Sering orang bilang, inspirasi itu datang biasanya tengah malam
begini, atau waktu subuh, saat otak masih segar untuk digunakan
menuangkan ide.
Sebenarnya ini bukan ide, tapi sedang ingin share pengalaman saja.
Alhamdulillah sudah mendapat gelar Sarjana bulan Maret lalu. Langkah
selanjutnya ya mencari kerja. Kebetulan, kampus yang telah memberikan
ilmu di jenjang Strata 1 tidak menyalurkan mahasiswanya untuk bekerja
pada lembaga tertentu (ikatan dinas). Kalaupun iya, mungkin itu berlaku
bagi mahasiswa berprestasi, bukan untuk saya yang hanya seonggok
mahasiswa kupu-kupu (kuliah pulang-kuliah pulang). Nilaipun pas-pasan.
Alhamdulillah bisa lulus.
Setelah wisuda, terasa sekali banyak pertanyaan yang menjadi beban.
Selain karena sudah tidak menjadi anak kost lagi, tinggal di rumah
dengan menyandang gelar baru (pengangguran) itu amat sangat meresahkan.
Meresahkan bagi diri keluarga, lingkungan, dan diri sendiri tentunya.
Tanpa panjang lebar, selayaknya dilakukan para fresh graduated, ya
mencari pekerjaan. Tentunya pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan,
kesempatan, minat dan bakat. Berhubung basic saya dari pendidikan,
walaupun tidak melulu dicetak menjadi guru, akhirnya nekad untuk melamar
pekerjaan sebagai tenaga pendidik.
Beberapa lembaga pendidikan di kota kelahiran, tempat dibesarkan,
serta tempat tinggal saya sekarang, sudah saya coba kirimi surat
lamaran. Dengan bekal ilmu yang dimiliki, saya berusaha menjelaskan
maksud dan tujuan saya datang ke lembaga tersebut. Tentunya dengan
membawa berkas yang relavan selayaknya orang mencari kerja.
Sekitar 8 lembaga pendidikan telah saya datangi bulan April ini,
Alhamdulillah hanya satu yang memberikan feedback. Itupun dengan penuh
rasa sesal, saya melewatkan kesempatan itu karena faktor geografis.
Bagaimana dengan lembaga lain? Mungkin belum memberi tahu kelanjutannya
atau tidak sama sekali. Lembaga yang saya lamar itu semuanya adalah
lembaga pendidikan yaa.
Hikmah yang saya ambil dari cerita di atas:
1. Kota kelahiran, dibesarkan, serta tempat tinggal saya sekarang
masih melihat "anda siapanya siapa?" Itu sangat terasa sekali ketika
saya mencoba berbicara menjadi diri saya sendiri.
2. Ada 3 faktor yang mungkin bisa memperlancar untuk bisa bekerja di
kota saya. 3D (Duit, Dulur, Dekeut) itu bahasa sunda, silakan
mengartikan sendiri.
3. Saya yakin, mungkin sekarang orang-orang itu menganggap saya
sebelah mata karena saya masih belajar untuk berdiri. Someday, we'll
see...
4. Inilah bagian dari usaha, berdoa sudah pasti dilakukan. Sebagaimana yang sudah saya tulis di notes sebelumnya.
Selamat malam...
Ira Arini
ditulis pada tanggal 23 April 2013, pukul 23:30 WIB
Tidak ada komentar:
Posting Komentar