Mungkin bagi yang tidak suka membahas mengenai penelitian dan karya ilmiah, tidak usah membaca notes ini. Sekedar ingin bercerita saja mengenai pengalaman saya dalam melakukan penelitian semasa akhir studi saya tahun lalu.
Penelitian saya termasuk jenis penelitian pengembangan. Tahapannya ngejelimet gemesin gimanaaaa gitu. Judulnya “Pengembangan Paket Pembelajaran IPS Berbasis Masalah di SMP Kecamatan Rangkasbitung, Lebak, Banten”. Produk yang saya kembangkan terdiri dari 4 produk. Buku siswa, buku gur, media pembelajaran (saya memakai software Articulate), dan teknik evaluasi berbasis masalah.
Oktober 2014, saya masuk ke sekolah dan mengadakan poling kepada siswanya, dengan pertanyaan: Mata pelajaran apa yang paling sulit? Mengapa? Nah, hasil jawaban mereka saya jadikan latar belakang penelitian serta judul penelitian saya. Dari situ sudah terlihat arah penelitian saya ke mana, dan saya memutuskan untuk mengambil penelitian pengembangan (tahap ini saya telah menyelesaikan BAB 1. Alhamdulillah).
Setelah itu saya menyusun teori yang mendukung penelitian saya dan mencari model mana yang sesuai dengan penelitian pengembangan saya. Sampai sini, belum ada aral melintang yang berarti. (Saya masih kalem dan lempeng, secara sudah bisa seminar proposal di bulan Februari 2015).
Masuk tahap desain, pengembangan produk, uji coba produk, ini yang bikin kepala saya mau pecah. Saya harus mencari siapapun yang bisa membantu saya dalam mendesain produk pengembangan saya. Untuk menyusun kurikulum dan desain pembelajaran, itu masih bisa saya handle sendiri. Tapi untuk desain visual, kemampuan saya sangatlah minim. Akhirnya, semua teman-teman saya kerahkan. Yang jago desain, saya minta dengan manjanya untuk dibuatkan cover buku dengan catatan sampai semua expert dan dosen pembimbing tak lupa dosen penguji acc (ini lebih dari 5 kali revisi). Terima kasih kepada Imam Rahmadi, Adila Helmi dan Mochammad Ilham Putera yang sudah saya repotkan dengan hebohnya tapi belum saya traktir apa-apa. Hehehee...
Masih dalam tahap desain. Beruntungnya saya sedikit menguasai Adobe Indesign untuk layout buku, jadi tidak perlu merepotkan (lagi) teman-teman saya. Jadi kalau ada revisi expert atau dosen pembimbing, saya bisa edit sendiri. Berbeda dengan media pembelajaran Articulate, saya buta sekali masalah software ini. Alhasil, saya memohon bantuan kembali kepada Adila Helmi untuk membantu menerjemahkan story board yang saya susun ke dalam desain Articulate. Itupun harus sesuai dengan revisi expert dan dosen pembimbing (ini juga lebih dari 3 kali). Terima kasih, Lala...
Untuk teknik evaluasi, saya kerjakan sendiri. Yaaa... sambil dikejar deadline diri sendiri bahwa April harus ujicoba ke sekolah, Bayangkan saja, Februari seminar, April harus selesai produksi, uji expert dan uji coba ke sekolah. Copot pala barbie...
Selesai semua produk sesuai target pertengahan April, saya masih harus bolak balik revisi dari segi konten, desain dan teknik kepada para expert dan dosen pembimbing. Sebagaimana diketahui, dosen pembimbing 2 saya jarang ke kampus, beliau markasnya di kantor PUSTEKKOM Kemdikbud yang di Parung. Iya, Parung yang deket Ciputat. Saya menghabiskan waktu 2-3 jam kalau start dari Rawamangun atau Rangkasbitung. Total lebih dari 5 kali revisi. *pingsan*
Disela mengurus semua itu, saya menyempatkan diri membuat surat penelitian di TU kampus. Prosesnya? Waaaah jangan ditanya. Lumayan bikin harga minyak dunia tidak stabil alias ngejelimet banget! Suratnya saya tujukan kepada dinas pendidikan kabupaten Lebak selaku yang berwenang mengijinkan saya untuk melakukan penelitian. Surat dari kampus sudah jadi, apakah saya diijinkan oleh dinas? Beruntung saya memiliki saudara yang bekerja di dinas pendidikan kabupaten Lebak dan dengan mudahnya saya mendapatkan izin melakukan penelitian. Saya diijinkan melakukan penelitian di 3 sekolah. SMP Negeri 1,2, dan 3 Rangkasbitung. Pihak sekolah sangat kooperatif, gurunya pun sama, siswanya pun lebih kooperatif. Hatiku senaaaang...
Saya melakukan uji coba di 3 sekolah selama 1 bulan. Bayangkan, dalam 1 minggu ada 2 kali pertemuan di setiap kelas, dikalikan jumlah kelas dalam satu sekolah, dikalikan 3 sekolah. Harus koordinasi dengan guru yang bersangkutan, membawa produk penelitian dan hadiah kecil untuk siswa agar lebih aktif dalam belajar (ini biar rame aja di dokumentasinya). Kalau diingat lagi, saya seperti tukang obat. Tiap ke sekolah saya bawa kardus yang isinya buku, bawa laptop, bawa sound, aneh pokoknya. Pokoknya kejadian ini indah dikenang tapi tidak mau saya ulang. hehehee...
Minggu pertama uji coba di sekolah, saya jatuh sakit. Padalah saya sudah terbiasa menyetir motor sendirian, membawa bawaan yang sangat banyak. Mungkin karena pikiran kali ya. Tapi saya tidak peduli, penelitian saya harus selesai tepat waktu. HARUS!!! Akhirnya, akhir April saya telah menyelesaikan penelitian saya, dengan hasil nilai dan perilaku siswa yang memuaskan di luar ekspektasi saya. Terima kasih kepada para kepala sekolah, Ibu Herda (SMP 1 Rangkas), Bapak Tedy (SMP 2 Rangkas) dan Pak Sugeng (SMP 3 Rangkas), jajaran TU sekolah yang sudah saya repotkan, dan tentunya adik-adikku para siswa yang dengan senang hati jadi responden uji coba produk penelitian saya.
Mei sampai Juli saya terus menerus berkonsultasi dengan dosen pembimbing dalam menyusun laporan hasil penelitian dan kesimpulan dari penelitian saya. Jangan ditanya jalannya mulus. Saya mengambil resiko sangat besar. Juni saya resmi bekerja di kampus swasta bonafit di Jakarta, dengan jam kerja yang padat setiap harinya. Beruntungnya atasan saya mengijinkan saya untuk bolak balik kampus-kantor demi menyelesaikan penelitian saya. Maaf ya Ibu Yanti Tjong dan mba Erma Lusia, dulu saya suka ijin-ijin terus. hehehehe...
Setelah penantian, galau dan darah bercucuran, pada tanggal 31 Juli 2015 saya dinyatakan lulus, penelitian saya diterima oleh para dosen penguji dan pembimbing. Alhamdulillah ya Allah. Rasanya, bolak balik Kebon Jeruk - Rawamangun tidak sia-sia. Beruntung sekali, sejak bulan Mei sampai sekarang ada ojek online yang selalu mengantar saya. Kalau saya naik TransJ, Kebon Jeruk - Rawamangun ditempuh selama 2 jam, kalau naik Ojek Online ini maksimal 45 menit saja. Stress saya sedikit hilang, hati senang kantong senang....
Jangan pikir setelah sidang semuanya selesai. Masih ada revisi dan pemberkasan wisuda yang menanti. Saya masih harus bolak balik Kebon Jeruk, Rawamangun, Parung dan Rangkasbitung untuk menyelesaikan ini semua. Masih harus ijin bekerja dengan segala ketidak enakannya. Secara saya karyawan baru :(
Semua penderitaan dan kenikamatan detik-detik akhir menjadi mahasiswa saya berakhir di tanggal 3 September 2015. Alhamdulillah akhirnya saya wisuda. Semua terbayar lunas, tuntas, damai dan sejahtera. Alhamdulillah...