Kamis, 24 Oktober 2013

Hari itu, Kamis 24 Oktober 2013

Tuhan kadang memang terlalu baik. Sering kali saya menulis rasa syukur, mungkin yang membaca juga jengah. Tapi ya gimana lagi, memang saya sedang bahagia. Pilih mana, membaca blog yang terus-terusan berisi tentang keluhan, atau terus-terusan berisi tentang rasa syukur.

Semakin tumbuh dewasa, saya merasa ingin selalu berbagi semuanya dengan orang tua dan keluarga. Karena merekalah yang mendidik dan membesarkan saya menjadi seorang pribadi yang seperti ini. Tidak mempunyai rahasia sekecil apapun di depan ibumu adalah suatu prestasi, menurut saya.

Kemarin pagi, selepas UTS di kelas, saya melangkah gontai berusaha untuk melupakan apa yang saya tulis di kertas lembar jawaban saya. Saya mendapatkan tawaran yang sebetulnya merupakan batu loncatan saya untuk mengejar karir. Ya, alasan saya menjalani pendidikan kembali adalah menjadi seorang guru, gurunya mahasiswa. Walaupun masih menjadi seorang asisten, tapi saya percaya itu adalah sebuah kesempatan amat sangat besar untuk saya mengembangkan karir.

Keputusan di tangan saya, tapi entah mengapa saya langsung teringat pada Ibu. Tidak menunggu waktu, sayapun langsung menelpon beliau dan menceritakan semuanya. Beliau sangat excited dan memberikan saran yang amat sangat menenangkan hati. Sayapun menerima tawaran tersebut.

Ada Hadist Rasul yang menyatakan "Ridho Allah ada pada Ridha orang tua, dan murka Allah ada pada murka Orang tua." InsyaAllah saya akan dan selalu berusaha untuk menanamkan kalimat tersebut dalam sanubari saya. Apapun yang saya lakukan karena ridha dari orang tua, saya percaya bahwa Allah juga meridhai langkah saya.

Hari itu, begitu indah. Kamis 24 Oktober 2013.

Setibanya di kantor Pusat Studi Sertifikasi Guru UNJ, saya duduk di meja kerja saya. Di atas meja tergeletak benda kecil berwarna hitam bertuliskan "Nexus 8GB". Saya langsung bertanya kepada teman sekantor "Ini flashdisk siapa?". Mereka menjawab dengan senyuman "Dari Mas Umam, buat kita dikasih satu-satu."

Alhamdulillah, Tuhan itu baik baik pas kemarin. Saya bingung mau ngucapin apa lagi sama Tuhan...

Sabtu, 05 Oktober 2013

Perpanjang SKCK

Selamat pagi, selamat hari libur, hari Minggu.

Sebenarnya begini, awal bulan September lalu saya punya pengalaman kurang menyenangkan terkait dengan instansi pemerintah yang melayani kebutuhan masyarakat. Ingin rasanya bercerita, namun apa daya saya terlalu banyak mengisi waktu saya dengan hal-hal lain yang lebih penting.

Ceritanya begini...
Sabtu pagi, 14 September 2013 lalu saya berniat memperpanjang Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK) di Polres tempat saya tinggal. Pukul 07:30 WIB (semua waktu yang saya tulis itu waktu Indonesia bagian barat) saya tiba di kantor Polres tersebut. Disitu tertera bahwa jam operasional pelayanan pembuatan SKCK pada hari Sabtu dimulai pukul 08:30-12:00. Okelah, saya terlalu pagi dan bersedia menunggu selama 60 menit sampai loket SKCK buka.

Maaf kalau agak burem, foto pake kamera BB Gemini. hehee

Setelah satu jam menunggu, akhirnya loket SKCK buka, sayapun menjadi pengantre nomer satu (karena datangnya kepagian). Dengan wajah penuh harapan segera selesai urusan, saya menunjukkan SKCK lama saya. Namun, petugas bagian loket tersebut mengembalikan SKCK lama saya dan memberi tahu: "Bu, ini SKCK dari Polsek, tidak bisa diperpanjang sebelum Ibu sidik jadi karena di Polsek kan belum sidik jari. Nanti sidik jarinya di sebelah sana ya." sambil menunjuk ke arah loket sidik jari yang belum buka. Hmm.. Baiklah, tugas saya tambah satu lagi, menunggu di loket sidik jadi untuk sidik jari sebagai persyaratan SKCK. Iya, DEMI SKCK!!!

Kebetulan hari itu tidak banyak orang yang berkepentingan seperti saya, jadi loket pembuatan SKCK tersebut masih sepi. If you know what I mean, udahmah sepi, sendirian, menunggu pula. Waktu itu saya masih berkutat dengan Smartphone saya, demi mengusir jenuh, menunggu loket sidik jari buka. Namun, selama 90 menit saya menunggu, loket sidik jari tak kunjung dibuka. Muka saya sudah mulai memerah, gigi saya beradu, tangan saya mulai mengepal. Tapi saya tetap bertahan, walaupun orang yang datang setelah saya sudah selesai mengurus SKCKnya tanpa berurusan dengan loket sidik jari. DEMI SKCK!

Tepat pukul 09:30, akhirnya loket sidik jari buka juga. Ketika saya masuk ruangan sidik jari, saya refleks bertanya "Pak, ini kok siang amat ya bukanya, bukannya jam operasionalnya jam 8? Saya kan nunggunya lumayan lama." Kemudian Pak Polisi menjawab "Maaf yah bu, agak lama. Soalnya saya masih single, jadi tadi nyuci sendiri, nyetrika sama masak sendiri. hehehe" KOK BAPAK MALAH CURHAT?!!!

Percakapan tadi lumayan mencairkan suasana, saya menunggingkan kedua sudut di bibir saya. Kekesalan menunggu selama 90 menit tadi lumayan mencair. Setelah sidik jari selesai, sang Pak Polisi nyeletuk "Bu, ini sidik jarinya sudah selesai, Ibu boleh ngasih seikhlasnya." ((((DHEG))))

Saya kaget. ini saya yang norak atau memang sudah peraturannya? Kan jelas-jelas tertera kalau pembuatan SKCK memang harganya Rp 10.000,-


Ini tulisannya

Kebetulan, saya kan pelanggan pertama, uang saya Rp 100.000,- dan Bapak Petugas itu berkata "Yasudah, nanti Ibu bayar SKCK saja dulu, kembaliannya boleh bayar ke saya, soalnya saya tidak ada kembalian kalau uangnya segitu." Yassalam, bener kan...

Horay, akhirnya saya sudah sidik jari, langsung menuju loket pembuatan SKCK dan hanya menunggu 5 menit saja, SKCK saya sudah jadi. Alhamdulillah...

Setelah jadi, saya diminta membayar uang sebesar Rp 20.000,- dan tentunya harus legalisir. Kebetulan mesin fotocopy di kantor Polres tersebut rusak, jadi saya harus fotocopy lumayan jauh, untungnya saya bawa kendaraan.

Hanya dengan waktu 10 menit, saya sudah selesai fotocopy dan legalisir itu SKCK. Semuanya selesai, saya pikir saya langsung pulang, tapi tidak. SKCK sudah selesai, legalisir sudah selesai, tapi saya dipanggil kembali oleh loket SKCK. Petugasnya memberi tahu saya dengan pelan "Bu, ini ibu bisa kasih sumbangan seikhlasnya untuk legalisir." sambil menyodorkan kwtansi pembuatan SKCK yang disitu harganya Rp 10.000,-. Dengan cepat saya mengeluarkan uang sejumlah itu sambil mengucapkan terima kasih dan pergi dari kantor Polres dengan tergesa-gesa. Iya, saya ingat, saya ingat belum memberi uang 'pelicin' di loket sidik jari tadi, namun saya tak sudi memberinya.

Jadi, total uang yang saya keluarkan untuk memperpanjang SKCK adalah:
Pas SKCK jadi: Rp 20.000,-
Fotocopy         : Rp   2.000,-
Legalisir           : Rp 10.000,-
Pelicin Sidik Jari: (seharusnya minimal ngasih Rp 10.000,-)
JUMLAH TOTAL UANG YANG SAYA KELUARKAN: Rp. 32.000,-
 Saya hanya dapat ini saja

Kesimpulannya, saya lumayan kecewa dengan pelayanan publik yang model seperti ini. Sekian. Ira Arini

Selasa, 27 Agustus 2013

Iklan KB

Sering lihat iklan KB (Keluarga Berencana) di TV? Banyak sekali pesan yang ada di iklan tersebut. Dimulai dari pesan utama yaitu mempunyai 2 anak saja sudah cukup, sampai ke pesan-pesan pendamping yaitu usia matang bagi pria dan wanita untuk berkeluarga.

Iya, pada iklan tersebut menjelaskan bahwa usia ideal laki-laki untuk berkeluarga adalah 25 tahun, sedangkan untuk perempuan adalah 21 tahun. Lalu, apa lagi yang harus dipedulikan? masalah?

Tentu ini masalah, karena usia saya sudah 22 tahun. Di usia ini, saya adalah perempuan, sudah melewati masa 1 tahun ideal untuk berkeluarga, dan merasa enjoy saja selagi belum dibilang "perawan tua" oleh orang-orang sekitar.

Di usia 22 tahun ini, Tuhan memberikan saya amanah, yaitu rasa percaya dan kenyamanan kepada lawan jenis. Entah sudah berapa kali rasa itu hinggap pada beberapa pria yang saya kenal. Namun, semakin bertambah umur, perasaan yang saya titipkan pada pria itu makin bermasalah. Kenapa yah??

Waktu jaman SMA, nangis karena diputusin pacar, nangisin pacar orang lain atau nangisin orang yang disuka tanpa dia kenal siapa kita, itu rasanya dunia hendak kiamat. Padahal, jika dipikir masak-masak, itu adalah proses dari pendewasaan. Suatu hari, akan datang masalah yang lebih berat dari itu. Percayalah, Tuhan sedang mengujimu dan Dia akan menguji sesuai dengan kemampuan hambaNya

Usia segini sudah memasuki masa-masa dimana kamu sudah melewati beberapa ujian, sudah mulai serius untuk menjalin hubungan. Tapi ingat, ujian Tuhan tak berhenti sampai usia SMA. Itu semua adalah caraNya untuk membuatmu lebih dewasa, lebih beriman, lebih bisa menyikapi hidup.

Saya yakin, ujian berat di usia segini akan terlewati. Maybe he's not the best for me. I have to looking for another guy. What I get is what I did.

Jadi intinya apa? Bukannya saya pengen buru-buru menikah atau tidak mau dibilang perawan tua. Yaaa mungkin sekarang sedang diuji oleh Tuhan untuk menjadi lebih dewasa, naik kelas, dan mendapatkan yang terbaik.

Ira Arini

Minggu, 18 Agustus 2013

WAWANCARA



 Alhamdulillah...


Walaupun predikat pengangguran masih belum lepas, tapi tetep bahagia pake banget. Terlihat dari postur tubuh yang semakin lebar (makan terus dari pasca hari raya), jerawatan (perasaan yang terpendam), uang yang cukup buat beli kerupuk ja*lay (karena pas hari raya jualan Pop Ice), serta bahagia lahir batin (dikelilingi orang tersayang).

Ini wawancara fiktif dengan diri sendiri....

Q: Jadi, nikmat pengangguran manakah yang kau dustakan?
A: Selama perut belum kelaparan, selama masih ada kasur empuk untuk ditiduri, dan selama masih ada sosok untuk berbagi segala hal (ibu), saya menjalani fase bulan ke lima menjadi seorang pengangguran.

Q: Lah, kemaren bukannya udah kerja?
A: Udah, karena banyak alasan dan ibu sakit, saya resign.

Q: Terus sekarang ngapain aja dirumah?
A: yaa gitu. Ngerjain pekerjaan sampingan, nyuci, nyetrika, ngepel (semua dilakukan di Rangkas, no more Jakarta).

Q: Gak berusaha nyari kerja?
A: Berusaha dan berdoa insyaAllah sedang, semuanya hanya Allah yang menentukan. kalaupun belum kesampaian, mungkin doa dan usaha saya saja yang belummaksimal.

eiiitttss... jangan suudzon dulu. Malu lah sama status pengangguran yang disandang ini. Malu masih minta makan sama orang tua.

Q: Terus kalau malu, masih tetep mau makan?
A: Yaiyalah makan, yamasa gak makan. Jangan terlalu idealis jadi orang. Akuin kalau kamu masih butuh orang tua. Toh orang tua juga ngerti keadaan kamu. Tapi jangan keenakan, intinya ya usaha.

Q: Usaha apa aja yang udah kamu lakuin, Ra?
A: Saya sudah berusaha, tadi kan saya sudah bilang. Mungkin Allah masih mempersiapkan yang terbaik buat saya kedepannya.

Q: Aamiin...
A: Iya Aamiin. Makasih yaa...

Selasa, 25 Juni 2013

Cocok sih... Tapi....

Cocok sih... Tapi dia pacarnya sahabat sendiri.
Cocol sih... Tapi dia kakaknya gebetan sendiri.
Cocok sih... Tapi dia... dan sebagainya dan sebagainya.
Yaah, asal jangan "Cocok sih... Tapi dia cewek." yaa itumah sahabat sendiri kali.

Ungkapan di atas memang kadang jadi skandal hati tersendiri (kecuali ungkapan yang terakhir). Kadang memang kecocokan itu tidak diduga dan tidak dinyana. Datang begitu saja. Mencari yang lebih baik diantara yang baik-baik, tapi bukan yang terbaik. Karena yang terbaik hanya milik Tuhan #terbundadorce.

Ini pertama kalinya menulis mengenai hati dan perasaan, selebihnya hanya pengalaman pribadi saja. Bukan bualan, bukan fiktif belaka. Hanya menulis apa yang sedang dirasakan.

Pokoknya seminggu ini pengennya protes terus sama pemerintah. Diantaranya: turunkan harga BBM jadi Rp 4.500,- lagi, hapuskan "friendzone" dari muka bumi ini, dan tentunya cocokin hati sama yang bukan pacarnya sahabat atau kakaknya gebetan.

Sekian dan pinang aku dengan Bismillah sekarang juga.

Ira Arini

Kamis, 13 Juni 2013

I'm Not Morning Person


Siang...


Saat nulis blog ini, sedang mendengarkan khutbah Jumat di sekolah. Ya, di sekolah tempat saya bekerja. Ya, alhamdulillah sekarang saya sudah bekerja, sudah mengurangi 1 angka pengangguran di muka bumi ini, sudah mulai naik kelas satu tingkat dari masa kuliah, namun masih saja meminta uang makan sama orang tua, dikarenakan gajiannya bulan depan. muahehehehee...

Almost everyday, I wake up in every 5 o'clock, karena masuk sekolah pukul 6:30 WIB. Lokasi tempat kerja yang lumayan jauh dari kostan (kurang lebih 1 jam perjalanan) memaksa saya untuk bangun jam segitu, berangkat jam segitu. Setiap hari...

I'm not morning person, actually. But I try so hard to be a morning person. Lebih dari 12 jam berada di luar lingkar kamar-kasur-guling memang agak tidak manusiawi. Rasa kantuk yang luar biasa emang kadang bikin kerja jadi males. Bisa gak tidur 15 menit lagi, 5 menit lagi, atau 1 meniiit lagi? Tapi inilah hidup, inilah Jakarta, keras brooo....

Mungkin masa leha-leha 2 bulan gak ngapa-ngapain di rumah sudah berakhir, masa main-main ke sana ke mari sama temen-temen juga berakhir. Tapi masa belajar? oooh tentu tidak. Prinsip belajar sepanjang hayat sudah pasti akan saya terapkan terus-menerus. Selama bekerja di sini, yang saya keluhkan adalah jarak dan waktu. Jarak yang mungkin tidak terlalu jauh namun amat sangat memakan waktu. Ya, karena macet.

Pernah saya menangis, hampir menyerah karena macet Jakarta yang amat sangat menyebalkan. Namun, ketika ingat beberapa hal, saya tersenyum sendiri. Seakan menertawakan diri sendiri, air mata itupun tak jadi jatuh. Saya ganti dengan senyum kecil di kedua ujung bibir saya.

Mengapa saya harus mengeluh akan pekerjaan saya? Toh teman-teman seangkatan dan sejurusan dengan saya sedang berjuang mati-matian untuk skripsinya.

Mengapa saya masih saja merindukan orang tua padahal baru 2 minggu tidak pulang? Karena saya butuh mereka. Pertama, soal kaget karena sebelumnya setiap hari bertemu, ini 2 minggu gak ketemu. Kedua karena finansial. hehee #teteup

Mengapa saya tidak mencari tempat tinggal yang lebih dekat dengan tempat kerja? karena saya kurang nyaman dengan lingkungannya. Lebih nyaman dengan lingkungan kampus yang dulu. Toh bulan September saya akan bersekolah lagi di kampus yang sama. Yaa sekalian numpang juga. hehehee

Blog ini, walaupun jarang diisi, walaupun baru 2 tahun saya melahirkannya, tapi setidaknya menjadi saksi hidup saya selama 2 tahun ini. Selama 2 tahun juga saya tidak pernah sesering ini untuk bangun pagi, because I'm not morning person. Terima kasih...

Ira Arini

Jumat, 07 Juni 2013

Proudly Present


Good afternoon.


Sekali-kali nyoba nulis fiksi. Kali ini mencoba menyesuaikan dengan background ilmu yang telah saya pelajari 5 tahun terakhir. Iya, mengenai kurikulum.

As we known, kurikulum 2013 ini lagi heits banget di ranah pendidikan. Seantero Indonesia heboh dibuatnya. Bedanya apa sama KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan)? Kok ganti-ganti terus yah kurikulumnya? Ini dia review saya mengenai perbedaan KTSP dengan Kurikulum 2013.

  • Tujuan pendidikan KTSP mengacu pada UU No 20 th 2003. Tujuan pendidikan Kurikulum 2013 mengacu pada UU No 17 Th 2010.
  • KTSP berbasis mata pelajaran, jadi tiap-tiap mata pelajarannya dipisah. Kurikulum 2013 berbasis tematik, tiap-tiap mata pelajaran diintegrasikan ke dalam satu tema yang menjadi acuan atau bahan ajar.
  • Pada KTSP ada Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar ditentukan o/ pemerintah, smntara Indikator oleh tiap-tiap satuan pendidikan. Pada kurikulum 2013 digunakan Kompetensi Isi (KI) berbasis tematik, sehingga dalam tiap-tiap pelajaran diintegrasikan dengan satu tema.
  • Silabus KTSP dibuat oleh masing-masing satuan pendidikan, sedangka kurukulum 2013 dibuat oleh pusat untuk seluruh Indonesia.
  • Penilaian KTSP berfokus pada output, sedangkan kurikulum 2013 berfokus pada proses dan output.
  • Pengelolaan kurikulum KTSP oleh satuan pendidikan, sedangkan pengelolaan kurikulum 2013 oleh pemerintah pusat dan daerah.
Itu tadi perbedaan antara KTSP dengan Kurikulum 2013. Tadi itu versi saya yah, jika ada yang kurang-kurang atau berlebihan mohon kritikannya. This is the first time for me, nulis beginian di blog. Thanks for your kind.


You can also read article about KTSP vs Kurikulum 2013

Ira Arini (baru lulus jadi sarjana Kurikulum dan Teknologi Pendidikan)

Minggu, 02 Juni 2013

Everyone Enjoy His/Her "Pengangguran" Period

"Setelah lulus kuliah mau ngapain?" I think, this is one of a lot of common questions. Pasti jawabannya mau kerja. Pasti banget!

Tadinya sih, mau antimainstream dengan menjawab selain yang di atas tadi. Sekitar 2 bulan diam di rumah, membantu pekerjaan rumah karena tidak ada PRT, membantu usaha orang tua, sambil merenungkan diri mau apa dan bagaimana kehidupan setelah lulus kuliah ini.

Tapi kalau dipikir lebih jernih lagi, dengan ijazah strata 1 yang saya peroleh, apakah setara dengan pekerjaan yang saya lakukan sekarang? Yaa membantu orang tua memang kewajiban. Kebanyakan kata tapi, ya tapi jika saya begini terus, ilmu yang saya dapatkan akan berkarat, bahkan keropos dan akan hilang dengan sendirinya.

Melihat teman-teman yang lain sudah bekerja, bukan tidak dipungkiri saya juga iri. Yaa bagaimana lagi. Hidup ini pilihan. Ini pilihan saya, walaupun banyak yang mencibir. Toh ujungnya saya yang merasakan. Toh orang tua saya merestui atas langkah besar yang saya ambil ini. Semoga ini keputusan terbaik.

Eeiiittts. Saya bisa dibilang pengangguran ya. Bisa juga dibilang sedang merenungi diri sendiri, memahami makna hidup. Doakan saja masa ini lekas berakhir. Semoga...

Aamiin :)

Ira
Ditulis pada tanggal 26 Mei 2013, pukul 23:44 WIB

Inikah Bagian dari Usaha?

Sering orang bilang, inspirasi itu datang biasanya tengah malam begini, atau waktu subuh, saat otak masih segar untuk digunakan menuangkan ide.

Sebenarnya ini bukan ide, tapi sedang ingin share pengalaman saja.

Alhamdulillah sudah mendapat gelar Sarjana bulan Maret lalu. Langkah selanjutnya ya mencari kerja. Kebetulan, kampus yang telah memberikan ilmu di jenjang Strata 1 tidak menyalurkan mahasiswanya untuk bekerja pada lembaga tertentu (ikatan dinas). Kalaupun iya, mungkin itu berlaku bagi mahasiswa berprestasi, bukan untuk saya yang hanya seonggok mahasiswa kupu-kupu (kuliah pulang-kuliah pulang). Nilaipun pas-pasan. Alhamdulillah bisa lulus.

Setelah wisuda, terasa sekali banyak pertanyaan yang menjadi beban. Selain karena sudah tidak menjadi anak kost lagi, tinggal di rumah dengan menyandang gelar baru (pengangguran) itu amat sangat meresahkan. Meresahkan bagi diri keluarga, lingkungan, dan diri sendiri tentunya.

Tanpa panjang lebar, selayaknya dilakukan para fresh graduated, ya mencari pekerjaan. Tentunya pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan, kesempatan, minat dan bakat. Berhubung basic saya dari pendidikan, walaupun tidak melulu dicetak menjadi guru, akhirnya nekad untuk melamar pekerjaan sebagai tenaga pendidik.

Beberapa lembaga pendidikan di kota kelahiran, tempat dibesarkan, serta tempat tinggal saya sekarang, sudah saya coba kirimi surat lamaran. Dengan bekal ilmu yang dimiliki, saya berusaha menjelaskan maksud dan tujuan saya datang ke lembaga tersebut. Tentunya dengan membawa berkas yang relavan selayaknya orang mencari kerja.

Sekitar 8 lembaga pendidikan telah saya datangi bulan April ini, Alhamdulillah hanya satu yang memberikan feedback. Itupun dengan penuh rasa sesal, saya melewatkan kesempatan itu karena faktor geografis. Bagaimana dengan lembaga lain? Mungkin belum memberi tahu kelanjutannya atau tidak sama sekali. Lembaga yang saya lamar itu semuanya adalah lembaga pendidikan yaa.

Hikmah yang saya ambil dari cerita di atas:
1. Kota kelahiran, dibesarkan, serta tempat tinggal saya sekarang masih melihat "anda siapanya siapa?" Itu sangat terasa sekali ketika saya mencoba berbicara menjadi diri saya sendiri.

2. Ada 3 faktor yang mungkin bisa memperlancar untuk bisa bekerja di kota saya. 3D (Duit, Dulur, Dekeut) itu bahasa sunda, silakan mengartikan sendiri.

3. Saya yakin, mungkin sekarang orang-orang itu menganggap saya sebelah mata karena saya masih belajar untuk berdiri. Someday, we'll see...

4. Inilah bagian dari usaha, berdoa sudah pasti dilakukan. Sebagaimana yang sudah saya tulis di notes sebelumnya.

Selamat malam...
Ira Arini

ditulis pada tanggal 23 April 2013, pukul 23:30 WIB

Adil?

Pagi :)

Pernah merasa doamu langsung terkabul? Bahkan kenyataannya lebih indah dari apa yang kamu harapkan dalam doamu?

Atau pernah berdoa terus menerus namun belum terkabul juga? Betahkan kamu sampai hampir putus asa untuk terus berdoa dan menganggap Tuhanmu tidak mendengarkan doamu?

Sesungguhnya, tidak ada doa yang tidak dikabulkan oleh Tuhanmu. Tuhanmu adil kepada setiap hambanya. Ingat, adil bukan berarti menyama ratakan, tetapi disesuaikan dengan kebutuhan.

Mungkin saja doamu yang langsung terkabulkan adalah ujian untukmu, ujian apakah kamu akan tetap berdoa kepadaNya. Kalaupun doamu belum terkabul, teruslah meminta.

Tuhan menyiapkan yang terbaik untuk setiap hambaNya. Doanya dikabulin sukur, gak dikabulin juga terus aja berdoa.


Ira
ditulis pada tanggal 30 Maret 2013, pukul 8:05 WIB

Trimester 2013

Baca judul notes ini pasti kaget. Iya, trimester 2013. Bukan karena sedang hamil atau apalah, tapi memang masuk ke istilah sudah melewati 3 bulan pertama di 2013 ini.

Padahal baru 3 bulan, tapi kok banyak banget yang ngerubah haluan hidup ya? Ah, tahun ini begitu ajaib. Seakan memutar balik kehidupan yang tahun sebelumnya. Semuanya berubah, terasa asing, dan mungkin ini rencana terbaik dari Tuhan. Tentunya untuk hambaNya jadi lebih baik.

Bulan Januari...
Resmi menjadi seorang sarjana pendidikan, walaupun nilai kurang memuaskan, tapi tetap jadi kebanggaan orang tua. Alhamdulillah, target jadi sarjana di usia 21 tahun telah tercapai.

Bulan Februari...
Bulan paling indah, paling diharapkan sepanjang tahun dari tiap tahunnya. Menginjak usia 22 tahun pada tanggal 23, melewati hari itu bersama orang-orang terkasih, pelukan hangat keluarga, serta di tengah kegelisahan tentang penyakit Kakek. Kakek yang biasa dipanggil Ama, sosok yang amat sangat dikagumi, dihormati, dan menjadi panutan untuk istri, anak, menantu, cucu serta cicit. Ketika semua ketidakpastian itu menerkam hari bahagia tanggal 23, setelah 3 hari kemudian beliau wafat. Semoga amal ibadah beliau diterima di sisiNya. I'm so sad...

Bulan Maret...
Entah ini bahagia atau apa, melewati hari membanggakan dengan mengenakan kebaya nan mewah serta toga yang membungkus badan, tanpa kehadiran seorang kakek. Namun hari itu terlalu larut dalam kebahagiaan, yang saking bahagianya sampai menitikan air mata sambil memeluk ibu. Iya, Ibu adalah orang yang paling berjasa dalam meraih gelar sarjana.

Ini hari paling bahagia, pertama kali pake bulu mata palsu :D

 with lovely mom and dad

with TPers UNJ 2008

Di hari wisuda itu, banyak sekali orang-orang tersayang yang mendampingi, hidup jadi lebih terasa berharga sekali. Lebih terasa berharga lagi, mengunjungi kota Yogyakarta bersama sahabat. Alhamdulillah, doaku terkabul. Setiap kali menginjakkan kaki di kota itu, selalu berharap bisa kembali lagi. Maret tahun lalu sudah ke sana, berdoa, kemudian Maret tahun inipun sudah ke sana kembali.

at Prambanan Temple, DI Yogyakarta

3 bulan ini benar-benar membuat hidup lebih berarti. Menghargai apa yang sudah dimiliki, mengenang apa yang telah meninggalkan, mengingat apa yang telah diraih, dan mengejar apa yang ingin di dapat.

Ira
ditulis pada tanggal 28 Maret 2013, pukul 21:47 WIB

22 Tahun. setua itukah?

Kemarin, tepat usia menginjak 22 tahun. Berhubung sering main sama yang seumuran, bahkan yang lebih muda, saya merasa sangat tua. Tapi, jika dibandingkan dengan Ama, kakek yang sedang terbaring koma di ruang ICU rumah sakit, usianya sudah 75 tahun, saya merasa jauh lebih muda.

Bersyukur? Tentu. Ketika bangun tidur tepat tanggal 23, mengucapkan "Alhamdulillahilladzi ahyana ba'dama amatana wailaihin nusur" dan mendapat pelukan hangat dari semua keluarga. Walaupun suasana sedang di rumah sakit, tetap hangat, tetap bahagia.

Resolusi usia 21 salah satunya sudah tercapai, mendapat gelar sarjana. Itu semua untuk orang tua tercinta, keluarga tersayang. Yang belum? Hahahhaaseuuum! Jangan ditanya yah, itu bisa dilihat di notes setahun lalu.

Harapan di usia 22 ini? Ya tentu diberikan nikmat kesehatan, rejeki dan kebahagiaan, untuk pribadi, keluarga, sahabat, teman, dan semua yang tersayang. (Ini kok gak ada eheumnya?) Iye emang gak punya. Puas?

Pengennya sih lanjut sekolah (itupun kalau ada biaya), kerja di tempat yang diinginkan (kakek sih nyuruhnya jadi bagian dari pemerintahan) but I doubt it, and finding someone special for my future (ceileeeeh), oke semuanya tolong di-Aamiin-in!

Aamiin!!!

Sekian.
Ira Arini

ditulis pada 24 Februari 2013, pukul 4:59 WIB

Meminta

Alhamdulillah, sebagian besar doa yang dipanjatkan, harapan yang ditempel di benak sudah terlewati. Masih mau ngeluh? Duh...

Diantara begitu banyak nikmat yang dikasih, baik yang disadari atau yang gak disadari, masih mau ngeluh, gitu?

People always think about how to get, not how to say thank, especially to God. Udah dikabulin doa lulus kuliah, masih pengen lulus dengan nilai bagus. Udah dikasih keluarga yang saling menyayangi, masih pengen keluarga yang serba berada. Udah dikasih kesehatan jiwa raga, masih pengen keindahan raga. Udah dikasih ini itu, masih pengan ina inu.

Emang gak akan ada habisnya. Tapi tenang aja sih. As I said before, Tuhan itu lebih seneng sama hambaNya yang minta terus kepadaNya. Makin sering dipinya, Dia makin pengen ngasih. Lain halnya dengan manusia, makin banyak dipinta, rasanya pengen ditinggalin aja, diludahin, diapain kek pokoknya gak minta lagi.

Itu bedanya Tuhan sama manusia. Yaiyalah! Masa Tuhan sama ama manusia. Selamat pagi, selamat menjalankan ibadah tidur sepanjang weekend ini, selamat bahagia, selamat banyak meminta kepada Tuhanmu. Siap-siap aja yah, ekspektasi kadang gak sesuai dengan kenyataan. Itulah gunanya ikhlas.

Ira

ditulis pada tanggal 16 Februari 2013, pukul 7:17 WIB

Merepotkan

Notes ini di tulis di kereta, ada banyak kejadian sepagi ini. Mungkin saya yang terlalu berlebihan sensitif, atau apalah. Tapi yang jelas, bawaannya sedih terus.

Alhamdulillah salah satu target dalam hidup sudah tercapai, tapi perjuangan belum berakhir. Demi memenuhi janji kepada orang-orang yang telah berjasa membantu saya hingga seperti ini, saya jadi merepotkan orang tua. Iya, orang tua yang amat sangat saya sayangi, dan merekapun begitu menyayangi saya.

Sesungguhnya, tidak ingin merepotkan mereka karena janji saya itu. Tapi mau tidak mau mereka pasti repot. Kali ini janji saya hampir terpenuhi, tapi masih saja ada kendala. Entah ini karena hati yang terlalu sensitif.

Saya membawa barang yang tidak lazim dibawa oleh seorang wanita, tepatnya lazimnya dibawa oleh kuli panggul. Ayah, yang sehari-hari mengerjakan pekerjaan rumah tangga karena Ibu yang sudah tidak sanggup lagi mengerjakannya. Saya tahu Ayah capek, butuh asisten rumah tangga, tapi susah carinya.

Pagi ini, saya terlalu merepotkan Ayah. Beliau ingin sekali mengantar saya sampai tujuan, namun saya tak tega. Ah, diantar sampai stasiun saja saya sudah amat tak tega. Saya memberi alasan yang sebenarnya tidak pasti. "Nanti barangnya di bawain si A kok, Yah. Gak usah nganterin Teteh segala. Sampai stasiun saja cukup."

Maaf, sudah amat sangat merepotkan. Orang tua saya adalah orang tua terbaik seantero jagad. Semua kebahagiaan saya, saya persembahkan untuk kalian. Semua keluh kesah saya, inginnya saya pendam sendiri. Tapi kalian selalu saja bisa membuat saya untuk tidak memendamnya. Ah, kalian bisa saja.

I love you, Ayah, Ibu...


Ira
Ditulis pada tanggal 2 Februari 2013, pukul 4:53 WIB

Lupa

Jadi gini...
Pernah ngerasa lupa rasanya ngantuk ampe gak bisa mulai cara meremin mata gimana?

Pernah ngerasa lupa rasanya laper ampe gak bisa mulai cara buka mulut?

Pernah nangis bercucuran air mata saking bahagianya?

Allah itu keren banget! Selain karena sedih yang amat sangat hebat, kejadian yang disebutin di atas juga karena bahagia yang amat sangat hebat. Udah gak tau lagi mau gimana cara berterima kasih sama Allah. Allah itu keren deh pokoknya.

So, kesimpulannya apa?

Iya, saya sedang bahagia. Makasih Allahku yang keren!


Ira
Ditulis pada pukul 21:52 WIB, 28 Desember 2012

Rabu, 09 Januari 2013

Ditangisi dan Menangisi

To the point aja nih ya...

Pernah mikir gini gak?: "Kalo ngeliat ibu atau orang tua sendiri lagi tidur, dipandangin dalam-dalam, lalu kepikiran seandainya ibu nafasnya berhenti. Apa yang dilakuin?" *langsung ketok meja* *naudzubillahi mindzalik*

Kalo boleh minta sama Allah, jangan sampe deh diduluin sama orang tua. Biar saya aja yang duluan. Gak mau banget ngeliat orang tua (terutama ibu) lagi tidur tapi gak nafas. Pasti gak bakal kuat banget ngadepin kenyataan yang ada. Plis, Allah... Biarkan saya saja yang duluan. *itu juga kalo bisa* *ini gak boleh maksa loh yaa*

Mending melihat jasad sendiri ditangisi sih daripada menangisi jasad orang tersayang. Gak sanggup banget ngalamin hal itu buat yang selanjutnya.

Ira
Ditulis pada jam 9:52 pm, 16 Desember 2012

Beruntunglah Kamu

Beruntunglah kamu...

Ketika Tuhan hanya memberimu rejeki yang hanya cukup saja, itu supaya kamu mencari yang lebih.

Ketika Tuhan memberimu kekurangan, itu supaya kamu tidak sombong atas apa yang jadi kelebihanmu.

Ketika Tuhan memberimu harta, itu supaya kamu mau berbagi dengan yang merasa kekurangan.

Ketika Tuhan memberimu masalah, itu supaya kamu lebih dewasa dalam melewati fase kehidupan.

Ketika Tuhan memberimu kebahagiaan, itu supaya kamu bisa lupa sejenak atas masalah yang sedang kamu hadapi.

Ira
Ditulis pada jam 8:02 am, 24 Desember2012

Senin, 07 Januari 2013

Posting Singkat

Lagi ikut Seminar Hasil Penelitian. Dikit lagi kalo dibolehin ikut sidang skripsi, abis itu jadi sarjana. Aamiin :))