Pagi ini, rutinitas saya agak berbeda. Saya bukan wanita yang rutin melaksanakan aktifitas dimulai pukul 6 pagi. Biasanya, setelah melaksanakan kewajiban kepada Sang Khalik, saya melanjutkan mimpi indah atau sekadar menonton acara televisi, entah itu siraman rohani ataupun gosip selebriti yang tidak ada pengaruhnya bagi harga minyak dunia. Ya, saya memang malas, saya akui itu. Habisnya, kegiatan apa lagi yang saya lakukan kecuali hal tersebut?
Pagi ini, saya sudah mengantri di lorong perawatan gigi dan THT. Sakit? Tentu tidak. Saya sengaja meluangkan waktu setiap akhir tahun agar bisa mengetahui sejauh mana kesehatan saya terganggu karena negara api menyerang. Loh? Ah tidak, maksud saya, sejauh mana kesehatan saya terganggu karena pola hidup saya yang tidak karuan.
Resolusi saya setiap tahunnya adalah hidup sehat. Dan setiap akhir tahunpun, harus menerima kenyataan bahwa timbangan saya seperti kurva di buku panduan perkembangan balita yang setiap bulannya melengkung ke atas. Iya, tambah terus. Hikz...
Bukan tidak mau berusaha menurunkan si kurva yang terus naik itu, sudah banyak cara yang saya lakukan. Dimulai dari menjadi member klub olahraga (bertahan cuma 4 bulan), makan hanya dalam kurun waktu 6 jam perhari, puasa gula dan garam dalam seminggu tanpa asupan nasi sama sekali (ini yang paling parah). Lah, saya orang Indonesia tulen, blasteran Sunda dan Jawa, dari kecil dididik makan nasi, bahkan kalau makan mie instan atau kentang yang jelas-jelas karbo semua, saya tetap makan nasi. Alhasil, badan saya meriang, siklus menstruasi saya berantakan, dan hati saya tetap merindukan dirinya yang tak kunjung menunjukkan tanda akan menemui saya. *halah...
Mengenai berat badan. Saya termasuk wanita menyedihkan. Bagaimana tidak, cuma minum air bening saja bisa naik 3kg dalam satu minggu. Sementara saya melihat teman yang makan segala jenis makanan (kecuali makan teman dan omongan sendiri) badannya tetap kurus. Apakah dunia ini adil? Negara di mana saat saya merasakan ketidak adilan ini?
Faktor terbesar adalah genetik. Yak! Saya yakin sekali faktor genetik. Keluarga besar saya itu memang besar-besar... Badannya... Kami semua mengenakan size yang paling kecilpun XL. Pernah pake size S, itu usia 6 tahun (ini membahagiakan sekaligus menyedihkan). Tapi, karena size kami yang abnormal itu, banyak dampak positifnya. Kami jadi memanjangkan rejeki para penjahit dan memanjangkan rejeki para penjual baju bigsize.
Bagaimana bisa resolusi turun kurva selalu gagal setiap tahunnya? Tetap harus optimis, seoptimis para anggota MLM yang foto udah dapet mobil dan ternyata mobilnya itu custom difoto sama anggota lainnya juga (ini saya ngakak baca artikelnya). Yang penting sehat, yang penting bisa kerja dan ibadah, yang penting disayang Ayah-Ibu sama Allah.
Saya bukan orang yang pantang menyerah. Termasuk menyerahkan urusan kenaikan kurva itu sama makanan yang tidak sehat. Tapi saya orang yang tidak mampu berkata tidak. Ketika wangi ayam goreng di outlet yang sering saya lewati sepulang bekerja menggoda indera penciuman saya, saya tidak mampu menolaknya. Di situ kadang saya merasa sedih karena kurva saya akan naik lagi, tapi merasa senang karena makanan kesukaan bisa memenuhi tiap sudut mulut saya, memendam air liur saya, dan masuk tenggorokan saya. Ya Tuhan!!! Dosakah hamba??? Yaa seperti itulah, manusia hanya bisa berencana, tapi aroma ayam gorenglah yang menentukan.
Resolusi tahun depan? Tentu masih banyak. Salah satunya, ya pasti sudah ketebak lah ya. Saya ingin.... Ah, iya! Saya ingin kurva saya turun. Hidup lebih sejat. Olahraga tidak cuma olahraga jari seperti menuliskan note ini dari jam 6 pagi atau hanya niat di hati saja. Namun, harus ada realisasinya. Karir yang lebih cemerlang secemerlang piring yang sudang dicuci dengan Su**ight walau hanya diiklan. Lebih banyak piknik agar tidak galau. Tambah harmonis sama orang tua, saudara, guru, sahabat, teman, dan sesama makhluk hidup baik manusia, hewan maupun tumbuhan. Dan yang paling utama, menjadi hamba Tuhan yang terus memperbaiki diri, mengurangi intensitas dosa rutin maupun non rutin, menambah pahala rutin maupun non rutin.
Cukup sekian dan terima kasih. Salam dari depan poli gigi dengan antrean 14 dan antrean 1 dimulai pukul 8 atau 9 pagi.
Tak lupa saya ucapkan selamat hari Ibu, untuk saya sebagai calon ibu dari anak-anak kita kelak (kita?), untuk Ibu Ecen Masenti yang sudah sabar dan dipaksa Tuhan untuk jadi Ibu saya, dan seluruh wanita di dunia ini. Ini kapan udahannya? Kan tadi udah pamit.
Oke, Saya, Ira Arini, pamit.
Ditulis pada 22 Desember 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar