Saya berjenis kelamin perempuan, anak pertama, dan usia saya
sudah memasuki seperempat abad. Target hidup saya semuanya hampir tercapai. Kecuali
1, menikah. Perkara mencari pekerjaan, mengejar pendidikan, merangkaki karir,
menjaga pola hidup sehat, mungkin itu bisa saya atur. Tapi mari berkata belum
untuk hal menikah.
Saya pemilih? Tentu saja. Begitu banyak contoh di lingkungan
terdekat saya yang mau tidak mau memberikan pelajaran yang berharga bagaimana
seharusnya kehidupan setelah menikah itu. Setidaknya saya punya gambaran dan
kriteria untuk pasangan hidup saya kelak. Bagaimana bisa kamu menghabiskan
seluruh sisa hidupmu bersama pasangan yang tidak bisa memahami apa yang kamu
katakan? Bagaimana bisa kamu tidur satu ranjang dengan pasangan yang belum
tentu memiliki visi dan misi yang sama denganmu? Bagaimana bisa kamu menikmati
hamil dan membesarkan anak bersama pasangan yang menganggapmu sebagai seorang
ibu dari anaknya saja, bukan pasangan hidupnya? Ah, terlalu banyak pertanyaan
yang meledak-ledak di kepala saya.
Saya terlalu ngoyo mengejar karir? Tentu tidak. Disela-sela
kesibukkan, saya menyempatkan diri untuk menjawab rentetan pertanyaan “apa
kabar?” dari teman lama ataupun sanak saudara yang diakhiri dengan “kapan?” dan
ujungnya mungkin saya curhat. Disela kesibukan saya masih meluangkan waktu
untuk bertemu dengan teman baru dan membuka hati saya.
Apa lagi yang ingin saya kejar? Tentu kebahagiaan yang hakiki. Sebagai manusia yang terahir dengan agama islam, dibesarkan di lingkungan keluarga beragama islam, tentu saya mengidamkan memiliki keluarga bernuansa islam kelak. Meski akhlak dan dandanan saya sama sekali tidak mencerminkan islam yang sebenarnya. Tapi, hey.. ini Indonesia, bukan negara Arab *oke sampai di sini saja membahas ini.
Terkadang, alam bawah sadar saya ingin sekali bangun di setiap
sepertiga malam, memohon dan bersimpuh kepada Allah, introspeksi, apa salah
saya? Apa kurang saya? Apakah niat ini sudah baik? Atau memang hanya ingin
mengikuti tren teman-teman seusia saya yang mayoritas sudah menikah? Tapi saya terlalu pesimis untuk itu. Mungkin Tuhan belum memberi jawaban ini karena kepesimisan saya. Jika memang niat baik saya ini masih mengandung beberapa
unsur pertanyaan di atas, mungkin Allah sedang menunggu saya untuk
memperbaikinya. Niat baik untuk membangun keluarga, melengkapkan ibadah yang
masih bolong-bolong, meneruskan keturunan agama. Aamiin
Tidak ada komentar:
Posting Komentar