2014...
Tahun yang paling singkat yang pernah saya alami. Banyak rejeki yang datang tak terduga. Tuhan memberi banyak hal tanpa saya minta, walaupun masih harus meminta hal lain yang belum diberikan Tuhan. Namanya juga masih hamba yang lemah dan harus terus meminta, jadi insyaAllah tidak akan putus asa untuk selalu berdoa dan berusaha.
Januari...
Hal yang paling diingat adalah merasa kehilangan dan harus merelakan apa yang telah saya tunggu selama 5 tahun terakhir. masa sulit itu terlalu berat untuk saya lewati. Tetapi, karena beberapa kesibukan kuliah dan pekerjaan, akhirnya saya bisa melewati itu semua dan masih bisa bersilaturahmi dengan baik.
Hampir saja lupa, saya pergi ke Bandung bersama teman-teman kuliah. one day trip tapi amat sangat menghibur saya dari keterpurukan GAGAL CPNS DAN GAGAL MENUNGGU.
Februari....
Bulan yang paling saya suka. Bulan dimana semua orang mengucapkan segala doa dan kebaikan untuk pertambahan usia saya. Pertama kalinya dalam hidup saya untuk meniup lilin di atas kue yang tertuliskan nama saya. Ah... Sahabat memang amat sangat saya cintai. Terima kasih untuk segalanya. Keluarga? mereka lebih manis. Mengucapkan lewat telepon sambil bernyanyi "selamat ulang tahun" membuat saya meneteskan air mata di ujung telepon. Terima kasih, Tuhan...
Maret...
Nothing Special. Masih diwarnai piknik ke pulau Untung Jawa, bolak-balik rumah sakit Persahabatan karena menemani sanak saudara yang harus menjalani pengobatan, dan tentunya kuliah disertai dengan bekerja selayaknya orang tak kenal waktu.
April...
Sedih... Harus kehilangan sosok yang sebulan terakhir saya sambangi di rumah sakit. Beliau pergi di usia yang masih muda, meninggalkan 2 orang jagoan dan tentunya dengan titel magister. beliau hebat.
Untuk mengurangi kesedihan saya, saya pergi ke Gunung Krakatau, Lampung, Wonosobo, dan tentunya Dieng! Sedikit mengobati kesedihan saya.
Mei...
Hari-hari saya masih dipenuhi dengan jadwal perkuliahan yang padat, bekerja paruh waktu, serta jalan-jalan menikmati masa-masa kesendirian bersama teman-teman.
Juni...
Ditinggal orang tua ke Bangka, saya gak diajak :(
Tapi terbayar dengan teman-teman yang datang ke rumah dan memboyong saya ke Tanjung Lesung!!!
Dipenghujung semester perkuliahan, saya menjadi pembicara dalam pelatihan untuk pertama kalinya. Gugup sekaliiiii.... Setelah itu, saya pergi ke kota Cirebon bersama teman-teman sekelas. Dilanjutkan dengan mempersiapkan diri untuk menghadapi bulan Ramadhan.
Juli...
Pekerjaan menumpuk, rutinitas Ramadhan yang saya jalani sejak kelas 6 SD buyar karena pekerjaan. Tahun ini saya merasa sedih karena tidak konsisten terhadap janji saya kepada Tuhan.
Agustus...
Rekreasi kembali ke Tanjung Lesung bersama kelompok yang berbeda. Berpisah dengan adik tersayang Hilda Septiani yang harus mengemban tugas mengajar ke luar daerah perbatasan di Kalimantan nun jauh di sana.
Ulang tahun Ibu yang ke 49, berharap masih ada 1000 tahun selanjutnya untuk Ibu meniup lilin dan memotong kuenya. Aamiin
September...
Ujian Komperhensif. Ujian yang menjadi prasyarat saya menuju seminar proposal. Banyak sekali prasyarat ini dan itu untuk bisa meraih gelar dan mendapat selembar kertas itu. Ah masa bodo, masih banyak hal yang harus saya kerjakan.
Mendapat tawaran untuk menjadi asisten pengajar kembali. Ya, ini yang kedua kalinya. Alhamdulillah...
Mencoba peruntungan untuk mewujudkan doa orang tua, namun akhirnya gagal kembali. Tidak apalah, mungkin rejeki saya lebih banyak selain dengan cara itu.
Oktober...
Mengerjakan tesis, laporan Evaluasi Kinerja Pemerintah DKI 2014, selingan pekerjaan lain.
November...
Sahabat SMA menikah, sangat senang dan berdoa dengan penuh sukacita.
Kenaikan BBM pada tanggal 18 November 2014 cukup memukul, memukul dompet saya yang tebal karena kebanyakan kartu.
Desember....
Kurikulum 2013 dibekukan dan memberlakukan kembali KTSP. Sebagai mahasiswa jebolan fakultas ilmu pendidikan, saya merasa sangat peduli akan hal ini.
Ulang tahun adik yang ke 13 Tahun, menjadi pembicara dalam pelatihan, mendapat libur 2 minggu sampai tanggal 5 Desember 2015. Sayangnya, liburan tidak ke mana-mana. Cukup di rumah saja, Alhamdulillah bisa berkumpul bersama keluarga.
Minggu, 28 Desember 2014
Kenaikan BBM 18 November 2014
Mendapati berita bahwa BBM akan naik terhitung mulai 18 November 2014,
saya mulai gelisah. Saya sama sekali tidak keberatan akan dampak
kenaikan BBM. Besar harapan saya kepada pemerintah agar semua
infrasitruktur dibangun dengan maksimal senagai wujud dari pengalihan
subsidi BBM.
Bukan karena saya memiliki penghasilan yang mumpuni untuk perubahan biaya transportasi dan kehidupan lainnya. Tapi karena mungkin inilah cara pemerintah yang baru merealisasikan beberapa janjinya. Janji mewujudkan infrastruktur, dan harus ada yang dikorbankan yaitu penghapusan subsidi BBM yang berdampak pada kenaikan BBM. Besar harapan saya untuk perwujudan janji pemerintah ini. Jika beberapa waktu ke depan janji ini belum juga terealisasi, maka celakalah para pemimpin yang sudah menaikkan harga BBM disaat kekayaan alam Indonesia yang melimpah serta penurunan harga minyak mentah dunia.
Dan kalian wahai para pengguna media sosial, coba renungkan. Mari protes kenaikan BBM via jejaring sosial yg diakses dengan ponsel minimal di atas 2juta plus langganan internetnya minimal 100rb/bulan.
(Ditulis pada 17 November 2014)
Bukan karena saya memiliki penghasilan yang mumpuni untuk perubahan biaya transportasi dan kehidupan lainnya. Tapi karena mungkin inilah cara pemerintah yang baru merealisasikan beberapa janjinya. Janji mewujudkan infrastruktur, dan harus ada yang dikorbankan yaitu penghapusan subsidi BBM yang berdampak pada kenaikan BBM. Besar harapan saya untuk perwujudan janji pemerintah ini. Jika beberapa waktu ke depan janji ini belum juga terealisasi, maka celakalah para pemimpin yang sudah menaikkan harga BBM disaat kekayaan alam Indonesia yang melimpah serta penurunan harga minyak mentah dunia.
Dan kalian wahai para pengguna media sosial, coba renungkan. Mari protes kenaikan BBM via jejaring sosial yg diakses dengan ponsel minimal di atas 2juta plus langganan internetnya minimal 100rb/bulan.
(Ditulis pada 17 November 2014)
Malam Minggu
Malam Minggu, pukul 20:45, dengan usia yang sudah tidak lagi belia.
Tentu akan memilih untuk tetap tinggal di rumah, menghabiskan waktu
bersama keluarga. Lebih memilih hangatnya udara ruang rumah, daripada
dinginnya angin malam dan hingar bingar para kawula muda.
Ini akhir pekan. Ya, saya tahu ini akhir pekan. Adakah kegiatan lain selain menulis di depan layar 11,5 inchi dan menggerakkan hari di atas 76 tombol itu?
Tuntutan pekerjaan yang padat, tuntutan studi yang lumayan berat, Serra tuntutan batin yang ingin sekalimenyelesaikannya lebih cepat dari waktu yang telah ditetapkan.
Saya sudah tidak lagi berusia remaja. Memasuki tahap usia dewasa bagi seorang wanita. Menjalani beberapa peristiwa yang luar biasa untuk wanita seusia saya, bertemu dengan orang yang luar biasa hebat, berkunjung ke tempat yang membuat saya bingung selain mengucapkan 'Subhanallah', serta memiliki Kasih Tuhan yang selalu membuat saya 'naik kelas' atas yang saya sebutkan tadi.
Orang lain hanya mengukur kebahagiaan pada titik pencapaian yang terlihat oleh mata. Tidak ada yang mengetahui titik pencapaian ketaatan pada Tuhan. Ya, Tuhan itu Maha Adil. Jika saja umatNya dapat melihat titik itu, maka ibadah tidak lagi menjadi hubungan yang intim bagi Tuhan dan hambaNya. Ah, tidak terlihatpun, masih banyak manusia yang rajin mengumbar keintiman bersama Tuhannya.
Setelah menulis ini, mematikan laptop, menonton acara pernikahan yang hampir satu pekan ini membuat heboh, karena saya ditinggalkan sendirian di rumah, orang tua sedang malam mingguan ke mini market depan komplek. Kelak jika mereka Pulang, saya mungkin akan tertidur di pangkuan ibunda karena empuknya paha, dan lembutnya belaian beliau mengelus mahkota saya.
Selamat bermalam minggu.
(Ditulis pada tanggal 18 Oktober 2014)
Ini akhir pekan. Ya, saya tahu ini akhir pekan. Adakah kegiatan lain selain menulis di depan layar 11,5 inchi dan menggerakkan hari di atas 76 tombol itu?
Tuntutan pekerjaan yang padat, tuntutan studi yang lumayan berat, Serra tuntutan batin yang ingin sekalimenyelesaikannya lebih cepat dari waktu yang telah ditetapkan.
Saya sudah tidak lagi berusia remaja. Memasuki tahap usia dewasa bagi seorang wanita. Menjalani beberapa peristiwa yang luar biasa untuk wanita seusia saya, bertemu dengan orang yang luar biasa hebat, berkunjung ke tempat yang membuat saya bingung selain mengucapkan 'Subhanallah', serta memiliki Kasih Tuhan yang selalu membuat saya 'naik kelas' atas yang saya sebutkan tadi.
Orang lain hanya mengukur kebahagiaan pada titik pencapaian yang terlihat oleh mata. Tidak ada yang mengetahui titik pencapaian ketaatan pada Tuhan. Ya, Tuhan itu Maha Adil. Jika saja umatNya dapat melihat titik itu, maka ibadah tidak lagi menjadi hubungan yang intim bagi Tuhan dan hambaNya. Ah, tidak terlihatpun, masih banyak manusia yang rajin mengumbar keintiman bersama Tuhannya.
Setelah menulis ini, mematikan laptop, menonton acara pernikahan yang hampir satu pekan ini membuat heboh, karena saya ditinggalkan sendirian di rumah, orang tua sedang malam mingguan ke mini market depan komplek. Kelak jika mereka Pulang, saya mungkin akan tertidur di pangkuan ibunda karena empuknya paha, dan lembutnya belaian beliau mengelus mahkota saya.
Selamat bermalam minggu.
(Ditulis pada tanggal 18 Oktober 2014)
Refleksi Pertengahan 2014
Hari ini, tepat tanggal 17 Agustus 2014. 69 tahun lamanya negara
tercinta saya merdeka dari para penjajah yang konon katanya merampas
semua hak kami sebagai bangsa Indonesia.
Ada satu titik puncak yang membuat saya bisa ambil dari sini. Merenungkan bagaimana semua obsesi saya tahun ini tercapai. Apa saja yang sudah tercapai, apa saja yang belum, dan apa saja yang kemungkinan tidak akan tercapai.
Menulis bukanlah hal yang mudah bagi saya. Karena saya bukan penulis, tidak terlalu gemar menulis, juga tidak terlalu gemar membaca beberapa tulisan, kecuali jika saya memiliki waktu senggang.
Pekan ini, Tuhan kembali menegur saya. Jika akhir tahun lalu saya ditegur untuk tidak terlalu menyombongkan diri dan menurunkan ego yang ada, maka pertengahan tahun ini berbeda. Tuhan mengambil sementara nikmatNya yang diberikan kepada saya. Sehat. Iya, Tuhan perlahan sengan mengahpus sedikit demi sedikit dosa saya. Betapa penting kesehatan itu. Merepotkan beberapa orang di sekitar, membuat panik mereka, serta memaksakan diri untuk selalu beraktifitas normal seperti biasanya.
Entah mengapa pekan ini rasanya saya lalui dengan lumayan panjang dan berat. Ambisi saya untuk mendapatkan sesuatu yang saya inginkan mungkin belum bisa tercapai, menguras tabungan untuk melakukan kewajiban enam bulanan, menemukan kejanggalan dari orang yang ada di sekitar saya. Semuanya terakumulasi, hingga akhirnya saya harus beristirahat dua hari saja. Itupun saya masih dikejar oleh deadline pekerjaan dan pengabdian.
Sampai saya tidurpun, rasanya otak ini terus bekerja keras untuk berpikir. Bagaimana saya bisa menceritakan ini pada orang-orang terdekat saya? Bagaimana saya bisa mempercayai mereka (lagi) jika mereka mengkhianati saya? Bagaimana saya bisa hidup enam bulan ke depan dan bisa melakukan kewajiban berikutnya? Bagaimana saya menyelesaikan penelitian akademik saya yang bulan depan sudah memasuki ujian prasyarat?
Sepertinya, saya butuh piknik atau sekadar tertawa lepas tanpa memperdulikan status atau pencitraan saya selama ini. Bergandengan tangan berkeliling dunia bersama orang-orang yang saya kasihi, dan dari situ saya harus memahami, betapa sempurnanya ciptaan Tuhan....
(Ditulis pada tanggal 17 Agustus 2014)
Ada satu titik puncak yang membuat saya bisa ambil dari sini. Merenungkan bagaimana semua obsesi saya tahun ini tercapai. Apa saja yang sudah tercapai, apa saja yang belum, dan apa saja yang kemungkinan tidak akan tercapai.
Menulis bukanlah hal yang mudah bagi saya. Karena saya bukan penulis, tidak terlalu gemar menulis, juga tidak terlalu gemar membaca beberapa tulisan, kecuali jika saya memiliki waktu senggang.
Pekan ini, Tuhan kembali menegur saya. Jika akhir tahun lalu saya ditegur untuk tidak terlalu menyombongkan diri dan menurunkan ego yang ada, maka pertengahan tahun ini berbeda. Tuhan mengambil sementara nikmatNya yang diberikan kepada saya. Sehat. Iya, Tuhan perlahan sengan mengahpus sedikit demi sedikit dosa saya. Betapa penting kesehatan itu. Merepotkan beberapa orang di sekitar, membuat panik mereka, serta memaksakan diri untuk selalu beraktifitas normal seperti biasanya.
Entah mengapa pekan ini rasanya saya lalui dengan lumayan panjang dan berat. Ambisi saya untuk mendapatkan sesuatu yang saya inginkan mungkin belum bisa tercapai, menguras tabungan untuk melakukan kewajiban enam bulanan, menemukan kejanggalan dari orang yang ada di sekitar saya. Semuanya terakumulasi, hingga akhirnya saya harus beristirahat dua hari saja. Itupun saya masih dikejar oleh deadline pekerjaan dan pengabdian.
Sampai saya tidurpun, rasanya otak ini terus bekerja keras untuk berpikir. Bagaimana saya bisa menceritakan ini pada orang-orang terdekat saya? Bagaimana saya bisa mempercayai mereka (lagi) jika mereka mengkhianati saya? Bagaimana saya bisa hidup enam bulan ke depan dan bisa melakukan kewajiban berikutnya? Bagaimana saya menyelesaikan penelitian akademik saya yang bulan depan sudah memasuki ujian prasyarat?
Sepertinya, saya butuh piknik atau sekadar tertawa lepas tanpa memperdulikan status atau pencitraan saya selama ini. Bergandengan tangan berkeliling dunia bersama orang-orang yang saya kasihi, dan dari situ saya harus memahami, betapa sempurnanya ciptaan Tuhan....
(Ditulis pada tanggal 17 Agustus 2014)
Ibunya Diga dan Krisna
60 hari sudah kepergian beliau. Jujur saja, saya masih sangat
terpukul dengan kejadian ini. Entah ini naluri manusia atau bukan,
beliau sudah saya anggap seperti kakak kandung saya sendiri. Beliau
pergi diusia yang masih sangat muda, meninggalkan 2 orang pangeran
tampan dan suami yang mungkin amat sangat terpukul karena harus
kehilangan tulang rusuk dalam keluarga, namun harus tetap gagah.
Kami tidak memiliki hubungan darah sama sekali, namun Tuhan mempertemukan kami lewat orang tua yang sama-sama saling mengasihi. Sejak saya kecil, orang tua beliau merawat, menyayangi dan menyantuni saya sebagai anak yatim. Mungkin itu salah satu dari jutaan alasan saya mengapa saya amat sangat berhutang budi dan menyayangi keluarga beliau. Semoga beliau tenang di alam sana.
Kanker paru yang diderita seakan tiba-tiba muncul. Padahal beliau bukan perokok aktif, polusi di kota kecil seperti Rangkasbitung juga mungkin tidak seberapa dibandingkan dengan Jakarta. Saya masih heran dengan penyakit ini. Sungguh wanita kuat. Menahan rasa sakit selama 2 tahun, membesarkan anak, mengajar murid-murid yang masih berusia labil, belajar menyelesaikan S2 dengan tepat waktu dan nilai memuaskan, memiliki banyak sahabat dan orang terkasih, dan kesempurnaan hidup selama 30 tahun mungkin ada pada beliau.
Saya rindu mengusap punggung beliau dengan tissu yang direndam dengan air hangat. Saya rindu mendengar rengekan beliau ketika melihat saya makan bebek dengan lahapnya. Saya rindu ketika beliau menyuruh saya pindah tempat dari kursi yang empuk karena beliau mencari posisi yang nyaman untuk tidur. Saya rindu bercerita semua tentang masa remaja beliau. Saya rindu mendengar nasihat beliau mengenai semua persoalan wanita seusia saya. Saya rindu dengan pembicaraan kami mengenai dunia pendidikan. Saya rindu semua tentang beliau.
Betapa Tuhan amat sangat baik, dengan cepat mengambil manusia yang baik kembali ke sisiNya.
Semoga beliau tenang di alam sana. Aamiin
(Ditulis pada 4 Juni 2014)
Kami tidak memiliki hubungan darah sama sekali, namun Tuhan mempertemukan kami lewat orang tua yang sama-sama saling mengasihi. Sejak saya kecil, orang tua beliau merawat, menyayangi dan menyantuni saya sebagai anak yatim. Mungkin itu salah satu dari jutaan alasan saya mengapa saya amat sangat berhutang budi dan menyayangi keluarga beliau. Semoga beliau tenang di alam sana.
Kanker paru yang diderita seakan tiba-tiba muncul. Padahal beliau bukan perokok aktif, polusi di kota kecil seperti Rangkasbitung juga mungkin tidak seberapa dibandingkan dengan Jakarta. Saya masih heran dengan penyakit ini. Sungguh wanita kuat. Menahan rasa sakit selama 2 tahun, membesarkan anak, mengajar murid-murid yang masih berusia labil, belajar menyelesaikan S2 dengan tepat waktu dan nilai memuaskan, memiliki banyak sahabat dan orang terkasih, dan kesempurnaan hidup selama 30 tahun mungkin ada pada beliau.
Saya rindu mengusap punggung beliau dengan tissu yang direndam dengan air hangat. Saya rindu mendengar rengekan beliau ketika melihat saya makan bebek dengan lahapnya. Saya rindu ketika beliau menyuruh saya pindah tempat dari kursi yang empuk karena beliau mencari posisi yang nyaman untuk tidur. Saya rindu bercerita semua tentang masa remaja beliau. Saya rindu mendengar nasihat beliau mengenai semua persoalan wanita seusia saya. Saya rindu dengan pembicaraan kami mengenai dunia pendidikan. Saya rindu semua tentang beliau.
Betapa Tuhan amat sangat baik, dengan cepat mengambil manusia yang baik kembali ke sisiNya.
Semoga beliau tenang di alam sana. Aamiin
(Ditulis pada 4 Juni 2014)
Karsinoid Atipik
2 pekan terakhir, kesibukan saya berubah. Tempat tinggal di
Jakarta yang biasanya saya tempati sudah jarang sekali saya sambangi.
Bahkan rumah saya di Banten sana sudah tak sempat saya singgahi.
Aktifitas saya hanya duduk mendengarkan Profesor berbicara, sesekali
berbincang dengan teman sekelas sambil makan siang, berolah raga, dan
yang paling terbaru adalah menyambangi sanak di rumah sakit yang tidak terlalu jauh dari tempat saya menuntut ilmu sekarang.
Beliau berusia kurang lebih 30 tahun, mempunyai 2 orang jagoan kecil, suami yang begitu setia menemani, pekerjaan yang sudah mumpuni, pendidikan yang layak, dan dikelilingi oleh keluarga serta lingkungan yang penuh kasih. Saking sayangnya Tuhan kepada beliau, beliau diberikan satu titipanNya. Kehidupan yang tadinya begitu sempurna dan akan jauh disempurnakan oleh Tuhan. Penyempurnaan kehidupan beliau adalah dianugerahi gangguan kesehatan yang mungkin tidak semua orang akan kuat seperti beliau.
Hampir 2 tahun menderita penyakit ini, memang menguras tenaga, waktu, uang, dan segalanya. Tuhan memang sedang menyempurnakan hidup beliau. Dari beliau, saya amat sangat mengambil banyak pelajaran. Apalah saya yang kuliah 9 semester masih saja mengeluh kepada Tuhan, mengapa tidak pas 8 semester saja? Apalah saya yang sudah dinyatakan lulus sebagai Abdi Negara kemudian dengan tiba-tiba dianulir oleh sang penguasa? Apalah saya yang amat sangat mengharapkan dia selama 5 tahun dan hanya berujung untuk tidak menjalani hidup bersamanya seumur hidup?
Semua masalah yang dianggap amat sangat berat dalam hidup saya, tidaklah sebanding dengan anugerah yang diberikan Tuhan kepada beliau. Beliau sumber inspirasi saya untuk terus mengemban pendidikan yang lebih layak, terus berusaha dekat dengan Tuhan, terus berusaha hidup baik dengan sesama, terus berusaha mencari uang sebanyak-banyaknya untuk sekadar makan dan belanja di Mall, dan terus berusaha mencari pendamping yang tidak akan pernah membuat menyesal seumur hidup.
Jadilah selalu inspirator bagi saya, bagi semua orang. Tuhan selalu mempunyai rencana lain. Semangat untuk kesembuhannya, lekas kuat untuk pengobatan kemoterapinya. Aamiin...
(ditulis pada 25 Maret 2014)
Beliau berusia kurang lebih 30 tahun, mempunyai 2 orang jagoan kecil, suami yang begitu setia menemani, pekerjaan yang sudah mumpuni, pendidikan yang layak, dan dikelilingi oleh keluarga serta lingkungan yang penuh kasih. Saking sayangnya Tuhan kepada beliau, beliau diberikan satu titipanNya. Kehidupan yang tadinya begitu sempurna dan akan jauh disempurnakan oleh Tuhan. Penyempurnaan kehidupan beliau adalah dianugerahi gangguan kesehatan yang mungkin tidak semua orang akan kuat seperti beliau.
Hampir 2 tahun menderita penyakit ini, memang menguras tenaga, waktu, uang, dan segalanya. Tuhan memang sedang menyempurnakan hidup beliau. Dari beliau, saya amat sangat mengambil banyak pelajaran. Apalah saya yang kuliah 9 semester masih saja mengeluh kepada Tuhan, mengapa tidak pas 8 semester saja? Apalah saya yang sudah dinyatakan lulus sebagai Abdi Negara kemudian dengan tiba-tiba dianulir oleh sang penguasa? Apalah saya yang amat sangat mengharapkan dia selama 5 tahun dan hanya berujung untuk tidak menjalani hidup bersamanya seumur hidup?
Semua masalah yang dianggap amat sangat berat dalam hidup saya, tidaklah sebanding dengan anugerah yang diberikan Tuhan kepada beliau. Beliau sumber inspirasi saya untuk terus mengemban pendidikan yang lebih layak, terus berusaha dekat dengan Tuhan, terus berusaha hidup baik dengan sesama, terus berusaha mencari uang sebanyak-banyaknya untuk sekadar makan dan belanja di Mall, dan terus berusaha mencari pendamping yang tidak akan pernah membuat menyesal seumur hidup.
Jadilah selalu inspirator bagi saya, bagi semua orang. Tuhan selalu mempunyai rencana lain. Semangat untuk kesembuhannya, lekas kuat untuk pengobatan kemoterapinya. Aamiin...
(ditulis pada 25 Maret 2014)
Sesuatu yang Berlebihan itu Tidak Baik
Ku tatap dua bola matamu
Tersirat apa yang 'kan terjadi
Kau ingin pergi dariku
Meninggalkan semua kenangan
Tersirat apa yang 'kan terjadi
Kau ingin pergi dariku
Meninggalkan semua kenangan
Menutup lembaran cerita
Oh sayangku, aku tak mau
Ku tahu semua akan berakhir
Tapi ku tak rela lepaskanmu
Kau tanya mengapa aku tak ingin pergi darimu
Dan mulutku diam membisu
Salahkah bila diriku terlalu mencintaimu
Jangan tanyakan mengapa karena aku tak tahu
Aku pun tak ingin bila kau pergi tinggalkan aku
Masihkah ada hasratmu 'tuk mencintaiku lagi
Apa yang harus aku lakukan
'Tuk menarik perhatianmu lagi
Walau pun harus mengiba
Agar kau tetap di sini
Lihat aku duhai sayangku
Lirik lagu Ratu yang berjudul Salahkah Aku Terlalu Mencintaimu yang hadir saat masa saya SMA, kira-kira tahun 2006-2008an mungkin.
Pesan dari lagu ini:
Sesuatu yang berlebihan itu tidak baik, sebaiknya biasa saja. Termasuk dalam mencintai, dalam hal mencintai apapun. Mengejar apa yang diinginkan mungkin terasa akan lebih mudah daripada mempertahankan apa yang sudah didapat. Sungguh, itu sangat sulit. Kita sudah berusaha mengejar apa yang diinginkan, susah payah mempertahankannya, dan mungkin hanya Tuhan yang bisa berkehendak untuk mengambilnya kembali.
Karena sesungguhnya Tuhan sedang mempersiapkan yang terbaik untuk hambaNya.
Ira Arini
(ditulis pada 17 Januari 2014
Oh sayangku, aku tak mau
Ku tahu semua akan berakhir
Tapi ku tak rela lepaskanmu
Kau tanya mengapa aku tak ingin pergi darimu
Dan mulutku diam membisu
Salahkah bila diriku terlalu mencintaimu
Jangan tanyakan mengapa karena aku tak tahu
Aku pun tak ingin bila kau pergi tinggalkan aku
Masihkah ada hasratmu 'tuk mencintaiku lagi
Apa yang harus aku lakukan
'Tuk menarik perhatianmu lagi
Walau pun harus mengiba
Agar kau tetap di sini
Lihat aku duhai sayangku
Lirik lagu Ratu yang berjudul Salahkah Aku Terlalu Mencintaimu yang hadir saat masa saya SMA, kira-kira tahun 2006-2008an mungkin.
Pesan dari lagu ini:
Sesuatu yang berlebihan itu tidak baik, sebaiknya biasa saja. Termasuk dalam mencintai, dalam hal mencintai apapun. Mengejar apa yang diinginkan mungkin terasa akan lebih mudah daripada mempertahankan apa yang sudah didapat. Sungguh, itu sangat sulit. Kita sudah berusaha mengejar apa yang diinginkan, susah payah mempertahankannya, dan mungkin hanya Tuhan yang bisa berkehendak untuk mengambilnya kembali.
Karena sesungguhnya Tuhan sedang mempersiapkan yang terbaik untuk hambaNya.
Ira Arini
(ditulis pada 17 Januari 2014
Langganan:
Komentar (Atom)