Senin, 23 Oktober 2017

Pria Pemuji Wanita Tanpa Alis dan Lipstik

Teruntuk calon suamiku, Mas Wisnu...
Terpujilah segala kepintaran manusia yang Allah karuniakan, karena dengan adanya teknologi berupa internet, kami bisa berkenalan.
Dimulai pada tanggal 18 Januari 2017, Mas Wisnu, panggilan sayang yang biasa ucapkan, mulai menyapa saya. Dengan metode tarik ulur cantiknya, beliau menjadi salah satu pria yang tidak terlalu intens berkomunikasi dengan saya. Saat itu, saya masih dekat dengan laki-laki lain, karena seleksi itu perlu. Saat itu juga, Mas Wisnu tidak terlalu saya perhitungkan sebagai kandidat pria yang dekat dengan saya. Bayangkan saja, Mas Wisnu menghubungi saya 2 minggu sekali, kalau telepon paling 15 menit diakhiri dengan alasan ngantuk.
Sekalipun tidak pernah terlintas di pikiran saya untuk jauh lebih mengenal ataupun dekat dengan Mas Wisnu. Beberapa kali kami pernah sepakat untuk bertemu, beberapa kalo juga gagal karena yaaa Mas Wisnu yang cuek, dan saya menganggap kalau pria seperti itu gak minat untuk menjalin hubungan lebih dekat lagi. Secara ya usia kami sudah melewati seperempat abad, kalau hanya sekedar telepon dan komunikasi lucu, serasa membuang waktu.
Tanggal 17 April 2017, tepatnya hari senin jam 8.30, akhirnya kami memutuskan untuk bertemu di stasiun Rangkasbitung. Untuk pertemuan pertama, rasanya ini kurang romantis untuk diceritakan. Kami sepakat untuk mencoba menggunakan transportasi Commuter Line relasi Rangkasbitung - Tanah Abang karena pada 1 April 2017 baru beroperasi. Tujuan kami adalah stasiun Serpong, kemudian naik taksi online ke Teras Kota untuk menonton bioskop. Ya, sesederhana itu rencana kami untuk bertemu. Kami mengobrol sepanjang perjalanan, membicarakan hal-hal kecil yang membuat kami tidak sadar bahwa sebentar lagi kami tiba di tempat tujuan.
Pada pertemuan pertama kami, kesan saya biasa saja. Tidak terlalu berharap hubungan kami akan berlanjut, hanya sebatas pertemanan, menyambung silaturahmi sesama muslim. Tapi, ada cerita lucu setelah kami selesai nonton dan makan. Kami berencana pulang tapi ketinggalan kereta dan harus menunggu kereta 1 jam kemudian. Di sela-sela menunggu kereta, sambil killing time kami mencoba naik kereta ke palmerah. Setelah menunaikan kewajiban, kami duduk sebelahan di kursi tunggu lantai atas stasiun Palmerah. Mas Wisnu menyatakan ingin membina hubungan serius dengan saya, menawarkan apakah ingin menjadi pacarnya atau taarufannya. Sejenak saya bingung, ini laki-laki kok baru pertama ketemu udah ngajak serius aja? Kalau ngajak pacaran kesannya main-main, banyakin dosa. Kalau ngajak taaruf, ini sudah menyalahi taaruf, kami jalan berdua, kemudian nonton. Karena kami 4 bulan terakhir mengenal lewat chat dan telepon tapi jarang-jarang, saya sempat berpikir untuk menunda ajakan Mas Wisnu. Tapi, saya pikir lagi, seumur-umur jalan sama laki-laki, belum ada yang menjaga shalat dan sesopan Mas Wisnu. Jadi, pada saat itu juga saya mengiyakan tawaran Mas Wisnu. Entahlah itu namanya pacaran atau taaruf. Hehehehe
Setelah kami jalan seharian, Mas Wisnu masih cuek sama saya. Sampai saya berpikir, ini cowok ngajak serius tapi kok cuek. Apa cuma mainin perasaan saya saja ya? Tapi ada kemajuan sih, dari 2 minggu sekali ngajak ngobrol, ini 3 hari sekali. Hehehe...
Beberapa hari setelah pertemuan perdana kami, Mas Wisnu memberi kontak Mamanya dan meminta saya untuk memperkenalkan diri kepada Mamanya. Respon Mama Mas Wisnu sangat positif. 2 minggu kemudian kami bertemu kembali, tadinya mau dikenalkan ke keluarganya tapi pada saat itu keluarganya sedang ada di Solo.
Bulan Mei 2017, kebetulan saya ada urusan pekerjaan sambil liburan ke Solo. Allah maha baik, Mas Wisnu juga kebetulan sedang pulang ke Solo, bertemu dengan semua anggota keluarganya. Saya berkesempatan untuk bertemu keluarganya di Solo dan mendapat respon yang sangat positif. Karena deretan kejadian tersebut, saya mantapkan hati untuk fokus pada Mas Wisnu seorang. Tidak ada pria lain selain Mas Wisnu.
Setelah Lebaran Idul Fitri, Mas Wisnu dan keluarga pulang ke Cilegon dan ada beberapa perbincangan untuk lebih serius dalam hubungan kami. Ternyata tidak semulus yang dibayangkan, orang tua saya masih belum yakin kalau saya siap dengan hubungan kami. Rencana kami untuk lebih serius ke tahap selanjutnya masih harus ditunda dengan alasan saya yang belum siap untuk menjalin hubungan yang lebih serius. Ini ujian untuk saya, karena kasus-kasus kedekatan dengan laki-laki sebelumnya yang membuat orang tua saya ragu, bahwa saya sudah yakin dengan Mas Wisnu.
Pada tanggal 21 September 2017, Mas Wisnu dan keluarganya resmi melamar saya untuk menjadi istrinya. Entah apa yang saya rasakan, bahagia dan haru. Rasanya tidak percaya, ada pria dan keluarganya datang ke rumah, menyatakan keseriusannya dan meminta saya kepada orang tua saya untuk dijadikan seorang pendamping hidup.
Mas Wisnu, calon imamku... Mengapa saya memilih Mas Wisnu? Karena saya yakin, Mas Wisnu adalah pria yang baik, yang sabar, yang menjaga Shalat 5 waktunya, yang mau sama saya yang aneh ini, yang memiliki keluarga harmonis, yang berasal dari keturunan baik-baik, yang selalu mensupport saya saat saya kendor semangatnya, yang selalu memuji saya saat saya tidak dandan tanpa alis dan lipstik, yang selalu angkat telepon saya saat saya terbangun tengah malam dan tidak bisa tidur, yang tidak henti mengucapkan kata cinta untuk saya setiap harinya dan semoga selamanya, yang selalu memuji masakan saya yang hanya mie telor saja, yang selalu saya omeli karena kamu bawakan helm dengan kaca yang kendor, yang selalu mengiyakan apa yang saya pinta, yang selalu menghapus air mata saya saat saya menangis.
Semoga selalu dan akan seperti itu, Mas. I Love you

Jumat, 23 Juni 2017

Ramadhan

Riuhmu mungkin tak lagi akan kudengar
Kehangatan malam dengan dinginnya udara mungkin tidak akan lagi kurasa
Pun seruan anak yang mengucapkan "Aamiin" selepas makan malam tak lagi ada

Tanda senja mulai tertelan malam tak lagi disambut dengan riuh gembira
Gemuruh suara kendaraan yang melaju dengan cepatnya
di waktu itu,
karena,
ingin segera sampai ke tempat peristirahatan,
rumah,
tak lagi akan semenarik sekarang

Keintiman manusia dengan Tuhannya tak lagi sama seperti sekarang
Semua akan berlalu
Doa-doa yang dipanjatkan tak semata hari biasanya
Janji Tuhan itu nyata

Semoga bisa kembali dengan suasana itu
Ramadhanku....

Selasa, 25 April 2017

Siapkah?

Sesejuk doa yang dipanjatkan oleh seorang Ibu dalam setiap sela sujudnya
Sepanas amarah yang dilontarkan oleh seorang Ayah setiap kali keterlambatan pulang anak gadisnya
Seberharap seorang hamba Tuhan kepada untaian doa yang tak putus dipanjatkan
Sekeras usaha ayam betina mengeram telur dan melindungi anaknya setelah menetas
Selembut selimut berbulu yang memberikan kehangatan bagi orang-orang yang telah membelinya
Sesabar saya, yang menantimu dalam setiap doa, setiap hela nafas, setiap celah usaha, setiap detik dan setiap kedipan.
Menjaga pandangan dan sikap untuk menyajikan diri sebaik-baiknya.

Selasa, 04 Oktober 2016

Roller Coaster

Teruntuk seseorang di masa depan saya...

Saya hanya seorang wanita yang mudah luluh pada pria yang rajin menjalani kewajiban kepada Tuhan. Itu saja. Jika memang kami melanjutkan perbicaraan-pembicaraan ringan dan ternyata sudah berlangsung 2 jam, maka akan membuat saya semakin luluh. Celakanya, jika pria itu bisa menenangkan saya ketika saya panik, maka saya akan jauh semakin luluh. Bencana dimulai jika pria itu selalu menjawab apa yang saya tanyakan dengan jawaban yang menurut saya tepat, kedalaman luluhnya hati saya semakin jauh.

Jatuh cinta memang semudah itu. Teringat 5 tahun lalu, begitu banyak kriteria yang saya sisipkan melalui doa kepada Tuhan. Sampai akhirnya sekarang, saya memprioritaskan doa di urutan terakhir setelah doa di urutan utama sudah saya capai semua. Alhamdulillah. Tidak banyak yang saya deskripsikan dalam doa urutan terakhir ini. Dari beberapa referensi yang saya baca, jika ingin meminta kepada Tuhan, harus dengan jelas dan detail. Awalnya, saya meminta dengan amat jelas, detail, dan terkesan sangat rumit.

Namun, saya masih percaya kepada Tuhan saya bahwa Dia pasti akan mengerti apa yang saya pinta.
Tuhan luar biasa menguji kesabaran saya mengenai doa prioritas terakhir saya pada batas usia maksimal 25 tahun ini. Perasaan saya yang mudah luluh ini dibuat seperti sedang menaiki roller coaster. Dinaikkan, lalu diturunkan, dibalik ke depan dan ke belakang. Entah apa yang sedang disiapkan olehNya, saya masih belum paham. Yang jelas, saya masih optimis bahwa Dia tahu yang terbaik, kapan waktunya, dengan siapa, dan bagaimana.

Beberapa membuat dada saya berdebar begitu hebat ketika hanya dengan mendengar suaranya saja, atau sekedar mendapat sapaan, Beberapa membuat ingin rasanya saya mengabdi sepenuhnya untuk surga Tuhan. Namun, saya lupa satu hal, perasaan luluh saya tidak akan cukup membuat saya bahagia. Saya lupa meminta kepada Tuhan agar perasaan yang saya miliki juga sama dengan perasaan pria itu.

Sabtu, 01 Oktober 2016

Kaya Raya

Beberapa bulan terakhir, saya disibukkan oleh pemikiran-pemikiran primitif bahwa tidak bekerja secara normal selayaknya orang kantoran lainnya akan jatuh miskin, tidak punya uang, tidak punya pergaulan, dijauhi banyak orang bahkan dicibir, dan lain hal yang sangat buruk untuk dipikirkan. Belakangan, saya keliru. Pilihan saya untuk tidak bekerja secara Office hour seperti kesibukkan saya satu tahun belakangan, memang sangatlah banyak pertimbangan. Bagaimana kedepannya, apakah nasib saya akan semujur teman-teman saya yang bekerja di kantoran, apakah saya akan memiliki uang untuk biaya hidup saya, apakah saya akan bahagia dengan pilihan yang saya ambil?
Terlalu banyak waktu luang yang saya miliki kala itu. Akhirnya saya memperluas imajinasi negatif ini sampai semenakutkan mungkin. Saya membuang jauh semangat positif yang selama ini coba saya tanamkan dalam kehidupan. Saya selalu berpikiran negatif kepada semua orang yang menatap saya, bahkan orang yang sedang saya pikirkan secara sepintaspun saya negatifkan. Sadar bahwa hal tersebut tidaklah akan membawa kebaikan dalam kehidupan dan masa depan saya, saya mencoba untuk membuang pemikiran itu jauh-jauh. Harus. Wajib.
Suatu hari di penghujung bulan Juli. Saya berkesempatan untuk berbincang dengan seorang dokter ahli kejiwaan yang mumpuni di bidangnya. Tentu, saya tidak akan melewatkan kesempatan ini sia-sia begitu saja. Namun, saya bingung, pertanyaan atau bahasan apa yang harus saya mulai untuk pembicaraan perdana kami. Kemudian, beliau melontarkan satu pertanyaan "Apa yang Anda lakukan 2 hari terakhir?".
"Saya diem aja, Dok di rumah karena sedang libur bekerja. Kalau gak libur ya kerja. Selama libur saya mengerjakan pekerjaan rumah biar gak bete &^I&()(*^1253712"
"Saya hanya bertanya, apa yang Anda lakukan 2 hari terakhir? Adakah hal yang Anda takutkan sampai jawabannya sangat panjang begini?"
"Iya, Dok. Saya di rumah saja. Karena sedang libur kerja dan merubah haluan gaya hidup, saya takut tidak bisa menikmati hidup."
"Memang, gaya hidup di Ibu kota dengan kota kelahiranmu ini berbeda sekali. Anda takut miskin, kan? Penghasilan Anda tidak sebanyak di Ibu kota, kan?"
Kemudian, saya menelan ludah, berusha menjelaskan sejelas-jelasnya keruitan kata yang akan saya ungkapkan dari pikiran saya. "Saya takut tidak punya uang, karena saya sudah tidak bekerja kantoran dan mendapatkan penghasilan tetap setiap bulannya." Ketika kalimat tersebut saya lontarkan kepada dokter kejiwaan saat saya berkonsultasi, beliau hanya tertawa.
Kemudian, beliau berkata "Nabi kita berpesan kepada umatnya bahwa orang yang paling miskin di dunia adalah orang yang takut miskin."
Saya termenung sejenak, ingin sekali menimpali kalimat dokter dengan ribuan kata. Saya sehat, saya punya orang tua yang luar biasa baik, dididik dengan penuh kasih sayang dan makna, punya saudara yang begitu peduli, punya guru-guru yang amat hebat, punya teman dan sahabat yang luar biasa menyenangkan. Maka, apa lagi yang saya takutkan? Apakah saya benar-benar miskin? Tentu tidak. Saya kaya raya, sangat kaya raya. Miskin hanya sebuah kata yang mengandung banyak arti. Jika kata itu berdiri sendiri, maka masih harus dilakukan beberapa penalaran. Jika dimaknai dengan harta duniawi, mungkin saya termasuk golongan orang miskin. Usia 25 tahun, tidak mempunyai tabungan yang melimpah, tidak memiliki aset rumah maupun kendaraan, tidak memiliki simpanan perhiasan yang seberapa, seperti idealnya seumuran saya.
Kemudian, saya menelisik atas segala yang telah saya capai sampai pada usia 25 tahun ini. Tidakkah saya bersyukur atas segala apa yang saya nikmati sekarang? Tidakkah harta dunia hanya titipan Tuhan. Ya, benar Sesungguhnya saya sangat kaya raya atas diri saya sendiri.

Senin, 22 Agustus 2016

Baik vs Jahat



Sebagian orang percaya, manusia dikategorikan menjadi 2 golongan. Golongan yang bersifat baik, dan golongan yang bersifat jahat. Begitupun saya. Sampai usia saya menginjak 25 tahun, masih mempercayai hal semacam itu. Saya terus bertekad untuk menjadi orang yang bersifat baik, dalam segala aspek dan bidang. Tentunya, baik terhadap Pencipta saya, dan makhluk-makhluk di sekeliling saya. Berusaha untuk tidak menjadi orang jahat, karena dapat merugikan, dinilai jelek oleh Sang Pencipta, dan tentunya dari semua makhluk hidup, terutama manusia di lingkungan saya.

Hingga akhirnya suatu peristiwa menyadarkan saya bahwa hal tersebut sedikit keliru. Selama ini, hampir semua manusia menilai dirinya sendiri berusaha untuk melakukan yang terbaik dalam segala hal, baik dimulai dari perencanaan, proses, hingga penilaian dari Sang Pencipta dan makhluk lainnya. 

Lalu, bagaimana dengan para penilai itu? Apakah yang selama ini manusia lakukan dengan niat dan proses yang baik, akan selamanya dianggap baik oleh para penilai? Jawabannya adalah belum tentu.
Seperti kata adil. Makna kata adil masih rumit. Adil bukan berarti sama rata, namun sesuai dengan porsi dan kebutuhan masing-masing. Sama halnya dengan penilaian baik dan jahat. Segala yang kita lakukan dengan niatan dan tujuan yang baik, belum tentu akan dinilai baik oleh manusia. Ada makna di balik itu semua. Tentunya, hanya Sang Penciptalah penilai yang seadil-adilnya. 

Tidak ada manusia yang bercita-cita menjadi orang jahat. Orang jahat sekalipun, memiliki sisi baik di dalam alam bawah sadar mereka. Mereka dinilai jahat oleh manusia lainnya karena memiliki interval yang jauh berbeda dengan indikator orang baik. Bagaimana jika semua manusia di dunia ini berbuat baik? Tentu tidak akan pernah ada pembeda antara baik dan jahat.

Dari situ saya mempunyai sudut pandang lain mengenai sifat baik dan sifat jahat. Semua manusia di dunia ini pada dasarnya bersifat baik. Yang membedakan adalah tingkatan kebaikan mereka. Bagi yang tingkatan kebaikannya tinggi, maka dia bersifat baik. Namun, bagi manusia yang tingkatan kebaikannya rendah, maka dia bersifat jahat. Mungkin, ini adalah penilaian dari sesama manusia. Manusia yang berbuat jahat terhadap manusia, pasti akan dinilai bersifat jahat oleh manusia lainnya.

Lalu, bagaimana dengan Tuhan? Tentunya, Tuhan memiliki cara penilaian yang berbeda dari ciptaanNya (manusia). Tuhan adalah penilai yang seadil-adilnya. Tuhan tahu apa yang terbaik untuk ciptaanNya. Tuhan maha adil. Dia menilai segala aspek yang tidak dapat dinilai oleh kasat mata manusia, dan berhak menempatkan pada surga dan nerakaNya.

Jika dinilai tidak adil dan bersifat jahat, maka itu semua adalah penilaian dari sesama manusia. Percaya penuh kepada Tuhan, bahwa penilaian Tuhan mengenai tingkatan kebaikan itu masih amat sangat rendah, bukan masuk pada kategori jahat. Hanya saja, kunci kenaikan tingkatan kebaikan itu ada pada diri sendiri. Meminta maaf dan berusaha untuk tidak melakukannya lagi, bahkan akan menjadi lebih baik lagi pada masa yang akan datang merupakan usaha  untuk mendapatkan kenaikan tingkatan kebaikan dari Tuhan.

Rangkasbitung, 22 Agustus 2016
Setelah hujan

Senin, 01 Agustus 2016

Heksa

Penghujung bulan Juni ini, rasanya sayang sekali dilewatkan begitu saja tanpa ada tulisan yang sesekali mungkin akan menjadi bukti ketika saya menua nanti. Tahun 2016 sudah hampir terlewati setengah jalan.
 
Banyak sekali hal pahit yang harus saya lewati. Menelan bulatan besar yang amat pahit dengan mulut saya sendiri, tidak bisa dibagikan kepada orang lain, adalah gambaran untuk peristiwa Januari sampai Mei lalu.
 
Mungkin saya begitu naif, menantang Tuhan untuk memberikan sedikit rasa geli pada perasaan dan pertahanan diri saya. Ya, saya terlalu bahagia, terlalu terlena dengan apa yang saya dapatkan. Sehingga, rasa syukur saja tidaklah cukup sebagai hal utama yang saya panjatkan kepada Tuhan. Saya menantang Tuhan untuk memberikan saya kehidupan yang lebih mendebarkan jantung, mengoyak perasaan, melelahkan pikiran.
 
Tuhan mengabulkan doa saya. Memberikan apa yang saya pinta. Mengambil segala kesabaran dan pertahanan diri saya, sampai akhirnya saya mengeluh, mengadu, bahkan siap untuk menyerah di atas hamparan sajadah.
 
Begitu sakit perasaan ini. Begitu banyak yang tersakiti, dan dengan begitu, Tuhan membuktikan kehadiranNya. Kata maaf saja mungkin tidak cukup. Hanya waktu yang akan menyembuhkan luka yang cukup sulit disembuhkan ini. Mungkin satu atau dua tahun. Ah, masih kurang rasanya.
 
Badai ini mungkin telah berlalu, perkiraan saya. Kiranya Tuhan masih mengijinkan saya untuk terus meminta segala hal yang saya butuhkan atau yang saya inginkan, bahkan yang tidakpun akan saya pintakan kepadaNya. Kemudian Dia memberikan apa saja yang terbaik untuk saya, mengangkat derajat saya sebagai hambaNya yang tidak seberapa taat ini dengan beberapa ujian. Tugas saya hanyalah bersyukur dan terus meminta. Itu saja.
 
Kediri, 29 Juni 2016