Hari ini, tepat tanggal 17 Agustus 2014. 69 tahun lamanya negara
tercinta saya merdeka dari para penjajah yang konon katanya merampas
semua hak kami sebagai bangsa Indonesia.
Ada satu titik puncak yang membuat saya bisa ambil dari sini. Merenungkan bagaimana semua obsesi saya tahun ini tercapai. Apa saja yang sudah tercapai, apa saja yang belum, dan apa saja yang kemungkinan tidak akan tercapai.
Menulis bukanlah hal yang mudah bagi saya. Karena saya bukan penulis, tidak terlalu gemar menulis, juga tidak terlalu gemar membaca beberapa tulisan, kecuali jika saya memiliki waktu senggang.
Pekan ini, Tuhan kembali menegur saya. Jika akhir tahun lalu saya ditegur untuk tidak terlalu menyombongkan diri dan menurunkan ego yang ada, maka pertengahan tahun ini berbeda. Tuhan mengambil sementara nikmatNya yang diberikan kepada saya. Sehat. Iya, Tuhan perlahan sengan mengahpus sedikit demi sedikit dosa saya. Betapa penting kesehatan itu. Merepotkan beberapa orang di sekitar, membuat panik mereka, serta memaksakan diri untuk selalu beraktifitas normal seperti biasanya.
Entah mengapa pekan ini rasanya saya lalui dengan lumayan panjang dan berat. Ambisi saya untuk mendapatkan sesuatu yang saya inginkan mungkin belum bisa tercapai, menguras tabungan untuk melakukan kewajiban enam bulanan, menemukan kejanggalan dari orang yang ada di sekitar saya. Semuanya terakumulasi, hingga akhirnya saya harus beristirahat dua hari saja. Itupun saya masih dikejar oleh deadline pekerjaan dan pengabdian.
Sampai saya tidurpun, rasanya otak ini terus bekerja keras untuk berpikir. Bagaimana saya bisa menceritakan ini pada orang-orang terdekat saya? Bagaimana saya bisa mempercayai mereka (lagi) jika mereka mengkhianati saya? Bagaimana saya bisa hidup enam bulan ke depan dan bisa melakukan kewajiban berikutnya? Bagaimana saya menyelesaikan penelitian akademik saya yang bulan depan sudah memasuki ujian prasyarat?
Sepertinya, saya butuh piknik atau sekadar tertawa lepas tanpa memperdulikan status atau pencitraan saya selama ini. Bergandengan tangan berkeliling dunia bersama orang-orang yang saya kasihi, dan dari situ saya harus memahami, betapa sempurnanya ciptaan Tuhan....
(Ditulis pada tanggal 17 Agustus 2014)
Ada satu titik puncak yang membuat saya bisa ambil dari sini. Merenungkan bagaimana semua obsesi saya tahun ini tercapai. Apa saja yang sudah tercapai, apa saja yang belum, dan apa saja yang kemungkinan tidak akan tercapai.
Menulis bukanlah hal yang mudah bagi saya. Karena saya bukan penulis, tidak terlalu gemar menulis, juga tidak terlalu gemar membaca beberapa tulisan, kecuali jika saya memiliki waktu senggang.
Pekan ini, Tuhan kembali menegur saya. Jika akhir tahun lalu saya ditegur untuk tidak terlalu menyombongkan diri dan menurunkan ego yang ada, maka pertengahan tahun ini berbeda. Tuhan mengambil sementara nikmatNya yang diberikan kepada saya. Sehat. Iya, Tuhan perlahan sengan mengahpus sedikit demi sedikit dosa saya. Betapa penting kesehatan itu. Merepotkan beberapa orang di sekitar, membuat panik mereka, serta memaksakan diri untuk selalu beraktifitas normal seperti biasanya.
Entah mengapa pekan ini rasanya saya lalui dengan lumayan panjang dan berat. Ambisi saya untuk mendapatkan sesuatu yang saya inginkan mungkin belum bisa tercapai, menguras tabungan untuk melakukan kewajiban enam bulanan, menemukan kejanggalan dari orang yang ada di sekitar saya. Semuanya terakumulasi, hingga akhirnya saya harus beristirahat dua hari saja. Itupun saya masih dikejar oleh deadline pekerjaan dan pengabdian.
Sampai saya tidurpun, rasanya otak ini terus bekerja keras untuk berpikir. Bagaimana saya bisa menceritakan ini pada orang-orang terdekat saya? Bagaimana saya bisa mempercayai mereka (lagi) jika mereka mengkhianati saya? Bagaimana saya bisa hidup enam bulan ke depan dan bisa melakukan kewajiban berikutnya? Bagaimana saya menyelesaikan penelitian akademik saya yang bulan depan sudah memasuki ujian prasyarat?
Sepertinya, saya butuh piknik atau sekadar tertawa lepas tanpa memperdulikan status atau pencitraan saya selama ini. Bergandengan tangan berkeliling dunia bersama orang-orang yang saya kasihi, dan dari situ saya harus memahami, betapa sempurnanya ciptaan Tuhan....
(Ditulis pada tanggal 17 Agustus 2014)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar