Kurang lebih hampir 8 tahun yang lalu kami dipertemukan dalam sebuah persiapan acara perkenalan mahasiswa baru di kampus tercinta. Seorang gadis, kurus, memakai dalaman jilbab topi, kaos bergambar kerropi, lengkap dengan rok dan kacamatanya. Ah, saya pikir gadis ini membosankan, yaa jika dilihat dari raut muakanya sih begitu. Dia berasal dari SMAN 1 Bogor, logatnya sunda sekali, Saya merasa sudah punya saudara di Jakarta, hanya karena bertemu dengan orang sunda. Ini agak berlebihan mungkin. Tapi, percayalah, Jakarta adalah kota multi etnis, bertemu dengan orang yang berlogat daerah yang sama, serasa saudara sendiri.
Kami berkenalan, bertukar kontak untuk memudahkan komunikasi dan bertukar informasi mengenai apa saja yang harus dipersiapkan pada acara ospek nanti. Pada saat itu, gaya bahasa dan tulisan dalam SMS atau di Facebook bahkan Frienster masih sangat 4LaY sekali. Huruf dan angka menjadi satu, tata letak huruf besar dan kecil tidak karuan, tapi kami tidak takut disalahkan oleh guru Bahasa Indonesia, karena kami berpikir kami ini gaul sekali. Iya, gaul pada masanya. hehehehe
Entah mengapa, gadis yang saya ceritakan barusan banyak sekali memberikan informasi mengenai ospek. Saya merasa diakui sebagai “teman” yang pada saat itu saya sebatang kara di jurusan yang saya ambil. Tidak ada teman dari almamater yang sama, daerah yang sama, atau bahkan kenalan yang sama untuk satu jurusan saya. Ditambah dengan logat, penampilan dan tampang saya yang “kampung banget” itu, rasanya punya teman itu hanya angan-angan. Terima kasih, karena sudah menganggap saya teman sejak pertama kita bertemu dan memulai petualangan menjadi mahasiswa sejak 8 tahun silam.
Kami banyak sekali kesamaan. Dimulai dari bulan lahir. Sama-sama lahir di bulan kedua dalam tahun masehi, namun kami harus terpisahkan oleh yang namanya zodiak. Ini tidak adil, hanya karena berbeda tanggal, zodiak kami harus berbeda. Kesamaan lainnya, orang tua kami berasal dari daerah Jawa Timur nan jauh di sana. Walaupun orang tua asli Jawa Timur, kami berkomunikasi dengan logat sunda. Selain itu, kami juga menyukai jenis musik yang sama, dangdut. Alasannya menyukai dangdut adalah karena orang tuanya selalu menyetel musik itu sejak dia kecil, terutama Rhoma Irama. Pernah sekali saya tidak berhenti tertawa karena melihat poster sang raja dangdut terpampang nyata di lemari kamarnya. Sungguh penggemar yang setia. Alasan saya suka dangdut karena tetangga sebelah rumah saya membangun usaha organ tunggal, setiap malam berlatih untuk pentas, alhasil saya hapal semua lagu dangdut pada masa itu.
Ketika saya selesai studi duluan, sedih rasanya mendapatkan bunga darinya. Dengan terus mendoakan agar gadis ini, ah tidak, sekarang dia sudah menjadi wanita. Mendoakan agar segera lulus, dan melanjutkan studi kembali. Ternyata Tuhan teramat baik terhadap wanita ini. Setelah selesai menyelesaikan studinya, beasiswa penuhpun diraihnya. Melihatnya mengabdi di beberapa lokasi bencana, saya menangis bahagia. Melihatnya berada di negeri tirai bambu untuk studi dengan beasiswa penuh, saya menangis bahagia. Melihatnya sudah bergelar M.Si (Han), saya lebih bahagia.
Selamat ulang tahun, Gioveny Astaning Permana, S.Pd, M.Si (Han). Saya tunggu kebahagiaan melimpah dari Tuhan yang lainnya. Aamiin...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar