Hingga waktu menunjukkan hampir pada puncak pergantian hari, saya masih saja terjaga. Ada emosi yang tak terluapkan, ada cerita yang sulit diungkapkan, ada alasan yang mungkin belum bisa dikomunikasikan.
Adalah seorang wanita berusia setengah abad. Berprofesi sebagai seorang guru senior yang masa jabatannya lebih lama daripada usia saya, kebetulan berstatus sebagai PNS. Beliau termasuk golongan lagards (dalam ilmu difusi inovasi, ini golongan terakhir dalam menerima inovasi). Jika belajar mengenai hal baru yang belum pernah beliau kuasai sebelumnya, agak sulit untuk menerimanya. Namun, usaha untuk terus belajar sangat kuat.
Ya, itu sedikit gambaran mengenai Ibu saya. Ibu yang masih semangat belajar komputer. Ibu yang selalu lupa rumus "Sum, average, vlookup, dan hyperlink" pada Microsoft Excel, Ibu yang tak kenal waktu jika bermain game Solaitare dan Onet, Ibu yang kadang saya beri nada tinggi karena sulit belajar Microsoft Power Point, Ibu yang setelah saya nadai dengan tinggi langsung berhenti belajar dan memilih main game, Ibu yang makin hari makin sensitif.
Saat saya masih diusia kanak-kanak, Ibu sangat keras mendidik saya. Mengajarkan huruf hijaiyah yang sangat sulit bagi saya, mengajarkan bagaimana saya harus berhenti pada tanda waqaf, mengajarkan berapa haraqat mad arid lisukun, mengajarkan bagaimana bunyi qalqalah. Saya takut sekali salah, karena jika salah, satu cubitan, satu pukulan dari satu lidi, bahkan satu gelas air teh hangat pernah diguyurkan kepada saya karena beliau sangat kesal dengan banyaknya salah yang saya lakukan. Ya, sepele memang. Tapi pada saat itu, belajar mengaji adalah hal yang menakutkan bagi saya. Harus bisa menerima badan saya biru karena dicubit atau dipukul dengan seutas lidi, bahkan harus mandi malam-malam karena diguyur air minum. Karena saya salah, saya harus dihukum. Itulah yang saya simpulkan kala itu.
Jika memang dalam belajar Microsoft Office saja saya dengan mudah memberikan nada suara yang agak tinggi kepada Ibu, apa karena hal di atas? Ah, saya tidak bermaksud seperti itu. Saya selalu berpedoman pada teori-teori yang saya dapatkan saat di bangku kuliah dulu. Harus sabar menghadapi golongan ini. Meski diulang sekian kali, Ibu tetap saja bertanya bagaimana rumus "SUM" pada Microsoft Excel, saya akan tetap menjawabnya.
Bagaimana dengan bacaan Alquran yang telah Ibu ajarkan dulu? Ah, Ibu masih saja menghitung haraqat yang saya baca ketika melewati Mad Thabi'i. Ibu masih saja mengevaluasi apa yang beliau ajarkan dulu. Masih saja mendengarkan dengan teliti setiap ayat yang saya baca dengan suara pelan. Jika memang tidak terdengar, beliau membuka pintu kamar dan duduk di samping saya, mendengarkan dengan seksama. Suasana seperti itu mungkin akan selalu saya lalui, saya nikmati. Priceless...
Ibu saya tidak memiliki kartu ATM. Alasannya logis. Beliau tinggal di kampung, akses ATM lumayan jauh. Selain itu, lebih banyak alasan negatif dibandingkan positifnya. Itulah sebabnya, selama 7 tahun saya selalu pulang setiap akhir pekan, karena Ibu tidak punya ATM. Hehehee... Tapi, mungkin ini dampak positifnya, saya tidak bisa jauh dari Ibu bahkan 2 minggu saja. Rasa rindu sangat menyesak di dada.
Kembali pada usia setengah abad dan lagards. Semakin bertambah usia manusia, semakin sulit menerima inovasi baru (tergantung pada motivasi yang dimiliki), semakin sensitif perasaan yang dimiliki.Semoga komunikasi antara kami selalu terjaga dengan baik. Pesan yang saya sampaikan dapat diterima dengan utuh tanpa noice. Mungkin tidak segampang itu. Pernah sekali Ibu menelpon sekadar menanyakan sudah makan atau belum. Saya jawab dengan seadanya, kemudian pada akhirnya Ibu menanyakan kabar dari seseorang yang membuat saya rasanya ingin menutup telepon. Akhirnya, Ibu ngambek, tidak mau telepon lagi. Begitu sensitifkah Ibu? Atau nada bicara saya yang terlalu tinggi? Atau komunikasi dan persepsi saya dan Ibu yang tidak sinkron? Entahlah...
Ditulis pada 28 November 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar