Pagi ini, saya melihat beberapa video mellow mengenai Ayah. Jadi ingin menuliskan sesuatu tentang Ayah...
Mungkin dalam beberapa (bahkan hampir semua) tulisan saya mengenai keluarga. Ya, karena bagi saya, keluarga adalah segalanya.
Ayah...
Ayah saya berasal dari kabupaten di daerah Jawa Timur bernama Jombang. Beliau merantau ke tanah Sunda dan bertemu dengan Ibu saya. Menikah pada tahun 1989. Setelah 2 tahun menikah, akhirnya saya hadir di tengah-tengah mereka. Happy ending? Tentu belum. Tuhan tidak akan menguji hambaNya di luar batas kemampuan hambaNya. Keluarga kami harus naik kelas. Pada usia saya yang ke-2, Ayah harus menghadap Tuhan lebih dahulu.
Bagaimana dengan saya dan Ibu? Ibu selalu cerita, pada saat itu, tanah pun terasa lunak untuk dipijak. Mendapati imam dalam keluarga kecil kami harus berpulang kepadaNya. Ini yang terbaik. Setelah 2 tahun lamanya segala kesakitan diderita Ayah, kamipun harus mengikhlaskan beliau pergi...
Bagaimana dengan saya dan Ibu? Ya, kami harus tetap melanjutkan ujian-ujian lain yang sedang menunggu di depan kelak. Saya tumbuh sebagai anak yatim. Dibesarkan hanya oleh Ibu yang kuat dan tangguh. Entah mengapa, ingatan saya tentang Ayah sama sekali tidak ada. Saya hanya mampu mengingat suasana saat saya berusia 4 tahun. Saat saya jatuh dari sepeda, saat saya ngompol dan terus pura-pura tidur karena takut dimarahi Ibu.
Tumbuh sebagai anak yang Ayahnya telah pergi...
Saya yakin, pertumbuhan psikologis pada masa anak usia dini saya kurang baik karena saya tumbuh tanpa Ayah. Sebaik apapun Ibu mendidik saya. Setidaknya teori itu yang saya dapatkan ketika saya duduk di bangku kuliah. Namun, jangan menanyakan ketika masa middle and late childhood ataupun adolescence.
Saya berbeda dengan teman-teman semasa kecil. Mereka punya Ayah. Ketika mereka meminta uang jajan kepada Ibunya dan dirasa kurang, maka meminta kepada Ayah adalah solusinya. Itupun kalau dikasih. Saya? Saya hanya meminta uang jajan dari Ibu saja. Kurang atau lebihnya, itu harus cukup dan tidak boleh meminta kembali.
Saat ulang tahun saya tiba, Ibu mengajak saya makan Bakso Ismo dan Teh Botol yang begitu saya gemari di daerah kota kecil saya. Sementara teman-teman lainnya merayakan ulang tahun dengan meriah, meniup lilin, mengundang semua teman, saudara, dan tentunya ditemani Ayah dan Ibunya.
Ketika Idul Fitri tiba, saya mendapat banyak sekali uang dan pakaian. Biasanya, Ibu hanya membelikan saya 2 atau 3 baju baru karena saya adalah putri satu-satunya. Sisanya, saya mendapat 4 pasang baju baru dan ratusan tibu uang dari para saura atau temannya Ibu. Mereka bersedekah, memberi sesuatu untuk anak yatim. Setelah Idul Fitri, saya merasa jadi orang kaya, boleh jajan apa saja yang saya mau, selama 2 minggu memakai baju baru. Sementara teman-teman lainnya, paling sampai hari ke-3 memakai baju barunya. Hal itu terus berlangsung sampai saya masuk di bangku kuliah.
Ketika ada orang asing yang mengajak Ibu saya berbicara, saya sangat protektif. Saya melotot dengan sangar, bahkan saya ludahi. Ya, kali itu saya berpikir harus melingungi Ibu saya. Jika tidak saya lindungi, orang itu akan datang kembali dan mengambil Ibu saya. The only one I have in this world.
Ketika saya tidur, saya hanya ditemani oleh Ibu. Sesekali pengasuh saya yang bernama Teh Juleha menemani. Namun, semenjak beliau menikah. Sementara teman-teman yang lain tidur dengan Ayah dan Ibunya.
Ketika saya belajar membaca dan berhitung, saya selalu ditemani Ibu. Menulis di atas awan, melipat tangan dan kaki, memejamkan mata, membaca segala tulisan sepanjang mata melihat. Sementara teman-teman saya, belajar membaca dan berhitung dibimbing oleh kedua orang tuanya, mayoritas oleh Ayahnya, sedikit dari mereka diajarkan oleh Ibunya, bahkan ada yang hanya diajarkan oleh guru di sekolah saja. Yang terakhir paling miris.
Saya yakin, usia 2-10 tahun itu amat sangat memerlukan sosok orang tua yang lengkap di sampingnya. Orang tua adalah anggota terpenting dalam keluarga. Keluarga adalah sekolah pertama bagi anak. Bagaimana membentuk karakter dan kepribadian, sopan santun dan cara berbicara. Setidaknya itu yang saya rasakan dan diperkuat oleh teori para ahli psikologi. Bahkan, sampai usia senja pun, orang tua masih menjadi sosok terpenting dalam hidup seseorang.
8 tahun tumbuh besar tanpa didampingi seorang Ayah memang sangat berat rasanya. Setidaknya itu yang saya rasakan.Banyak orang yang mengasihani (padahal saya merasa tidak cukup untuk dikasihani).
Ayah, bagaimana rupamu? Bagaimana sikapmu? Bagaimana caramu mengajariku berjalan? Bagaimana caramu mengajariku mengeja dan berhitung? Bagaimana caramu memberi tahuku tentang hal baik dan buruk? Bagaimana caramu membelai lembut rambut serta menciumku ketika terlelap tidur? Bagaimana caramu mengajarkanku naik sepeda dan berlari?
Ah, tugasku hanyalah selalu mendoakanmu. Mendoakan agar kuburmu lapang, siksamu berkurang, dan semua amal ibadah, iman serta islam mu diterima di sisiNya. Aamiin...
Ditulis pada 12 Desember 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar