Senin, 22 Agustus 2016

Baik vs Jahat



Sebagian orang percaya, manusia dikategorikan menjadi 2 golongan. Golongan yang bersifat baik, dan golongan yang bersifat jahat. Begitupun saya. Sampai usia saya menginjak 25 tahun, masih mempercayai hal semacam itu. Saya terus bertekad untuk menjadi orang yang bersifat baik, dalam segala aspek dan bidang. Tentunya, baik terhadap Pencipta saya, dan makhluk-makhluk di sekeliling saya. Berusaha untuk tidak menjadi orang jahat, karena dapat merugikan, dinilai jelek oleh Sang Pencipta, dan tentunya dari semua makhluk hidup, terutama manusia di lingkungan saya.

Hingga akhirnya suatu peristiwa menyadarkan saya bahwa hal tersebut sedikit keliru. Selama ini, hampir semua manusia menilai dirinya sendiri berusaha untuk melakukan yang terbaik dalam segala hal, baik dimulai dari perencanaan, proses, hingga penilaian dari Sang Pencipta dan makhluk lainnya. 

Lalu, bagaimana dengan para penilai itu? Apakah yang selama ini manusia lakukan dengan niat dan proses yang baik, akan selamanya dianggap baik oleh para penilai? Jawabannya adalah belum tentu.
Seperti kata adil. Makna kata adil masih rumit. Adil bukan berarti sama rata, namun sesuai dengan porsi dan kebutuhan masing-masing. Sama halnya dengan penilaian baik dan jahat. Segala yang kita lakukan dengan niatan dan tujuan yang baik, belum tentu akan dinilai baik oleh manusia. Ada makna di balik itu semua. Tentunya, hanya Sang Penciptalah penilai yang seadil-adilnya. 

Tidak ada manusia yang bercita-cita menjadi orang jahat. Orang jahat sekalipun, memiliki sisi baik di dalam alam bawah sadar mereka. Mereka dinilai jahat oleh manusia lainnya karena memiliki interval yang jauh berbeda dengan indikator orang baik. Bagaimana jika semua manusia di dunia ini berbuat baik? Tentu tidak akan pernah ada pembeda antara baik dan jahat.

Dari situ saya mempunyai sudut pandang lain mengenai sifat baik dan sifat jahat. Semua manusia di dunia ini pada dasarnya bersifat baik. Yang membedakan adalah tingkatan kebaikan mereka. Bagi yang tingkatan kebaikannya tinggi, maka dia bersifat baik. Namun, bagi manusia yang tingkatan kebaikannya rendah, maka dia bersifat jahat. Mungkin, ini adalah penilaian dari sesama manusia. Manusia yang berbuat jahat terhadap manusia, pasti akan dinilai bersifat jahat oleh manusia lainnya.

Lalu, bagaimana dengan Tuhan? Tentunya, Tuhan memiliki cara penilaian yang berbeda dari ciptaanNya (manusia). Tuhan adalah penilai yang seadil-adilnya. Tuhan tahu apa yang terbaik untuk ciptaanNya. Tuhan maha adil. Dia menilai segala aspek yang tidak dapat dinilai oleh kasat mata manusia, dan berhak menempatkan pada surga dan nerakaNya.

Jika dinilai tidak adil dan bersifat jahat, maka itu semua adalah penilaian dari sesama manusia. Percaya penuh kepada Tuhan, bahwa penilaian Tuhan mengenai tingkatan kebaikan itu masih amat sangat rendah, bukan masuk pada kategori jahat. Hanya saja, kunci kenaikan tingkatan kebaikan itu ada pada diri sendiri. Meminta maaf dan berusaha untuk tidak melakukannya lagi, bahkan akan menjadi lebih baik lagi pada masa yang akan datang merupakan usaha  untuk mendapatkan kenaikan tingkatan kebaikan dari Tuhan.

Rangkasbitung, 22 Agustus 2016
Setelah hujan

Senin, 01 Agustus 2016

Heksa

Penghujung bulan Juni ini, rasanya sayang sekali dilewatkan begitu saja tanpa ada tulisan yang sesekali mungkin akan menjadi bukti ketika saya menua nanti. Tahun 2016 sudah hampir terlewati setengah jalan.
 
Banyak sekali hal pahit yang harus saya lewati. Menelan bulatan besar yang amat pahit dengan mulut saya sendiri, tidak bisa dibagikan kepada orang lain, adalah gambaran untuk peristiwa Januari sampai Mei lalu.
 
Mungkin saya begitu naif, menantang Tuhan untuk memberikan sedikit rasa geli pada perasaan dan pertahanan diri saya. Ya, saya terlalu bahagia, terlalu terlena dengan apa yang saya dapatkan. Sehingga, rasa syukur saja tidaklah cukup sebagai hal utama yang saya panjatkan kepada Tuhan. Saya menantang Tuhan untuk memberikan saya kehidupan yang lebih mendebarkan jantung, mengoyak perasaan, melelahkan pikiran.
 
Tuhan mengabulkan doa saya. Memberikan apa yang saya pinta. Mengambil segala kesabaran dan pertahanan diri saya, sampai akhirnya saya mengeluh, mengadu, bahkan siap untuk menyerah di atas hamparan sajadah.
 
Begitu sakit perasaan ini. Begitu banyak yang tersakiti, dan dengan begitu, Tuhan membuktikan kehadiranNya. Kata maaf saja mungkin tidak cukup. Hanya waktu yang akan menyembuhkan luka yang cukup sulit disembuhkan ini. Mungkin satu atau dua tahun. Ah, masih kurang rasanya.
 
Badai ini mungkin telah berlalu, perkiraan saya. Kiranya Tuhan masih mengijinkan saya untuk terus meminta segala hal yang saya butuhkan atau yang saya inginkan, bahkan yang tidakpun akan saya pintakan kepadaNya. Kemudian Dia memberikan apa saja yang terbaik untuk saya, mengangkat derajat saya sebagai hambaNya yang tidak seberapa taat ini dengan beberapa ujian. Tugas saya hanyalah bersyukur dan terus meminta. Itu saja.
 
Kediri, 29 Juni 2016

Bersyukur, Bertahan dan Berprasangka Baik

Pernahkah kamu merasa terlalu bahagia sampai tidak tahu lagi harus bagaimana berterima kasih kepada Tuhanmu? Segala target hidup terpenuhi, dikelilingi orang terkasih, semua doa terkabul oleh Tuhan, dikasihi oleh semua orang, selalu semangat beribadah, finansial tercukupi. Adakah celah untuk mengeluh? Sempatkah untuk sedih? Tentu tidak. Semuanya terlalu indah. Sampai beberapa waktu, kamu bertanya kepada Tuhan, apakah semua ini akan kekal? Tidakkah Tuhan memberikan ini semua untukku hanya untuk mengujiku? Toh ujian Tuhan bukan hanya sekadar hal-hal berat yang sedang dijalani oleh seorang hamba, namun kebahagiaan yang bertubi-tubi juga bisa dianggap ujian. Seberapa kuat hamba selalu bersyukur, seberapa kuat hamba mempertahankan yang sudah dicapai, seberapa jernih hati hamba untuk selalu berprasangka baik bahwa Tuhan tidak sedang menguji dengan kebahagiaan, namun sedang memberikan kenikmatan dan kebahagiaan bertubi-tubi karena hamba selalu bersyukur, selalu meminta. Percayalah, ketika kamu sedang mengalami kebahagiaan yang bertubi-tubi, jangan pernah berpikir bahwa Tuhan sedang mengujimu, atau sedang mempersiapkan ujian berat kedepannya. Tuhan hanya sedang mengasihi hambaNya, akan terus seperti itu jika kamu terus bersyukur, mempertahankan, berprangska baik pada Tuhan.

Jakarta, 21 Februari 2016

Kami sama-sama Suka Dangdut

Kurang lebih hampir 8 tahun yang lalu kami dipertemukan dalam sebuah persiapan acara perkenalan mahasiswa baru di kampus tercinta. Seorang gadis, kurus, memakai dalaman jilbab topi, kaos bergambar kerropi, lengkap dengan rok dan kacamatanya. Ah, saya pikir gadis ini membosankan, yaa jika dilihat dari raut muakanya sih begitu. Dia berasal dari SMAN 1 Bogor, logatnya sunda sekali, Saya merasa sudah punya saudara di Jakarta, hanya karena bertemu dengan orang sunda. Ini agak berlebihan mungkin. Tapi, percayalah, Jakarta adalah kota multi etnis, bertemu dengan orang yang berlogat daerah yang sama, serasa saudara sendiri.
 
Kami berkenalan, bertukar kontak untuk memudahkan komunikasi dan bertukar informasi mengenai apa saja yang harus dipersiapkan pada acara ospek nanti. Pada saat itu, gaya bahasa dan tulisan dalam SMS atau di Facebook bahkan Frienster masih sangat 4LaY sekali. Huruf dan angka menjadi satu, tata letak huruf besar dan kecil tidak karuan, tapi kami tidak takut disalahkan oleh guru Bahasa Indonesia, karena kami berpikir kami ini gaul sekali. Iya, gaul pada masanya. hehehehe
 
Entah mengapa, gadis yang saya ceritakan barusan banyak sekali memberikan informasi mengenai ospek. Saya merasa diakui sebagai “teman” yang pada saat itu saya sebatang kara di jurusan yang saya ambil. Tidak ada teman dari almamater yang sama, daerah yang sama, atau bahkan kenalan yang sama untuk satu jurusan saya. Ditambah dengan logat, penampilan dan tampang saya yang “kampung banget” itu, rasanya punya teman itu hanya angan-angan. Terima kasih, karena sudah menganggap saya teman sejak pertama kita bertemu dan memulai petualangan menjadi mahasiswa sejak 8 tahun silam.
 
Kami banyak sekali kesamaan. Dimulai dari bulan lahir. Sama-sama lahir di bulan kedua dalam tahun masehi, namun kami harus terpisahkan oleh yang namanya zodiak. Ini tidak adil, hanya karena berbeda tanggal, zodiak kami harus berbeda. Kesamaan lainnya, orang tua kami berasal dari daerah Jawa Timur nan jauh di sana. Walaupun orang tua asli Jawa Timur, kami berkomunikasi dengan logat sunda. Selain itu, kami juga menyukai jenis musik yang sama, dangdut. Alasannya menyukai dangdut adalah karena orang tuanya selalu menyetel musik itu sejak dia kecil, terutama Rhoma Irama. Pernah sekali saya tidak berhenti tertawa karena melihat poster sang raja dangdut terpampang nyata di lemari kamarnya. Sungguh penggemar yang setia. Alasan saya suka dangdut karena tetangga sebelah rumah saya membangun usaha organ tunggal, setiap malam berlatih untuk pentas, alhasil saya hapal semua lagu dangdut pada masa itu.
 
Ketika saya selesai studi duluan, sedih rasanya mendapatkan bunga darinya. Dengan terus mendoakan agar gadis ini, ah tidak, sekarang dia sudah menjadi wanita. Mendoakan agar segera lulus, dan melanjutkan studi kembali. Ternyata Tuhan teramat baik terhadap wanita ini. Setelah selesai menyelesaikan studinya, beasiswa penuhpun diraihnya. Melihatnya mengabdi di beberapa lokasi bencana, saya menangis bahagia. Melihatnya berada di negeri tirai bambu untuk studi dengan beasiswa penuh, saya menangis bahagia. Melihatnya sudah bergelar M.Si (Han), saya lebih bahagia.
Selamat ulang tahun, Gioveny Astaning Permana, S.Pd, M.Si (Han). Saya tunggu kebahagiaan melimpah dari Tuhan yang lainnya. Aamiin...

Belum Terlambat



Saya berjenis kelamin perempuan, anak pertama, dan usia saya sudah memasuki seperempat abad. Target hidup saya semuanya hampir tercapai. Kecuali 1, menikah. Perkara mencari pekerjaan, mengejar pendidikan, merangkaki karir, menjaga pola hidup sehat, mungkin itu bisa saya atur. Tapi mari berkata belum untuk hal menikah.

Saya pemilih? Tentu saja. Begitu banyak contoh di lingkungan terdekat saya yang mau tidak mau memberikan pelajaran yang berharga bagaimana seharusnya kehidupan setelah menikah itu. Setidaknya saya punya gambaran dan kriteria untuk pasangan hidup saya kelak. Bagaimana bisa kamu menghabiskan seluruh sisa hidupmu bersama pasangan yang tidak bisa memahami apa yang kamu katakan? Bagaimana bisa kamu tidur satu ranjang dengan pasangan yang belum tentu memiliki visi dan misi yang sama denganmu? Bagaimana bisa kamu menikmati hamil dan membesarkan anak bersama pasangan yang menganggapmu sebagai seorang ibu dari anaknya saja, bukan pasangan hidupnya? Ah, terlalu banyak pertanyaan yang meledak-ledak di kepala saya.

Saya terlalu ngoyo mengejar karir? Tentu tidak. Disela-sela kesibukkan, saya menyempatkan diri untuk menjawab rentetan pertanyaan “apa kabar?” dari teman lama ataupun sanak saudara yang diakhiri dengan “kapan?” dan ujungnya mungkin saya curhat. Disela kesibukan saya masih meluangkan waktu untuk bertemu dengan teman baru dan membuka hati saya.

Apa lagi yang ingin saya kejar? Tentu kebahagiaan yang hakiki. Sebagai manusia yang terahir dengan agama islam, dibesarkan di lingkungan keluarga beragama islam, tentu saya mengidamkan memiliki keluarga bernuansa islam kelak. Meski akhlak dan dandanan saya sama sekali tidak mencerminkan islam yang sebenarnya. Tapi, hey.. ini Indonesia, bukan negara Arab *oke sampai di sini saja membahas ini.

Terkadang, alam bawah sadar saya ingin sekali bangun di setiap sepertiga malam, memohon dan bersimpuh kepada Allah, introspeksi, apa salah saya? Apa kurang saya? Apakah niat ini sudah baik? Atau memang hanya ingin mengikuti tren teman-teman seusia saya yang mayoritas sudah menikah? Tapi saya terlalu pesimis untuk itu. Mungkin Tuhan belum memberi jawaban ini karena kepesimisan saya. Jika memang niat baik saya ini masih mengandung beberapa unsur pertanyaan di atas, mungkin Allah sedang menunggu saya untuk memperbaikinya. Niat baik untuk membangun keluarga, melengkapkan ibadah yang masih bolong-bolong, meneruskan keturunan agama. Aamiin