dapat.

Ira
ditulis pada tanggal 28 Maret 2013, pukul 21:47 WIB

22 Tahun. setua itukah?

Kemarin, tepat usia menginjak 22 tahun. Berhubung sering main sama yang seumuran, bahkan yang lebih muda, saya merasa sangat tua. Tapi, jika dibandingkan dengan Ama, kakek yang sedang terbaring koma di ruang ICU rumah sakit, usianya sudah 75 tahun, saya merasa jauh lebih muda.

Bersyukur? Tentu. Ketika bangun tidur tepat tanggal 23, mengucapkan "Alhamdulillahilladzi ahyana ba'dama amatana wailaihin nusur" dan mendapat pelukan hangat dari semua keluarga. Walaupun suasana sedang di rumah sakit, tetap hangat, tetap bahagia.

Resolusi usia 21 salah satunya sudah tercapai, mendapat gelar sarjana. Itu semua untuk orang tua tercinta, keluarga tersayang. Yang belum? Hahahhaaseuuum! Jangan ditanya yah, itu bisa dilihat di notes setahun lalu.

Harapan di usia 22 ini? Ya tentu diberikan nikmat kesehatan, rejeki dan kebahagiaan, untuk pribadi, keluarga, sahabat, teman, dan semua yang tersayang. (Ini kok gak ada eheumnya?) Iye emang gak punya. Puas?

Pengennya sih lanjut sekolah (itupun kalau ada biaya), kerja di tempat yang diinginkan (kakek sih nyuruhnya jadi bagian dari pemerintahan) but I doubt it, and finding someone special for my future (ceileeeeh), oke semuanya tolong di-Aamiin-in!

Aamiin!!!

Sekian.
Ira Arini

ditulis pada 24 Februari 2013, pukul 4:59 WIB

Meminta

Alhamdulillah, sebagian besar doa yang dipanjatkan, harapan yang ditempel di benak sudah terlewati. Masih mau ngeluh? Duh...

Diantara begitu banyak nikmat yang dikasih, baik yang disadari atau yang gak disadari, masih mau ngeluh, gitu?

People always think about how to get, not how to say thank, especially to God. Udah dikabulin doa lulus kuliah, masih pengen lulus dengan nilai bagus. Udah dikasih keluarga yang saling menyayangi, masih pengen keluarga yang serba berada. Udah dikasih kesehatan jiwa raga, masih pengen keindahan raga. Udah dikasih ini itu, masih pengan ina inu.

Emang gak akan ada habisnya. Tapi tenang aja sih. As I said before, Tuhan itu lebih seneng sama hambaNya yang minta terus kepadaNya. Makin sering dipinya, Dia makin pengen ngasih. Lain halnya dengan manusia, makin banyak dipinta, rasanya pengen ditinggalin aja, diludahin, diapain kek pokoknya gak minta lagi.

Itu bedanya Tuhan sama manusia. Yaiyalah! Masa Tuhan sama ama manusia. Selamat pagi, selamat menjalankan ibadah tidur sepanjang weekend ini, selamat bahagia, selamat banyak meminta kepada Tuhanmu. Siap-siap aja yah, ekspektasi kadang gak sesuai dengan kenyataan. Itulah gunanya ikhlas.

Ira

ditulis pada tanggal 16 Februari 2013, pukul 7:17 WIB

Merepotkan

Notes ini di tulis di kereta, ada banyak kejadian sepagi ini. Mungkin saya yang terlalu berlebihan sensitif, atau apalah. Tapi yang jelas, bawaannya sedih terus.

Alhamdulillah salah satu target dalam hidup sudah tercapai, tapi perjuangan belum berakhir. Demi memenuhi janji kepada orang-orang yang telah berjasa membantu saya hingga seperti ini, saya jadi merepotkan orang tua. Iya, orang tua yang amat sangat saya sayangi, dan merekapun begitu menyayangi saya.

Sesungguhnya, tidak ingin merepotkan mereka karena janji saya itu. Tapi mau tidak mau mereka pasti repot. Kali ini janji saya hampir terpenuhi, tapi masih saja ada kendala. Entah ini karena hati yang terlalu sensitif.

Saya membawa barang yang tidak lazim dibawa oleh seorang wanita, tepatnya lazimnya dibawa oleh kuli panggul. Ayah, yang sehari-hari mengerjakan pekerjaan rumah tangga karena Ibu yang sudah tidak sanggup lagi mengerjakannya. Saya tahu Ayah capek, butuh asisten rumah tangga, tapi susah carinya.

Pagi ini, saya terlalu merepotkan Ayah. Beliau ingin sekali mengantar saya sampai tujuan, namun saya tak tega. Ah, diantar sampai stasiun saja saya sudah amat tak tega. Saya memberi alasan yang sebenarnya tidak pasti. "Nanti barangnya di bawain si A kok, Yah. Gak usah nganterin Teteh segala. Sampai stasiun saja cukup."

Maaf, sudah amat sangat merepotkan. Orang tua saya adalah orang tua terbaik seantero jagad. Semua kebahagiaan saya, saya persembahkan untuk kalian. Semua keluh kesah saya, inginnya saya pendam sendiri. Tapi kalian selalu saja bisa membuat saya untuk tidak memendamnya. Ah, kalian bisa saja.

I love you, Ayah, Ibu...


Ira
Ditulis pada tanggal 2 Februari 2013, pukul 4:53 WIB

Lupa

Jadi gini...
Pernah ngerasa lupa rasanya ngantuk ampe gak bisa mulai cara meremin mata gimana?

Pernah ngerasa lupa rasanya laper ampe gak bisa mulai cara buka mulut?

Pernah nangis bercucuran air mata saking bahagianya?

Allah itu keren banget! Selain karena sedih yang amat sangat hebat, kejadian yang disebutin di atas juga karena bahagia yang amat sangat hebat. Udah gak tau lagi mau gimana cara berterima kasih sama Allah. Allah itu keren deh pokoknya.

So, kesimpulannya apa?

Iya, saya sedang bahagia. Makasih Allahku yang keren!


Ira
Ditulis pada pukul 21:52 WIB, 28 Desember 2012