Senin, 01 Agustus 2016

Belum Terlambat



Saya berjenis kelamin perempuan, anak pertama, dan usia saya sudah memasuki seperempat abad. Target hidup saya semuanya hampir tercapai. Kecuali 1, menikah. Perkara mencari pekerjaan, mengejar pendidikan, merangkaki karir, menjaga pola hidup sehat, mungkin itu bisa saya atur. Tapi mari berkata belum untuk hal menikah.

Saya pemilih? Tentu saja. Begitu banyak contoh di lingkungan terdekat saya yang mau tidak mau memberikan pelajaran yang berharga bagaimana seharusnya kehidupan setelah menikah itu. Setidaknya saya punya gambaran dan kriteria untuk pasangan hidup saya kelak. Bagaimana bisa kamu menghabiskan seluruh sisa hidupmu bersama pasangan yang tidak bisa memahami apa yang kamu katakan? Bagaimana bisa kamu tidur satu ranjang dengan pasangan yang belum tentu memiliki visi dan misi yang sama denganmu? Bagaimana bisa kamu menikmati hamil dan membesarkan anak bersama pasangan yang menganggapmu sebagai seorang ibu dari anaknya saja, bukan pasangan hidupnya? Ah, terlalu banyak pertanyaan yang meledak-ledak di kepala saya.

Saya terlalu ngoyo mengejar karir? Tentu tidak. Disela-sela kesibukkan, saya menyempatkan diri untuk menjawab rentetan pertanyaan “apa kabar?” dari teman lama ataupun sanak saudara yang diakhiri dengan “kapan?” dan ujungnya mungkin saya curhat. Disela kesibukan saya masih meluangkan waktu untuk bertemu dengan teman baru dan membuka hati saya.

Apa lagi yang ingin saya kejar? Tentu kebahagiaan yang hakiki. Sebagai manusia yang terahir dengan agama islam, dibesarkan di lingkungan keluarga beragama islam, tentu saya mengidamkan memiliki keluarga bernuansa islam kelak. Meski akhlak dan dandanan saya sama sekali tidak mencerminkan islam yang sebenarnya. Tapi, hey.. ini Indonesia, bukan negara Arab *oke sampai di sini saja membahas ini.

Terkadang, alam bawah sadar saya ingin sekali bangun di setiap sepertiga malam, memohon dan bersimpuh kepada Allah, introspeksi, apa salah saya? Apa kurang saya? Apakah niat ini sudah baik? Atau memang hanya ingin mengikuti tren teman-teman seusia saya yang mayoritas sudah menikah? Tapi saya terlalu pesimis untuk itu. Mungkin Tuhan belum memberi jawaban ini karena kepesimisan saya. Jika memang niat baik saya ini masih mengandung beberapa unsur pertanyaan di atas, mungkin Allah sedang menunggu saya untuk memperbaikinya. Niat baik untuk membangun keluarga, melengkapkan ibadah yang masih bolong-bolong, meneruskan keturunan agama. Aamiin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar