2014...
Tahun yang paling singkat yang pernah saya alami. Banyak rejeki yang datang tak terduga. Tuhan memberi banyak hal tanpa saya minta, walaupun masih harus meminta hal lain yang belum diberikan Tuhan. Namanya juga masih hamba yang lemah dan harus terus meminta, jadi insyaAllah tidak akan putus asa untuk selalu berdoa dan berusaha.
Januari...
Hal yang paling diingat adalah merasa kehilangan dan harus merelakan apa yang telah saya tunggu selama 5 tahun terakhir. masa sulit itu terlalu berat untuk saya lewati. Tetapi, karena beberapa kesibukan kuliah dan pekerjaan, akhirnya saya bisa melewati itu semua dan masih bisa bersilaturahmi dengan baik.
Hampir saja lupa, saya pergi ke Bandung bersama teman-teman kuliah. one day trip tapi amat sangat menghibur saya dari keterpurukan GAGAL CPNS DAN GAGAL MENUNGGU.
Februari....
Bulan yang paling saya suka. Bulan dimana semua orang mengucapkan segala doa dan kebaikan untuk pertambahan usia saya. Pertama kalinya dalam hidup saya untuk meniup lilin di atas kue yang tertuliskan nama saya. Ah... Sahabat memang amat sangat saya cintai. Terima kasih untuk segalanya. Keluarga? mereka lebih manis. Mengucapkan lewat telepon sambil bernyanyi "selamat ulang tahun" membuat saya meneteskan air mata di ujung telepon. Terima kasih, Tuhan...
Maret...
Nothing Special. Masih diwarnai piknik ke pulau Untung Jawa, bolak-balik rumah sakit Persahabatan karena menemani sanak saudara yang harus menjalani pengobatan, dan tentunya kuliah disertai dengan bekerja selayaknya orang tak kenal waktu.
April...
Sedih... Harus kehilangan sosok yang sebulan terakhir saya sambangi di rumah sakit. Beliau pergi di usia yang masih muda, meninggalkan 2 orang jagoan dan tentunya dengan titel magister. beliau hebat.
Untuk mengurangi kesedihan saya, saya pergi ke Gunung Krakatau, Lampung, Wonosobo, dan tentunya Dieng! Sedikit mengobati kesedihan saya.
Mei...
Hari-hari saya masih dipenuhi dengan jadwal perkuliahan yang padat, bekerja paruh waktu, serta jalan-jalan menikmati masa-masa kesendirian bersama teman-teman.
Juni...
Ditinggal orang tua ke Bangka, saya gak diajak :(
Tapi terbayar dengan teman-teman yang datang ke rumah dan memboyong saya ke Tanjung Lesung!!!
Dipenghujung semester perkuliahan, saya menjadi pembicara dalam pelatihan untuk pertama kalinya. Gugup sekaliiiii.... Setelah itu, saya pergi ke kota Cirebon bersama teman-teman sekelas. Dilanjutkan dengan mempersiapkan diri untuk menghadapi bulan Ramadhan.
Juli...
Pekerjaan menumpuk, rutinitas Ramadhan yang saya jalani sejak kelas 6 SD buyar karena pekerjaan. Tahun ini saya merasa sedih karena tidak konsisten terhadap janji saya kepada Tuhan.
Agustus...
Rekreasi kembali ke Tanjung Lesung bersama kelompok yang berbeda. Berpisah dengan adik tersayang Hilda Septiani yang harus mengemban tugas mengajar ke luar daerah perbatasan di Kalimantan nun jauh di sana.
Ulang tahun Ibu yang ke 49, berharap masih ada 1000 tahun selanjutnya untuk Ibu meniup lilin dan memotong kuenya. Aamiin
September...
Ujian Komperhensif. Ujian yang menjadi prasyarat saya menuju seminar proposal. Banyak sekali prasyarat ini dan itu untuk bisa meraih gelar dan mendapat selembar kertas itu. Ah masa bodo, masih banyak hal yang harus saya kerjakan.
Mendapat tawaran untuk menjadi asisten pengajar kembali. Ya, ini yang kedua kalinya. Alhamdulillah...
Mencoba peruntungan untuk mewujudkan doa orang tua, namun akhirnya gagal kembali. Tidak apalah, mungkin rejeki saya lebih banyak selain dengan cara itu.
Oktober...
Mengerjakan tesis, laporan Evaluasi Kinerja Pemerintah DKI 2014, selingan pekerjaan lain.
November...
Sahabat SMA menikah, sangat senang dan berdoa dengan penuh sukacita.
Kenaikan BBM pada tanggal 18 November 2014 cukup memukul, memukul dompet saya yang tebal karena kebanyakan kartu.
Desember....
Kurikulum 2013 dibekukan dan memberlakukan kembali KTSP. Sebagai mahasiswa jebolan fakultas ilmu pendidikan, saya merasa sangat peduli akan hal ini.
Ulang tahun adik yang ke 13 Tahun, menjadi pembicara dalam pelatihan, mendapat libur 2 minggu sampai tanggal 5 Desember 2015. Sayangnya, liburan tidak ke mana-mana. Cukup di rumah saja, Alhamdulillah bisa berkumpul bersama keluarga.
Minggu, 28 Desember 2014
Kenaikan BBM 18 November 2014
Mendapati berita bahwa BBM akan naik terhitung mulai 18 November 2014,
saya mulai gelisah. Saya sama sekali tidak keberatan akan dampak
kenaikan BBM. Besar harapan saya kepada pemerintah agar semua
infrasitruktur dibangun dengan maksimal senagai wujud dari pengalihan
subsidi BBM.
Bukan karena saya memiliki penghasilan yang mumpuni untuk perubahan biaya transportasi dan kehidupan lainnya. Tapi karena mungkin inilah cara pemerintah yang baru merealisasikan beberapa janjinya. Janji mewujudkan infrastruktur, dan harus ada yang dikorbankan yaitu penghapusan subsidi BBM yang berdampak pada kenaikan BBM. Besar harapan saya untuk perwujudan janji pemerintah ini. Jika beberapa waktu ke depan janji ini belum juga terealisasi, maka celakalah para pemimpin yang sudah menaikkan harga BBM disaat kekayaan alam Indonesia yang melimpah serta penurunan harga minyak mentah dunia.
Dan kalian wahai para pengguna media sosial, coba renungkan. Mari protes kenaikan BBM via jejaring sosial yg diakses dengan ponsel minimal di atas 2juta plus langganan internetnya minimal 100rb/bulan.
(Ditulis pada 17 November 2014)
Bukan karena saya memiliki penghasilan yang mumpuni untuk perubahan biaya transportasi dan kehidupan lainnya. Tapi karena mungkin inilah cara pemerintah yang baru merealisasikan beberapa janjinya. Janji mewujudkan infrastruktur, dan harus ada yang dikorbankan yaitu penghapusan subsidi BBM yang berdampak pada kenaikan BBM. Besar harapan saya untuk perwujudan janji pemerintah ini. Jika beberapa waktu ke depan janji ini belum juga terealisasi, maka celakalah para pemimpin yang sudah menaikkan harga BBM disaat kekayaan alam Indonesia yang melimpah serta penurunan harga minyak mentah dunia.
Dan kalian wahai para pengguna media sosial, coba renungkan. Mari protes kenaikan BBM via jejaring sosial yg diakses dengan ponsel minimal di atas 2juta plus langganan internetnya minimal 100rb/bulan.
(Ditulis pada 17 November 2014)
Malam Minggu
Malam Minggu, pukul 20:45, dengan usia yang sudah tidak lagi belia.
Tentu akan memilih untuk tetap tinggal di rumah, menghabiskan waktu
bersama keluarga. Lebih memilih hangatnya udara ruang rumah, daripada
dinginnya angin malam dan hingar bingar para kawula muda.
Ini akhir pekan. Ya, saya tahu ini akhir pekan. Adakah kegiatan lain selain menulis di depan layar 11,5 inchi dan menggerakkan hari di atas 76 tombol itu?
Tuntutan pekerjaan yang padat, tuntutan studi yang lumayan berat, Serra tuntutan batin yang ingin sekalimenyelesaikannya lebih cepat dari waktu yang telah ditetapkan.
Saya sudah tidak lagi berusia remaja. Memasuki tahap usia dewasa bagi seorang wanita. Menjalani beberapa peristiwa yang luar biasa untuk wanita seusia saya, bertemu dengan orang yang luar biasa hebat, berkunjung ke tempat yang membuat saya bingung selain mengucapkan 'Subhanallah', serta memiliki Kasih Tuhan yang selalu membuat saya 'naik kelas' atas yang saya sebutkan tadi.
Orang lain hanya mengukur kebahagiaan pada titik pencapaian yang terlihat oleh mata. Tidak ada yang mengetahui titik pencapaian ketaatan pada Tuhan. Ya, Tuhan itu Maha Adil. Jika saja umatNya dapat melihat titik itu, maka ibadah tidak lagi menjadi hubungan yang intim bagi Tuhan dan hambaNya. Ah, tidak terlihatpun, masih banyak manusia yang rajin mengumbar keintiman bersama Tuhannya.
Setelah menulis ini, mematikan laptop, menonton acara pernikahan yang hampir satu pekan ini membuat heboh, karena saya ditinggalkan sendirian di rumah, orang tua sedang malam mingguan ke mini market depan komplek. Kelak jika mereka Pulang, saya mungkin akan tertidur di pangkuan ibunda karena empuknya paha, dan lembutnya belaian beliau mengelus mahkota saya.
Selamat bermalam minggu.
(Ditulis pada tanggal 18 Oktober 2014)
Ini akhir pekan. Ya, saya tahu ini akhir pekan. Adakah kegiatan lain selain menulis di depan layar 11,5 inchi dan menggerakkan hari di atas 76 tombol itu?
Tuntutan pekerjaan yang padat, tuntutan studi yang lumayan berat, Serra tuntutan batin yang ingin sekalimenyelesaikannya lebih cepat dari waktu yang telah ditetapkan.
Saya sudah tidak lagi berusia remaja. Memasuki tahap usia dewasa bagi seorang wanita. Menjalani beberapa peristiwa yang luar biasa untuk wanita seusia saya, bertemu dengan orang yang luar biasa hebat, berkunjung ke tempat yang membuat saya bingung selain mengucapkan 'Subhanallah', serta memiliki Kasih Tuhan yang selalu membuat saya 'naik kelas' atas yang saya sebutkan tadi.
Orang lain hanya mengukur kebahagiaan pada titik pencapaian yang terlihat oleh mata. Tidak ada yang mengetahui titik pencapaian ketaatan pada Tuhan. Ya, Tuhan itu Maha Adil. Jika saja umatNya dapat melihat titik itu, maka ibadah tidak lagi menjadi hubungan yang intim bagi Tuhan dan hambaNya. Ah, tidak terlihatpun, masih banyak manusia yang rajin mengumbar keintiman bersama Tuhannya.
Setelah menulis ini, mematikan laptop, menonton acara pernikahan yang hampir satu pekan ini membuat heboh, karena saya ditinggalkan sendirian di rumah, orang tua sedang malam mingguan ke mini market depan komplek. Kelak jika mereka Pulang, saya mungkin akan tertidur di pangkuan ibunda karena empuknya paha, dan lembutnya belaian beliau mengelus mahkota saya.
Selamat bermalam minggu.
(Ditulis pada tanggal 18 Oktober 2014)
Refleksi Pertengahan 2014
Hari ini, tepat tanggal 17 Agustus 2014. 69 tahun lamanya negara
tercinta saya merdeka dari para penjajah yang konon katanya merampas
semua hak kami sebagai bangsa Indonesia.
Ada satu titik puncak yang membuat saya bisa ambil dari sini. Merenungkan bagaimana semua obsesi saya tahun ini tercapai. Apa saja yang sudah tercapai, apa saja yang belum, dan apa saja yang kemungkinan tidak akan tercapai.
Menulis bukanlah hal yang mudah bagi saya. Karena saya bukan penulis, tidak terlalu gemar menulis, juga tidak terlalu gemar membaca beberapa tulisan, kecuali jika saya memiliki waktu senggang.
Pekan ini, Tuhan kembali menegur saya. Jika akhir tahun lalu saya ditegur untuk tidak terlalu menyombongkan diri dan menurunkan ego yang ada, maka pertengahan tahun ini berbeda. Tuhan mengambil sementara nikmatNya yang diberikan kepada saya. Sehat. Iya, Tuhan perlahan sengan mengahpus sedikit demi sedikit dosa saya. Betapa penting kesehatan itu. Merepotkan beberapa orang di sekitar, membuat panik mereka, serta memaksakan diri untuk selalu beraktifitas normal seperti biasanya.
Entah mengapa pekan ini rasanya saya lalui dengan lumayan panjang dan berat. Ambisi saya untuk mendapatkan sesuatu yang saya inginkan mungkin belum bisa tercapai, menguras tabungan untuk melakukan kewajiban enam bulanan, menemukan kejanggalan dari orang yang ada di sekitar saya. Semuanya terakumulasi, hingga akhirnya saya harus beristirahat dua hari saja. Itupun saya masih dikejar oleh deadline pekerjaan dan pengabdian.
Sampai saya tidurpun, rasanya otak ini terus bekerja keras untuk berpikir. Bagaimana saya bisa menceritakan ini pada orang-orang terdekat saya? Bagaimana saya bisa mempercayai mereka (lagi) jika mereka mengkhianati saya? Bagaimana saya bisa hidup enam bulan ke depan dan bisa melakukan kewajiban berikutnya? Bagaimana saya menyelesaikan penelitian akademik saya yang bulan depan sudah memasuki ujian prasyarat?
Sepertinya, saya butuh piknik atau sekadar tertawa lepas tanpa memperdulikan status atau pencitraan saya selama ini. Bergandengan tangan berkeliling dunia bersama orang-orang yang saya kasihi, dan dari situ saya harus memahami, betapa sempurnanya ciptaan Tuhan....
(Ditulis pada tanggal 17 Agustus 2014)
Ada satu titik puncak yang membuat saya bisa ambil dari sini. Merenungkan bagaimana semua obsesi saya tahun ini tercapai. Apa saja yang sudah tercapai, apa saja yang belum, dan apa saja yang kemungkinan tidak akan tercapai.
Menulis bukanlah hal yang mudah bagi saya. Karena saya bukan penulis, tidak terlalu gemar menulis, juga tidak terlalu gemar membaca beberapa tulisan, kecuali jika saya memiliki waktu senggang.
Pekan ini, Tuhan kembali menegur saya. Jika akhir tahun lalu saya ditegur untuk tidak terlalu menyombongkan diri dan menurunkan ego yang ada, maka pertengahan tahun ini berbeda. Tuhan mengambil sementara nikmatNya yang diberikan kepada saya. Sehat. Iya, Tuhan perlahan sengan mengahpus sedikit demi sedikit dosa saya. Betapa penting kesehatan itu. Merepotkan beberapa orang di sekitar, membuat panik mereka, serta memaksakan diri untuk selalu beraktifitas normal seperti biasanya.
Entah mengapa pekan ini rasanya saya lalui dengan lumayan panjang dan berat. Ambisi saya untuk mendapatkan sesuatu yang saya inginkan mungkin belum bisa tercapai, menguras tabungan untuk melakukan kewajiban enam bulanan, menemukan kejanggalan dari orang yang ada di sekitar saya. Semuanya terakumulasi, hingga akhirnya saya harus beristirahat dua hari saja. Itupun saya masih dikejar oleh deadline pekerjaan dan pengabdian.
Sampai saya tidurpun, rasanya otak ini terus bekerja keras untuk berpikir. Bagaimana saya bisa menceritakan ini pada orang-orang terdekat saya? Bagaimana saya bisa mempercayai mereka (lagi) jika mereka mengkhianati saya? Bagaimana saya bisa hidup enam bulan ke depan dan bisa melakukan kewajiban berikutnya? Bagaimana saya menyelesaikan penelitian akademik saya yang bulan depan sudah memasuki ujian prasyarat?
Sepertinya, saya butuh piknik atau sekadar tertawa lepas tanpa memperdulikan status atau pencitraan saya selama ini. Bergandengan tangan berkeliling dunia bersama orang-orang yang saya kasihi, dan dari situ saya harus memahami, betapa sempurnanya ciptaan Tuhan....
(Ditulis pada tanggal 17 Agustus 2014)
Ibunya Diga dan Krisna
60 hari sudah kepergian beliau. Jujur saja, saya masih sangat
terpukul dengan kejadian ini. Entah ini naluri manusia atau bukan,
beliau sudah saya anggap seperti kakak kandung saya sendiri. Beliau
pergi diusia yang masih sangat muda, meninggalkan 2 orang pangeran
tampan dan suami yang mungkin amat sangat terpukul karena harus
kehilangan tulang rusuk dalam keluarga, namun harus tetap gagah.
Kami tidak memiliki hubungan darah sama sekali, namun Tuhan mempertemukan kami lewat orang tua yang sama-sama saling mengasihi. Sejak saya kecil, orang tua beliau merawat, menyayangi dan menyantuni saya sebagai anak yatim. Mungkin itu salah satu dari jutaan alasan saya mengapa saya amat sangat berhutang budi dan menyayangi keluarga beliau. Semoga beliau tenang di alam sana.
Kanker paru yang diderita seakan tiba-tiba muncul. Padahal beliau bukan perokok aktif, polusi di kota kecil seperti Rangkasbitung juga mungkin tidak seberapa dibandingkan dengan Jakarta. Saya masih heran dengan penyakit ini. Sungguh wanita kuat. Menahan rasa sakit selama 2 tahun, membesarkan anak, mengajar murid-murid yang masih berusia labil, belajar menyelesaikan S2 dengan tepat waktu dan nilai memuaskan, memiliki banyak sahabat dan orang terkasih, dan kesempurnaan hidup selama 30 tahun mungkin ada pada beliau.
Saya rindu mengusap punggung beliau dengan tissu yang direndam dengan air hangat. Saya rindu mendengar rengekan beliau ketika melihat saya makan bebek dengan lahapnya. Saya rindu ketika beliau menyuruh saya pindah tempat dari kursi yang empuk karena beliau mencari posisi yang nyaman untuk tidur. Saya rindu bercerita semua tentang masa remaja beliau. Saya rindu mendengar nasihat beliau mengenai semua persoalan wanita seusia saya. Saya rindu dengan pembicaraan kami mengenai dunia pendidikan. Saya rindu semua tentang beliau.
Betapa Tuhan amat sangat baik, dengan cepat mengambil manusia yang baik kembali ke sisiNya.
Semoga beliau tenang di alam sana. Aamiin
(Ditulis pada 4 Juni 2014)
Kami tidak memiliki hubungan darah sama sekali, namun Tuhan mempertemukan kami lewat orang tua yang sama-sama saling mengasihi. Sejak saya kecil, orang tua beliau merawat, menyayangi dan menyantuni saya sebagai anak yatim. Mungkin itu salah satu dari jutaan alasan saya mengapa saya amat sangat berhutang budi dan menyayangi keluarga beliau. Semoga beliau tenang di alam sana.
Kanker paru yang diderita seakan tiba-tiba muncul. Padahal beliau bukan perokok aktif, polusi di kota kecil seperti Rangkasbitung juga mungkin tidak seberapa dibandingkan dengan Jakarta. Saya masih heran dengan penyakit ini. Sungguh wanita kuat. Menahan rasa sakit selama 2 tahun, membesarkan anak, mengajar murid-murid yang masih berusia labil, belajar menyelesaikan S2 dengan tepat waktu dan nilai memuaskan, memiliki banyak sahabat dan orang terkasih, dan kesempurnaan hidup selama 30 tahun mungkin ada pada beliau.
Saya rindu mengusap punggung beliau dengan tissu yang direndam dengan air hangat. Saya rindu mendengar rengekan beliau ketika melihat saya makan bebek dengan lahapnya. Saya rindu ketika beliau menyuruh saya pindah tempat dari kursi yang empuk karena beliau mencari posisi yang nyaman untuk tidur. Saya rindu bercerita semua tentang masa remaja beliau. Saya rindu mendengar nasihat beliau mengenai semua persoalan wanita seusia saya. Saya rindu dengan pembicaraan kami mengenai dunia pendidikan. Saya rindu semua tentang beliau.
Betapa Tuhan amat sangat baik, dengan cepat mengambil manusia yang baik kembali ke sisiNya.
Semoga beliau tenang di alam sana. Aamiin
(Ditulis pada 4 Juni 2014)
Karsinoid Atipik
2 pekan terakhir, kesibukan saya berubah. Tempat tinggal di
Jakarta yang biasanya saya tempati sudah jarang sekali saya sambangi.
Bahkan rumah saya di Banten sana sudah tak sempat saya singgahi.
Aktifitas saya hanya duduk mendengarkan Profesor berbicara, sesekali
berbincang dengan teman sekelas sambil makan siang, berolah raga, dan
yang paling terbaru adalah menyambangi sanak di rumah sakit yang tidak terlalu jauh dari tempat saya menuntut ilmu sekarang.
Beliau berusia kurang lebih 30 tahun, mempunyai 2 orang jagoan kecil, suami yang begitu setia menemani, pekerjaan yang sudah mumpuni, pendidikan yang layak, dan dikelilingi oleh keluarga serta lingkungan yang penuh kasih. Saking sayangnya Tuhan kepada beliau, beliau diberikan satu titipanNya. Kehidupan yang tadinya begitu sempurna dan akan jauh disempurnakan oleh Tuhan. Penyempurnaan kehidupan beliau adalah dianugerahi gangguan kesehatan yang mungkin tidak semua orang akan kuat seperti beliau.
Hampir 2 tahun menderita penyakit ini, memang menguras tenaga, waktu, uang, dan segalanya. Tuhan memang sedang menyempurnakan hidup beliau. Dari beliau, saya amat sangat mengambil banyak pelajaran. Apalah saya yang kuliah 9 semester masih saja mengeluh kepada Tuhan, mengapa tidak pas 8 semester saja? Apalah saya yang sudah dinyatakan lulus sebagai Abdi Negara kemudian dengan tiba-tiba dianulir oleh sang penguasa? Apalah saya yang amat sangat mengharapkan dia selama 5 tahun dan hanya berujung untuk tidak menjalani hidup bersamanya seumur hidup?
Semua masalah yang dianggap amat sangat berat dalam hidup saya, tidaklah sebanding dengan anugerah yang diberikan Tuhan kepada beliau. Beliau sumber inspirasi saya untuk terus mengemban pendidikan yang lebih layak, terus berusaha dekat dengan Tuhan, terus berusaha hidup baik dengan sesama, terus berusaha mencari uang sebanyak-banyaknya untuk sekadar makan dan belanja di Mall, dan terus berusaha mencari pendamping yang tidak akan pernah membuat menyesal seumur hidup.
Jadilah selalu inspirator bagi saya, bagi semua orang. Tuhan selalu mempunyai rencana lain. Semangat untuk kesembuhannya, lekas kuat untuk pengobatan kemoterapinya. Aamiin...
(ditulis pada 25 Maret 2014)
Beliau berusia kurang lebih 30 tahun, mempunyai 2 orang jagoan kecil, suami yang begitu setia menemani, pekerjaan yang sudah mumpuni, pendidikan yang layak, dan dikelilingi oleh keluarga serta lingkungan yang penuh kasih. Saking sayangnya Tuhan kepada beliau, beliau diberikan satu titipanNya. Kehidupan yang tadinya begitu sempurna dan akan jauh disempurnakan oleh Tuhan. Penyempurnaan kehidupan beliau adalah dianugerahi gangguan kesehatan yang mungkin tidak semua orang akan kuat seperti beliau.
Hampir 2 tahun menderita penyakit ini, memang menguras tenaga, waktu, uang, dan segalanya. Tuhan memang sedang menyempurnakan hidup beliau. Dari beliau, saya amat sangat mengambil banyak pelajaran. Apalah saya yang kuliah 9 semester masih saja mengeluh kepada Tuhan, mengapa tidak pas 8 semester saja? Apalah saya yang sudah dinyatakan lulus sebagai Abdi Negara kemudian dengan tiba-tiba dianulir oleh sang penguasa? Apalah saya yang amat sangat mengharapkan dia selama 5 tahun dan hanya berujung untuk tidak menjalani hidup bersamanya seumur hidup?
Semua masalah yang dianggap amat sangat berat dalam hidup saya, tidaklah sebanding dengan anugerah yang diberikan Tuhan kepada beliau. Beliau sumber inspirasi saya untuk terus mengemban pendidikan yang lebih layak, terus berusaha dekat dengan Tuhan, terus berusaha hidup baik dengan sesama, terus berusaha mencari uang sebanyak-banyaknya untuk sekadar makan dan belanja di Mall, dan terus berusaha mencari pendamping yang tidak akan pernah membuat menyesal seumur hidup.
Jadilah selalu inspirator bagi saya, bagi semua orang. Tuhan selalu mempunyai rencana lain. Semangat untuk kesembuhannya, lekas kuat untuk pengobatan kemoterapinya. Aamiin...
(ditulis pada 25 Maret 2014)
Sesuatu yang Berlebihan itu Tidak Baik
Ku tatap dua bola matamu
Tersirat apa yang 'kan terjadi
Kau ingin pergi dariku
Meninggalkan semua kenangan
Tersirat apa yang 'kan terjadi
Kau ingin pergi dariku
Meninggalkan semua kenangan
Menutup lembaran cerita
Oh sayangku, aku tak mau
Ku tahu semua akan berakhir
Tapi ku tak rela lepaskanmu
Kau tanya mengapa aku tak ingin pergi darimu
Dan mulutku diam membisu
Salahkah bila diriku terlalu mencintaimu
Jangan tanyakan mengapa karena aku tak tahu
Aku pun tak ingin bila kau pergi tinggalkan aku
Masihkah ada hasratmu 'tuk mencintaiku lagi
Apa yang harus aku lakukan
'Tuk menarik perhatianmu lagi
Walau pun harus mengiba
Agar kau tetap di sini
Lihat aku duhai sayangku
Lirik lagu Ratu yang berjudul Salahkah Aku Terlalu Mencintaimu yang hadir saat masa saya SMA, kira-kira tahun 2006-2008an mungkin.
Pesan dari lagu ini:
Sesuatu yang berlebihan itu tidak baik, sebaiknya biasa saja. Termasuk dalam mencintai, dalam hal mencintai apapun. Mengejar apa yang diinginkan mungkin terasa akan lebih mudah daripada mempertahankan apa yang sudah didapat. Sungguh, itu sangat sulit. Kita sudah berusaha mengejar apa yang diinginkan, susah payah mempertahankannya, dan mungkin hanya Tuhan yang bisa berkehendak untuk mengambilnya kembali.
Karena sesungguhnya Tuhan sedang mempersiapkan yang terbaik untuk hambaNya.
Ira Arini
(ditulis pada 17 Januari 2014
Oh sayangku, aku tak mau
Ku tahu semua akan berakhir
Tapi ku tak rela lepaskanmu
Kau tanya mengapa aku tak ingin pergi darimu
Dan mulutku diam membisu
Salahkah bila diriku terlalu mencintaimu
Jangan tanyakan mengapa karena aku tak tahu
Aku pun tak ingin bila kau pergi tinggalkan aku
Masihkah ada hasratmu 'tuk mencintaiku lagi
Apa yang harus aku lakukan
'Tuk menarik perhatianmu lagi
Walau pun harus mengiba
Agar kau tetap di sini
Lihat aku duhai sayangku
Lirik lagu Ratu yang berjudul Salahkah Aku Terlalu Mencintaimu yang hadir saat masa saya SMA, kira-kira tahun 2006-2008an mungkin.
Pesan dari lagu ini:
Sesuatu yang berlebihan itu tidak baik, sebaiknya biasa saja. Termasuk dalam mencintai, dalam hal mencintai apapun. Mengejar apa yang diinginkan mungkin terasa akan lebih mudah daripada mempertahankan apa yang sudah didapat. Sungguh, itu sangat sulit. Kita sudah berusaha mengejar apa yang diinginkan, susah payah mempertahankannya, dan mungkin hanya Tuhan yang bisa berkehendak untuk mengambilnya kembali.
Karena sesungguhnya Tuhan sedang mempersiapkan yang terbaik untuk hambaNya.
Ira Arini
(ditulis pada 17 Januari 2014
Jumat, 21 Februari 2014
2013's Best Moment
Pagi ini, saya hanya ingin berbagi cerita mengenai
bagaimana hak saya sebagai warga negara terinjak-injak (menurut saya).
Bagi yang membaca cerita ini, mohon beri tahu saya, bahwa ini semua
sudah sesuai prosedur.
Ini semua cerita mengenai harapan, pencapaian cita-cita, passion, serta pengabdian seorang anak kepada kedua orang tuanya.
September 2013
Banyak berita mengenai pembukaan formasi ABDI NEGARA. Alhamdulillah, walaupun jurusan kuliah yang saya ambil kata orang itu aneh dan tidak semua orang tahu makna dari jurusan saya, banyak lembaga yang membutuhkan jurusan yang saya pelajari dan membuka formasinya. Dengan besar harapan, saya mendaftarkan diri untuk mengikuti proses rekruitmen ABDI NEGARA di lembaga-lembaga yang membuka formasi jurusan saya.
Oktober 2013
Setelah beberapa proses eliminasi, sampailah saya pada tahap administrasi. Nama saya selalu ada pada setiap pengumuman kelulusan pertahapnya. Saya dinyatakan lulus tahap administrasi danberkesempatan untuk mengikuti tahap Tes Kompetensi Dasar (TKD) pada awal November.
November 2013
Saya mengikuti TKD pada tanggal 3 November 2013. Untuk TKD pada lembaga yang saya ikuti ini, merkeka melakukannya secara manual (tidak terkomputerisasi) sehingga waktunya serentak di seluruh Indonesia. itu tandanya saya tidak diperbolehkan untuk memilih lembaga lain yang menyelenggarakan TKD pada lembaga lain. Dengan penuh pertimbangan, saya memilih satu lembaga negara yang paling besar peluangnya. Saat itu seingat saya hanya 13 orang peserta yang memperebutkan satu posisi utnuk daerah pusat (penempatan di Jakarta). Mengenai soal TKD? Ah, saya lupa tepatnya apa saja. Yang jelas, ada 3 segmen di dalam doal itu. Kepribadian, kemampuan akademik, dan wawasan nusantara. Semua saya isi dengan tenang, betul atau tidaknya saya tidak yakin, semua saya serahkan pada Tuhan dan nasib. hehehe
Desember 2013
Kabar gembira menghampiri saya. Pada tanggal 3 Desember 2013, saya mendapat kabar melalui telepon dari lembaga yang bersangkutan bahwa saya lolos TKD dan berhak mengikuti Tes Kompetensi Bidang dan wawancara keesokan harinya. Saya berada di posisi ke 3 dari 3 peserta yang lolos TKD dengan skor 433. Dengan penuh harapan dan kepercayaan diri, saya mendatangi lembaga yang meloloskan saya pada TKD dalam seleksi abdi negara tahun 2013 lalu. Sepagi mungkin saya bergegas hadir untuk mengikuti tes tersebut. Bentuk tes yang disuguhkan untuk saya dan peserta seleksi lain adalah tes psikometri dan wawancara. Lebih dari 4 jam kami menjalani tes psikometri. Sebelumnya saya belum pernah menjalani tes ini, sehingga saya googling mengenai tes ini. Kesimpulan saya adalah tes psikometri mampu memberikan informasi detail dan objektif dalam menilai kemampuan, kepribadian, bakat, serta minat yang dimiliki seseorang. Setelah kami (saya dan peserta lainnya) menyelesaikan tes psikometri, ada pengumuman dari panitia. Salah seorang panitia berbicara di hadapan kami semua:
“Mohon perhatian bagi semuanya, dikarenakan di beberapa daerah Indonesia ada pelamar yang mengikuti seleksi TKD dan nilainya kurang dari passing grade Kemenpan, maka beberapa posisi di daerah tersebut dikosongkan. Oleh karena itu, berdasarkan persetujuan semua pihak, kami menawarkan kepada Anda para peserta seleksi ABDI NEGARA untuk bersedia mengisi posisi kosong tersebut sesuai dengan formasi jurusan Anda masing-masing. Ini hanya untuk formasi jurusan yang saya sebutkan saja, untuk yang bersedia, silakan mengambil formulir persetujuan dan menandatangani surat bermaterai ketika keluar ruangan ini. Berikut 26 formasi dan wilayah yang dikosongkan )(*&^%#@!$%&??((&^”
Ternyata formasi jurusan saya disebutkan. Ada 4 provinsi yang kosong untuk formasi jurusan saya. Dari 3 peserta yang tersisa untuk formasi jurusan saya, dan 4 formasi yang kosong ditambah formasi untuk pusat, rasanya logika saya mengatakan semua peserta lulus. Logikanya...
Kami bertiga baru saling mengenal hari itu, namun merasa sudah kenal lama. Ya mungkin karena sama-sama memiliki harapan, sama-sama belajar mengenai ilmu yang diberikan di jurusan kami, dan sama-sama menandatangani surat pernyataan bersedia menempati posisi kosong yang ditulis di lembar formulir tersebut. Kami merasa tenang, walau tidak harus menempati posisi pusat yang sesuai dengan tujuan lamaran pertama, karena telah mengisi formulir kesediaan bermaterai. Ditambah penguatan dari pihak lembaga terkait, bahwasannya semua akomodasi akan ditanggung lembaga. Ah, rasanya Tuhan begitu baik pada saya, baru pertama kali mencoba untuk mendaftar, langsusng lolos begitu saja.
Dalam surat itu, tertulis pernyataan “Jika saya lolos sebagai peserta cadangan, maka saya bersedia ditempatkan di daerah dan jika saya mengajukan mutasi atau memundurkan diri, maka saya siap membayar denda sebesar Rp. 30.000.000,-“
Hal yang membuat kami bertiga tenang:
- Sudah menandatangani surat bermaterai mengenai ketersediaan ditempatkan di daerah.
- Sudah diberikan pengarahan dan penjelasan bahwa semua akomodasi akan ditanggung lembaga.
- Akan diberi kabar minimal pada tanggal 14 Desember 2013.
Hari demi hari saya lalui (ini lebay). Sudah tanggal 14 Desember tapi belum juga ada telepon dari lembaga yang sudah membuat saya menandatangani surat pernyataan bermaterai tersebut. Sampai pada tanggal 24 Desember 2013, saya membuka pengumuman di website lembaga terkait. Nama saya tercantum di peserta cadangan, berada di posisi 2 dari 3 peserta. Berpedoman pada surat bermaterai tersebut, logika saya menyatakan bahwa saya lulus ABDI NEGARA tahun ini, untuk daerah tentunya. Tapi ada satu yang mengganjal, mengapa saya dan peserta lainnya belum juga menerima telepon? Saya masih ingat betul apa yang mereka katakan tanggal 4 Desember lalu, mereka akan konfirmasi melalui telepon.
Pada hari yang sama, saya mencoba menelpon lembaga tersebut, line teleponnya selalu sibuk, saya coba terus dan terus, akhirnya bisa tersambung juga. Saya menelepon dan menanyakan perihal peserta cadangan yang menurut logika saya sudah lulus juga tapi penempatannya di daerah itu harus pemberkasan ke mana? Pusatkah? Daerahkah? Karena pada website tersebut tertulis pemberkasan paling lambat sampai tanggal 27 Desember 2013. Itu tanggal 24 Desember, 25 dan 26 Desember itu natal dan cuti bersama, kalau tidak pada hari itu, kapan lagi saya urusi? Sayup-sayup suara seorang pria berusia sekitar 30 tahunan terdengar di ponsel saya: “Begini, Bu. Untuk yang peserta cadangan itu ternyata dianulir oleh Panselnas (Panitia Seleksi ABDI NEGARA Nasional). Untuk yang dinyatakan lulus ABDI NEGARA hanya urutan nomer 1 saja, jika urutan nomer 1 mengundurkan diri atau gugur, maka urutan nomer 2 atau 3 yang menggantikannya.”
Jegerrrr!
Saat
itu sudah pukul 15.00 WIB dan saya kaget. Hendak pergi langsung ke
kantor lembaga tersebut rasanya tidak mungkin, sebentar lagi kantornya
tutup, jalanan Jakarta macet, apalagi mengingat esok adalah hari Natal.
Sudahlah, mendingan saya pulang ke rumah, lumayan libur 2 hari.
Sepanjang perjalanan, saya merasa ini mimpi, atau sesuatu yang sulit dipercaya. Memperbanyak istigfar dan berusaha untuk tidak menitikan air mata, apalagi saat menceritakannya kepada orang tua. Sesampainya di rumah, orang tua saya sudah mempersiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan pemberkasan kelulusan saya. Dengan berat hati dan berusaha tidak menangis, saya menceritakan semuanya kepada orang tua saya. Reaksi mereka? Tentu saja masih optimis saya lulus dan suara orang di ujung telepon sana hanya bercanda. Bercanda? Aduuh saya gak suka bercandaan seperti itu.
26 Desember 2013 saya mendatangi kantor lembaga yang bersangkutan bersama berkas saya yang sudah lengkap dan Ayah saya. Sebetulnya saya kurang setuju Ayah saya ikut, tapi ya namanya orang tua, mungkin beliau penasaran dengan apa yang terjadi sebenarnya. Hari itu kantor sepi, mungkin masih dalam suasana cuti bersama. Hanya ada satpam dan karyawan yang sedang piket. Dengan langkah gontai, saya diperkenankan untuk berbicara langsung dengan karyawan kantor tersebut tetapi Ayah saya hanya menunggu di luar ruangan saja, beliau tidak diperkenankan masuk.
Mereka menjelaskan bahwa kabar yang saya terima melalui telepon itu benar adanya. Lalu, mengapa tidak ada konfirmasi kepada para peserta? Apa salahnya menghubungi 26 peserta yang sudah menandatangani surat bermaterai tersebut? Bagaimana dengan surat bermaterai saya, apakah bisa dikembalikan? Ah, pertanyaan yang terlalu banyak di otak saya rasanya sulit saya keluarkan satu persatu dari mulut saya karena emosi. Dengan tenang, saya mencoba menanyakan satu demi satu kronologisnya.
Jawaban mereka: “setelah mengetahui bahwa ada 26 posisi daerah yang dikosongkan Panselnas karena skor TKD tidak memenuhi passing grade Kemepan, kami mencoba negosiasi dengan Panselnas untuk mengisi posisi tersebut oleh peserta yang mendaftar di pusat dengan skor TKD yang memenuhi passing grade Kemenpan. Secara lisan, Panselnas, BKN (Badan Kepegawaian Negara) dan Kemenpan menyetujui, lalu dibuatlah surat pernyataan bermaterai yang Anda tandatangani itu. Namun, pada tanggal 19 Desember 2013 diadakan rapat akhir kelulusan ABDI NEGARA untuk lembaga kami, Panselnas tiba-tiba menganulir keputusan tersebut secara lisan dengan alasan meminimalisir kecurangan atau titipan orang lain. Untuk itu, kami tidak mempunyai dasar secara tertulis dan surat pernyataan Anda dan 26 peserta lainnya diambil oleh Panselnas sebagai bukti penganuliran.”
Dari situ saya sudah mati kutu. Beberapa orang mendorong saya untuk menelusuri kasus ini, namun saya memilih diam. Aapalah saya ini bagaikan butiran debu melawan lembaga-lembaga raksasa Negara tersebut. Apakah ahak saya diinjak-injak? Apakah saya salah? Apakah memang seharusnya prosedurnya begini? Wallahualam.
Sepanjang perjalanan, saya merasa ini mimpi, atau sesuatu yang sulit dipercaya. Memperbanyak istigfar dan berusaha untuk tidak menitikan air mata, apalagi saat menceritakannya kepada orang tua. Sesampainya di rumah, orang tua saya sudah mempersiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan pemberkasan kelulusan saya. Dengan berat hati dan berusaha tidak menangis, saya menceritakan semuanya kepada orang tua saya. Reaksi mereka? Tentu saja masih optimis saya lulus dan suara orang di ujung telepon sana hanya bercanda. Bercanda? Aduuh saya gak suka bercandaan seperti itu.
26 Desember 2013 saya mendatangi kantor lembaga yang bersangkutan bersama berkas saya yang sudah lengkap dan Ayah saya. Sebetulnya saya kurang setuju Ayah saya ikut, tapi ya namanya orang tua, mungkin beliau penasaran dengan apa yang terjadi sebenarnya. Hari itu kantor sepi, mungkin masih dalam suasana cuti bersama. Hanya ada satpam dan karyawan yang sedang piket. Dengan langkah gontai, saya diperkenankan untuk berbicara langsung dengan karyawan kantor tersebut tetapi Ayah saya hanya menunggu di luar ruangan saja, beliau tidak diperkenankan masuk.
Mereka menjelaskan bahwa kabar yang saya terima melalui telepon itu benar adanya. Lalu, mengapa tidak ada konfirmasi kepada para peserta? Apa salahnya menghubungi 26 peserta yang sudah menandatangani surat bermaterai tersebut? Bagaimana dengan surat bermaterai saya, apakah bisa dikembalikan? Ah, pertanyaan yang terlalu banyak di otak saya rasanya sulit saya keluarkan satu persatu dari mulut saya karena emosi. Dengan tenang, saya mencoba menanyakan satu demi satu kronologisnya.
Jawaban mereka: “setelah mengetahui bahwa ada 26 posisi daerah yang dikosongkan Panselnas karena skor TKD tidak memenuhi passing grade Kemepan, kami mencoba negosiasi dengan Panselnas untuk mengisi posisi tersebut oleh peserta yang mendaftar di pusat dengan skor TKD yang memenuhi passing grade Kemenpan. Secara lisan, Panselnas, BKN (Badan Kepegawaian Negara) dan Kemenpan menyetujui, lalu dibuatlah surat pernyataan bermaterai yang Anda tandatangani itu. Namun, pada tanggal 19 Desember 2013 diadakan rapat akhir kelulusan ABDI NEGARA untuk lembaga kami, Panselnas tiba-tiba menganulir keputusan tersebut secara lisan dengan alasan meminimalisir kecurangan atau titipan orang lain. Untuk itu, kami tidak mempunyai dasar secara tertulis dan surat pernyataan Anda dan 26 peserta lainnya diambil oleh Panselnas sebagai bukti penganuliran.”
Dari situ saya sudah mati kutu. Beberapa orang mendorong saya untuk menelusuri kasus ini, namun saya memilih diam. Aapalah saya ini bagaikan butiran debu melawan lembaga-lembaga raksasa Negara tersebut. Apakah ahak saya diinjak-injak? Apakah saya salah? Apakah memang seharusnya prosedurnya begini? Wallahualam.
Rabu, 08 Januari 2014
Ayah dan Ibuku Hebat
Saya terlahir dari keluarga
sederhana, tidak kekurangan, juga tidak berlebihan dalam segi materi.
Ibu saya seorang guru Sekolah Dasar biasa asli Banten, Ayah saya asli
Jawa Timur, tepatnya di Kabupaten Jombang. Dari Jombang, Ayah saya
berkelana mencari secercah cahaya untuk memperbaiki nasib. Berasal dari
keluarga yang kurang mampu dan berbekal ijazah, Tuhan menuntun ayah saya
tiba di pelosok perkampungan di daerah Banten, menjadi seorang guru di
Yayasan pendidikan yang baru saja dibangun. Ayah saya tidak punya tempat
tinggal, akhirnya ditawari tinggal di rumah Pak RT di kampung tersebut,
yang tak lain adalah rumah Kakek saya.
Rupa Ayah saya tidak jelek, bahkan mungkin kalau jaman sekarang bisa dibilang "kece" dan banyak ditaksir oleh beberapa gadis di kampung itu, termasuk Ibu saya. Akhirnya, mungkin Ibu adalah jodoh Ayah saya, mereka menikah tahun 1989 dengan modal nekat. Nekat karena belum punya pekerjaan tetap, nekat karena Ibu saya masih punya 4 orang adik perempuan yang harus dibantu biaya pendidikannya. Mengapa harus dibantu? Karena kakek saya hanya seorang petani sekaligus penjaga sekolah. Sekalipun kakek saya seorang abdi negara dan mempunyai gaji tetap, rasanya tidak bisa mencukupi kebutuhan keenam anak dan seorang istri baginya.
Selain mengajar di Yayasan Pendidikan, Ayah dan Ibu saya rajin sekali bertani, semua demi mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. Setelah 2 tahun lamanya menikah, Ayah dan Ibu baru dikaruniai seorang putri kecil bernama Ira Arini. Itu saya. Setelah saya lahir, Ibu saya diangkat menjadi abdi negara, karena beliau lulusan SPG (Sekolah Pendidikan Guru) setara dengan Sekolah Menengah Akhir (SMA). Saat itu, SPG akan ditutup oleh pemerintah dan hampir semua lulusannya diangkat menjadi abdi negara dengan jabatan fungsional sebagai guru. Namun, karena saat itu sistem pemerintahan bersifat otonomi daerah, Ayah saya yang juga sebagai alumni SPG tidak bisa di angkat sebagai abdi negara seperti Ibu karena Ayah berasal dari daerah luar.
Mungkin saat itu, Ayah saya amat sangat kecewa dan mempunyai beban moral yang amat sangat berat. Yang seharusnya menjadi hak Ayah saya, karena beberapa peraturan yang harus dipatuhi, beliau harus mengalah dan tidak kembali ke Jombang dan tetap di Banten bersama istri dan anaknya dengan predikat sebagai "suami dari seorang abdi negara". Entah memang karena masalah ini atau karena memang takdir Tuhan, Ayah jatuh sakit tidak lama setelah Ibu Prajabatan.
1 bulan lamanya Ayah harus menjalani pengobatan di rumah sakit. Saat itu yang menunggu hanya Ibu dan Kakek saya. Adik-adik Ibu masih sangat kecil, harus sekolah. Nenek saya mengurusi anak-anaknya, yang memungkinkan bisa terus stand by adalah Ibu dan Kakek saya saja. Itupun pagi-pagi Ayah ditinggal karena harus bekerja sampai siang. Betapa berat perjuangan Ibu dan Kakek saya, Tuhan amat sangat memberi kekuatan kepada mereka saat itu.
Semenjak itu, Ayah terus sakit-sakitan, hingga pada saya berumur 2 tahun, Ayah dipanggil Tuhan. Katanya, sebelum pergi, Ayah minta Ibu untuk memeluknya dengan erat, berpesan untuk tidak terlalu keras mendidik saya, menjaga saya, membesarkan saya, serta menuntun saya untuk menjadi anak solehah yang selalu mendoakan orang tuanya. Saya sendiri lupa dengan rupa Ayah saya. Maklum saja, usia saya masih terlalu dini untuk dapat mengingat hal itu.
Seperginya Ayah, Ibu harus menjadi seorang single parent untuk satu putrinya, saya. Ayah saya tahu, Ibu itu berwatak keras, makanya sebelum beliau meninggal selalu berkata jangan terlalu keras sama anak dan menitipkan saya kepada semua anggota keluarga jika nanti Ibu mendidik saya terlalu keras. Ibu mendidik saya dengan baik, walaupun kadang agak tempramental. Saya yang sudah berumur 6 tahun masih saja ngompol di kasur, sangat tidak berani membuka mata karena tahu pasti ibu akan memarahi saya dengan hebat. Selayaknya anak-anak, saya juga banyak melakukan kenakalan. Misalnya, ingin pergi renang bersama teman-teman, tapi Ibu tidak mengijinkan. Hasilnya, saya renang di bak air kamar mandi dan ketahuan Ibu. Saat itu Ibu menangis karena kelakuan saya yang amat sangat bodoh, sambil mencubit dan memukul saya pakai sapu. Saya merasa Ibu benci saya, tidak sayang saya, tapi sekarang tidak lagi merasa seperti itu. Ibu amat sayang sama saya, cinta sama saya.
Seorang single parent yang kuat, keras, berkarakter, itulah yang mungkin dapat saya gambarkan mengenai Ibu saya saat itu. Semua kekerasan yang pernah saya alami, bukan karena Ibu benci saya, tapi karena Ibu sayang saya, serta beberapa faktor psikologis yang mungkin menjadikan Ibu bertindak seperti itu. Tidak sedikit laki-laki yang mencoba mendekati Ibu, dari mulai yang masih single, beristri, sampai single berpaket. Saat itu, saya amat sangat tidak menyukai lelaki manapun yang mendekati Ibu. Alasannya, saya takut Ibu saya diambil oleh mereka, lalu saya dibuang begitu saja. Hahahaa.. Konyol memang.
8 tahun lamanya Ibu membesarkan saya seorang diri. Hinggal akhirnya, ada seorang lelaki single, sekampung dengan Ibu mulai mendekati. Saat itu ada acara pernikahan sanak saudara, Ibu dan lelaki itu berteman dari kecil, namun baru bertemu lagi setelah 6 tahun lamanya. Entah mengapa, saya tidak menggalaki lelaki itu, saya mau saja digendong dan dibelikan ini itu oleh beliau. Tidak mudah bagi Ibu untuk memberikan pengertian kepada saya untuk menerima lelaki itu menjadi orang baru dalam keluarga kecil kami. Hingga akhirnya saya menyetujui untuk mempunyai Ayah kembali pada kelas 5 SD.
Ayah, begitu panggilan saya terhadap lelaki baru yang masuk di keluarga kecil kami. Beliau begitu baik, baiknya sudah melebihi kebaikan seorang Ayah kandung pada umumnya. Kelas 6 SD, keluarga kami dikaruniai seorang anak perempuan, saya sangat senang sekali. Mempunyai seorang adik perempuan dan harus rela kasih sayang orang tua dibagi tidaklah mudah. Kadang saya cemburu karena hal kecil itu, namun seiring bertambahnya usia, saya sadar akan hal itu. Tidak semua orang seberuntung saya.
Kami berempat sangat bahagia, selalu berusaha menjadi hamba Tuhan yang taat, berusaha memperbaiki perekonomian keluarga bersama, berusaha mengejar cita-cita bersama, serta berusaha menjadi warga negara yang lebih mendahulukan kewajiban daripada haknya. Jika saja ada lomba keluarga paling harmonis, mungkin keluarga saya juaranya. Semoga Tuhan selalu memberkahi keluarga kami sampai ajal menjemput. Aamiin.
Ira Arini
Rupa Ayah saya tidak jelek, bahkan mungkin kalau jaman sekarang bisa dibilang "kece" dan banyak ditaksir oleh beberapa gadis di kampung itu, termasuk Ibu saya. Akhirnya, mungkin Ibu adalah jodoh Ayah saya, mereka menikah tahun 1989 dengan modal nekat. Nekat karena belum punya pekerjaan tetap, nekat karena Ibu saya masih punya 4 orang adik perempuan yang harus dibantu biaya pendidikannya. Mengapa harus dibantu? Karena kakek saya hanya seorang petani sekaligus penjaga sekolah. Sekalipun kakek saya seorang abdi negara dan mempunyai gaji tetap, rasanya tidak bisa mencukupi kebutuhan keenam anak dan seorang istri baginya.
Selain mengajar di Yayasan Pendidikan, Ayah dan Ibu saya rajin sekali bertani, semua demi mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. Setelah 2 tahun lamanya menikah, Ayah dan Ibu baru dikaruniai seorang putri kecil bernama Ira Arini. Itu saya. Setelah saya lahir, Ibu saya diangkat menjadi abdi negara, karena beliau lulusan SPG (Sekolah Pendidikan Guru) setara dengan Sekolah Menengah Akhir (SMA). Saat itu, SPG akan ditutup oleh pemerintah dan hampir semua lulusannya diangkat menjadi abdi negara dengan jabatan fungsional sebagai guru. Namun, karena saat itu sistem pemerintahan bersifat otonomi daerah, Ayah saya yang juga sebagai alumni SPG tidak bisa di angkat sebagai abdi negara seperti Ibu karena Ayah berasal dari daerah luar.
Mungkin saat itu, Ayah saya amat sangat kecewa dan mempunyai beban moral yang amat sangat berat. Yang seharusnya menjadi hak Ayah saya, karena beberapa peraturan yang harus dipatuhi, beliau harus mengalah dan tidak kembali ke Jombang dan tetap di Banten bersama istri dan anaknya dengan predikat sebagai "suami dari seorang abdi negara". Entah memang karena masalah ini atau karena memang takdir Tuhan, Ayah jatuh sakit tidak lama setelah Ibu Prajabatan.
1 bulan lamanya Ayah harus menjalani pengobatan di rumah sakit. Saat itu yang menunggu hanya Ibu dan Kakek saya. Adik-adik Ibu masih sangat kecil, harus sekolah. Nenek saya mengurusi anak-anaknya, yang memungkinkan bisa terus stand by adalah Ibu dan Kakek saya saja. Itupun pagi-pagi Ayah ditinggal karena harus bekerja sampai siang. Betapa berat perjuangan Ibu dan Kakek saya, Tuhan amat sangat memberi kekuatan kepada mereka saat itu.
Semenjak itu, Ayah terus sakit-sakitan, hingga pada saya berumur 2 tahun, Ayah dipanggil Tuhan. Katanya, sebelum pergi, Ayah minta Ibu untuk memeluknya dengan erat, berpesan untuk tidak terlalu keras mendidik saya, menjaga saya, membesarkan saya, serta menuntun saya untuk menjadi anak solehah yang selalu mendoakan orang tuanya. Saya sendiri lupa dengan rupa Ayah saya. Maklum saja, usia saya masih terlalu dini untuk dapat mengingat hal itu.
Seperginya Ayah, Ibu harus menjadi seorang single parent untuk satu putrinya, saya. Ayah saya tahu, Ibu itu berwatak keras, makanya sebelum beliau meninggal selalu berkata jangan terlalu keras sama anak dan menitipkan saya kepada semua anggota keluarga jika nanti Ibu mendidik saya terlalu keras. Ibu mendidik saya dengan baik, walaupun kadang agak tempramental. Saya yang sudah berumur 6 tahun masih saja ngompol di kasur, sangat tidak berani membuka mata karena tahu pasti ibu akan memarahi saya dengan hebat. Selayaknya anak-anak, saya juga banyak melakukan kenakalan. Misalnya, ingin pergi renang bersama teman-teman, tapi Ibu tidak mengijinkan. Hasilnya, saya renang di bak air kamar mandi dan ketahuan Ibu. Saat itu Ibu menangis karena kelakuan saya yang amat sangat bodoh, sambil mencubit dan memukul saya pakai sapu. Saya merasa Ibu benci saya, tidak sayang saya, tapi sekarang tidak lagi merasa seperti itu. Ibu amat sayang sama saya, cinta sama saya.
Seorang single parent yang kuat, keras, berkarakter, itulah yang mungkin dapat saya gambarkan mengenai Ibu saya saat itu. Semua kekerasan yang pernah saya alami, bukan karena Ibu benci saya, tapi karena Ibu sayang saya, serta beberapa faktor psikologis yang mungkin menjadikan Ibu bertindak seperti itu. Tidak sedikit laki-laki yang mencoba mendekati Ibu, dari mulai yang masih single, beristri, sampai single berpaket. Saat itu, saya amat sangat tidak menyukai lelaki manapun yang mendekati Ibu. Alasannya, saya takut Ibu saya diambil oleh mereka, lalu saya dibuang begitu saja. Hahahaa.. Konyol memang.
8 tahun lamanya Ibu membesarkan saya seorang diri. Hinggal akhirnya, ada seorang lelaki single, sekampung dengan Ibu mulai mendekati. Saat itu ada acara pernikahan sanak saudara, Ibu dan lelaki itu berteman dari kecil, namun baru bertemu lagi setelah 6 tahun lamanya. Entah mengapa, saya tidak menggalaki lelaki itu, saya mau saja digendong dan dibelikan ini itu oleh beliau. Tidak mudah bagi Ibu untuk memberikan pengertian kepada saya untuk menerima lelaki itu menjadi orang baru dalam keluarga kecil kami. Hingga akhirnya saya menyetujui untuk mempunyai Ayah kembali pada kelas 5 SD.
Ayah, begitu panggilan saya terhadap lelaki baru yang masuk di keluarga kecil kami. Beliau begitu baik, baiknya sudah melebihi kebaikan seorang Ayah kandung pada umumnya. Kelas 6 SD, keluarga kami dikaruniai seorang anak perempuan, saya sangat senang sekali. Mempunyai seorang adik perempuan dan harus rela kasih sayang orang tua dibagi tidaklah mudah. Kadang saya cemburu karena hal kecil itu, namun seiring bertambahnya usia, saya sadar akan hal itu. Tidak semua orang seberuntung saya.
Kami berempat sangat bahagia, selalu berusaha menjadi hamba Tuhan yang taat, berusaha memperbaiki perekonomian keluarga bersama, berusaha mengejar cita-cita bersama, serta berusaha menjadi warga negara yang lebih mendahulukan kewajiban daripada haknya. Jika saja ada lomba keluarga paling harmonis, mungkin keluarga saya juaranya. Semoga Tuhan selalu memberkahi keluarga kami sampai ajal menjemput. Aamiin.
Ira Arini
2013, Saya Telah...
Tulisan ini saya tulis pada tanggal 31 Desember 2013, pukul 15:15 tepatnya.
Sebenarnya ingin sekali menulis kaledioskop 2013 dari kemarin-kemarin, Alhamdulillah mumpung masih tanggal 31 Desember 2013, berarti masih ada kesempatan untuk menulis semua kejadian 2013 ini.
Januari 2013
Saya mendapat gelar sarjana dengan nilai sesuap nasi. Mengapa sesuap nasi? walaupun tidak terlalu membanggakan orang tua karena nilai yang hanya pas-pasan dan tidak sesuai target kelulusan (baca: kuliah 9 semester), tapi ibu saya tetap bangga pada putri sulungnya ini. Ibu tidak pernah mengucapkan itu, tapi saya lihat jelas di matanya (PeDe).
Februari 2013
Bulan yang paling ditunggu sepanjang tahun. Bulan bertambahnya umur, dan selalu banyak sekali kejutan. Tepat pada tanggal 23 Februari 2013 lalu, saya genap berusia 22 tahun. Masih muda jika dibandingkan dengan usia Ibu dan Ayah, dan sudah tua jika dibandingkan dengan usia adik sendiri. Pada hari itu, semua keluarga berkumpul dan mengucapkan selamat ulang tahun, hanya tempatnya saja yang agak tidak nyaman. Ruang tunggu pasien ICU. Ya, Kakek tercinta sedang tidak sehat dan harus masuk ruang ICU pada hari ulang tahun saya, hingga kemudian beliau pergi 3 hari setelah hari itu tepatnya pada tanggal 26 Februari 2013. InsyaAllah kami semua ikhlas.
Maret 2013
Puncak dari segala kebahagiaan setelah 9 semester berjuang mengais ilmu. TOGA! Semua keluarga berkumpul, sahabat, teman, dan semua orang-orang terkasih menyempatkan diri untuk memberi selamat. Tapi setelah hari bahagia itu, saya tertegun, "abis wisuda mau ngapain lagi yaa?"
April, Mei 2013
Beristirahat cantik di rumah dengan lebel pengangguran. Bangun siang, pulsa masih minta ke Ibu, makan dan semua kehidupan masih ditanggung orang tua. Pengangguran berlabel ijazah sarjana memang tidak enak. Pernah mencoba melamar pekerjaan di perusahaan BUMN, tapi kalah telak karena tinggi badan tidak mumpuni.
Juni 2013
Dapat pekerjaan yang mengharuskan saya menjadi morning person. Berangkat gelap dan pulang juga gelap. Saya hanya kuat 1 bulan, sisanya saya menyerah. Bukan karena capek, namun ada alasan lainnya yang rasanya tidak etis saya jelaskan di sini.
Juli, Agustus 2013
Menjalani ramadhan pertama tanpa kakek tersayang. Berat tapi harus dijalani. Ditambah krisis kepercayaan diri karena masih berpredikat pengangguran, tapi semua karena berkah ramadhan, saya mendapat kabar untuk membantu dosen walau hanya sampai bulan Desember saja.
September, Oktober dan November 2013
Awal September saya memulai status baru saya sebagai mahasiswa Pascasarjana di kampus yang sama dengan kampus dimana saya dulu mengambil program sarjana. Bertemu teman baru, kehidupan baru, dan tentunya saya harus membagi waktu antara mengajar, membantu dosen, dan belajar. Tidak mudah bagi saya membagi waktu, banyak sekali yang harus saya korbankan. Waktu luang dengan keluarga, misalnya. Tapi, waktu bersama keluarga menjadi sangat lebih berharga dari sebelumnya karena hal ini. Family is everything for me. 3 bulan itu saya jalani dengan hectic. 3 bulan itu juga saya mencoba mengadu nasib untuk memanfaatkan ijazah yang saya punya menjadi seorang calon abdi negara.
Desember 2013
Pengumuman sebagai calon abdi negara sudah keluar, Alhamdulillah saya lolos sebagai calon abdi negara. Dengan resiko yang tidak kecil, saya harus bersedia ditempatkan di luar pulau jika saya lulus sebagai cadangan. Keluarga mendukung, sahabat, guru dan teman mendukung saya untuk mengambil keputusan itu, hingga akhirnya saya menandatangani sebuah surat penyataan bermaterai bahwa jika saya lulus sebagai peserta cadangan, saya bersedia ditempatkan di luar daerah Jakarta. Saya dan keluarga begitu menaruh harapan besar terhadap keputusan itu, istilahnya "tinggal nunggu penempatan, keterima sih udah. Wong udah ttd materai." Mungkin karena saya dan keluarga warga yang awam akan hukum, tanggal 24 Desember lalu saya membuka pengumuman akhir, saya lulus seleksi calon abdi negara sebagai cadangan, saya harus siap ditempatkan di luar daerah, meninggalkan studi, keluarga, sahabat dan teman.
Tuhan berkata lain, surat bermaterai yang saya pikir memiliki kekuatan hukum yang cukup, ternyata tidak berarti apa-apa. Mereka bilang keputusan surat itu dianulir dengan berbagai alasan yang sampai saat ini saya kurang paham betul. Saling melempar bola panas, lempar kesalahan, yang pada ujungnya saya merasa bahwa hak saya sebagai warga negara sudah diinjak-injak. Geram, kecewa, sedih, itu sudah pasti. Hak saya yang sudah dinyatakan 100% lulus seleksi calon abdi negara ternyata tidak cukup bisa mengantarkan saya ke gerbang yang mungkin orang tua saya akan sangat bangga.
Tanpa berpikir panjang, saya mengambil keputusan untuk tidak memproses hal ini ke jalur hukum. Biar saja mereka yang menyia-nyiakan hak saya dan 25 orang yang senasib dengan saya yang menanggungnya. Jika Tuhan tidak mengijinkan saya untuk jauh dari orang tua, maka inilah kejadiannya. Mungkin Tuhan menghendaki saya untuk selalu berada di dekat orang tua, menyelesaikan studi, dan mempersiapkan jalan yang lebih baik dari kemarin.
Semoga tahun 2013 ini barokah, dan 2014 akan lebih barokah. Aamiin
Ira Arini
Ditulis pada tanggal 31 Desember 2013, pukul 15.15 WIB
Sebenarnya ingin sekali menulis kaledioskop 2013 dari kemarin-kemarin, Alhamdulillah mumpung masih tanggal 31 Desember 2013, berarti masih ada kesempatan untuk menulis semua kejadian 2013 ini.
Januari 2013
Saya mendapat gelar sarjana dengan nilai sesuap nasi. Mengapa sesuap nasi? walaupun tidak terlalu membanggakan orang tua karena nilai yang hanya pas-pasan dan tidak sesuai target kelulusan (baca: kuliah 9 semester), tapi ibu saya tetap bangga pada putri sulungnya ini. Ibu tidak pernah mengucapkan itu, tapi saya lihat jelas di matanya (PeDe).
Februari 2013
Bulan yang paling ditunggu sepanjang tahun. Bulan bertambahnya umur, dan selalu banyak sekali kejutan. Tepat pada tanggal 23 Februari 2013 lalu, saya genap berusia 22 tahun. Masih muda jika dibandingkan dengan usia Ibu dan Ayah, dan sudah tua jika dibandingkan dengan usia adik sendiri. Pada hari itu, semua keluarga berkumpul dan mengucapkan selamat ulang tahun, hanya tempatnya saja yang agak tidak nyaman. Ruang tunggu pasien ICU. Ya, Kakek tercinta sedang tidak sehat dan harus masuk ruang ICU pada hari ulang tahun saya, hingga kemudian beliau pergi 3 hari setelah hari itu tepatnya pada tanggal 26 Februari 2013. InsyaAllah kami semua ikhlas.
Maret 2013
Puncak dari segala kebahagiaan setelah 9 semester berjuang mengais ilmu. TOGA! Semua keluarga berkumpul, sahabat, teman, dan semua orang-orang terkasih menyempatkan diri untuk memberi selamat. Tapi setelah hari bahagia itu, saya tertegun, "abis wisuda mau ngapain lagi yaa?"
April, Mei 2013
Beristirahat cantik di rumah dengan lebel pengangguran. Bangun siang, pulsa masih minta ke Ibu, makan dan semua kehidupan masih ditanggung orang tua. Pengangguran berlabel ijazah sarjana memang tidak enak. Pernah mencoba melamar pekerjaan di perusahaan BUMN, tapi kalah telak karena tinggi badan tidak mumpuni.
Juni 2013
Dapat pekerjaan yang mengharuskan saya menjadi morning person. Berangkat gelap dan pulang juga gelap. Saya hanya kuat 1 bulan, sisanya saya menyerah. Bukan karena capek, namun ada alasan lainnya yang rasanya tidak etis saya jelaskan di sini.
Juli, Agustus 2013
Menjalani ramadhan pertama tanpa kakek tersayang. Berat tapi harus dijalani. Ditambah krisis kepercayaan diri karena masih berpredikat pengangguran, tapi semua karena berkah ramadhan, saya mendapat kabar untuk membantu dosen walau hanya sampai bulan Desember saja.
September, Oktober dan November 2013
Awal September saya memulai status baru saya sebagai mahasiswa Pascasarjana di kampus yang sama dengan kampus dimana saya dulu mengambil program sarjana. Bertemu teman baru, kehidupan baru, dan tentunya saya harus membagi waktu antara mengajar, membantu dosen, dan belajar. Tidak mudah bagi saya membagi waktu, banyak sekali yang harus saya korbankan. Waktu luang dengan keluarga, misalnya. Tapi, waktu bersama keluarga menjadi sangat lebih berharga dari sebelumnya karena hal ini. Family is everything for me. 3 bulan itu saya jalani dengan hectic. 3 bulan itu juga saya mencoba mengadu nasib untuk memanfaatkan ijazah yang saya punya menjadi seorang calon abdi negara.
Desember 2013
Pengumuman sebagai calon abdi negara sudah keluar, Alhamdulillah saya lolos sebagai calon abdi negara. Dengan resiko yang tidak kecil, saya harus bersedia ditempatkan di luar pulau jika saya lulus sebagai cadangan. Keluarga mendukung, sahabat, guru dan teman mendukung saya untuk mengambil keputusan itu, hingga akhirnya saya menandatangani sebuah surat penyataan bermaterai bahwa jika saya lulus sebagai peserta cadangan, saya bersedia ditempatkan di luar daerah Jakarta. Saya dan keluarga begitu menaruh harapan besar terhadap keputusan itu, istilahnya "tinggal nunggu penempatan, keterima sih udah. Wong udah ttd materai." Mungkin karena saya dan keluarga warga yang awam akan hukum, tanggal 24 Desember lalu saya membuka pengumuman akhir, saya lulus seleksi calon abdi negara sebagai cadangan, saya harus siap ditempatkan di luar daerah, meninggalkan studi, keluarga, sahabat dan teman.
Tuhan berkata lain, surat bermaterai yang saya pikir memiliki kekuatan hukum yang cukup, ternyata tidak berarti apa-apa. Mereka bilang keputusan surat itu dianulir dengan berbagai alasan yang sampai saat ini saya kurang paham betul. Saling melempar bola panas, lempar kesalahan, yang pada ujungnya saya merasa bahwa hak saya sebagai warga negara sudah diinjak-injak. Geram, kecewa, sedih, itu sudah pasti. Hak saya yang sudah dinyatakan 100% lulus seleksi calon abdi negara ternyata tidak cukup bisa mengantarkan saya ke gerbang yang mungkin orang tua saya akan sangat bangga.
Tanpa berpikir panjang, saya mengambil keputusan untuk tidak memproses hal ini ke jalur hukum. Biar saja mereka yang menyia-nyiakan hak saya dan 25 orang yang senasib dengan saya yang menanggungnya. Jika Tuhan tidak mengijinkan saya untuk jauh dari orang tua, maka inilah kejadiannya. Mungkin Tuhan menghendaki saya untuk selalu berada di dekat orang tua, menyelesaikan studi, dan mempersiapkan jalan yang lebih baik dari kemarin.
Semoga tahun 2013 ini barokah, dan 2014 akan lebih barokah. Aamiin
Ira Arini
Ditulis pada tanggal 31 Desember 2013, pukul 15.15 WIB
Langganan:
Komentar (Atom)