Senin, 01 Agustus 2016

Heksa

Penghujung bulan Juni ini, rasanya sayang sekali dilewatkan begitu saja tanpa ada tulisan yang sesekali mungkin akan menjadi bukti ketika saya menua nanti. Tahun 2016 sudah hampir terlewati setengah jalan.
 
Banyak sekali hal pahit yang harus saya lewati. Menelan bulatan besar yang amat pahit dengan mulut saya sendiri, tidak bisa dibagikan kepada orang lain, adalah gambaran untuk peristiwa Januari sampai Mei lalu.
 
Mungkin saya begitu naif, menantang Tuhan untuk memberikan sedikit rasa geli pada perasaan dan pertahanan diri saya. Ya, saya terlalu bahagia, terlalu terlena dengan apa yang saya dapatkan. Sehingga, rasa syukur saja tidaklah cukup sebagai hal utama yang saya panjatkan kepada Tuhan. Saya menantang Tuhan untuk memberikan saya kehidupan yang lebih mendebarkan jantung, mengoyak perasaan, melelahkan pikiran.
 
Tuhan mengabulkan doa saya. Memberikan apa yang saya pinta. Mengambil segala kesabaran dan pertahanan diri saya, sampai akhirnya saya mengeluh, mengadu, bahkan siap untuk menyerah di atas hamparan sajadah.
 
Begitu sakit perasaan ini. Begitu banyak yang tersakiti, dan dengan begitu, Tuhan membuktikan kehadiranNya. Kata maaf saja mungkin tidak cukup. Hanya waktu yang akan menyembuhkan luka yang cukup sulit disembuhkan ini. Mungkin satu atau dua tahun. Ah, masih kurang rasanya.
 
Badai ini mungkin telah berlalu, perkiraan saya. Kiranya Tuhan masih mengijinkan saya untuk terus meminta segala hal yang saya butuhkan atau yang saya inginkan, bahkan yang tidakpun akan saya pintakan kepadaNya. Kemudian Dia memberikan apa saja yang terbaik untuk saya, mengangkat derajat saya sebagai hambaNya yang tidak seberapa taat ini dengan beberapa ujian. Tugas saya hanyalah bersyukur dan terus meminta. Itu saja.
 
Kediri, 29 Juni 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar