Teruntuk seseorang di masa depan saya...
Saya hanya seorang wanita yang mudah luluh pada pria yang rajin menjalani kewajiban kepada Tuhan. Itu saja. Jika memang kami melanjutkan perbicaraan-pembicaraan ringan dan ternyata sudah berlangsung 2 jam, maka akan membuat saya semakin luluh. Celakanya, jika pria itu bisa menenangkan saya ketika saya panik, maka saya akan jauh semakin luluh. Bencana dimulai jika pria itu selalu menjawab apa yang saya tanyakan dengan jawaban yang menurut saya tepat, kedalaman luluhnya hati saya semakin jauh.
Jatuh cinta memang semudah itu. Teringat 5 tahun lalu, begitu banyak kriteria yang saya sisipkan melalui doa kepada Tuhan. Sampai akhirnya sekarang, saya memprioritaskan doa di urutan terakhir setelah doa di urutan utama sudah saya capai semua. Alhamdulillah. Tidak banyak yang saya deskripsikan dalam doa urutan terakhir ini. Dari beberapa referensi yang saya baca, jika ingin meminta kepada Tuhan, harus dengan jelas dan detail. Awalnya, saya meminta dengan amat jelas, detail, dan terkesan sangat rumit.
Namun, saya masih percaya kepada Tuhan saya bahwa Dia pasti akan mengerti apa yang saya pinta.
Tuhan luar biasa menguji kesabaran saya mengenai doa prioritas terakhir saya pada batas usia maksimal 25 tahun ini. Perasaan saya yang mudah luluh ini dibuat seperti sedang menaiki roller coaster. Dinaikkan, lalu diturunkan, dibalik ke depan dan ke belakang. Entah apa yang sedang disiapkan olehNya, saya masih belum paham. Yang jelas, saya masih optimis bahwa Dia tahu yang terbaik, kapan waktunya, dengan siapa, dan bagaimana.
Beberapa membuat dada saya berdebar begitu hebat ketika hanya dengan mendengar suaranya saja, atau sekedar mendapat sapaan, Beberapa membuat ingin rasanya saya mengabdi sepenuhnya untuk surga Tuhan. Namun, saya lupa satu hal, perasaan luluh saya tidak akan cukup membuat saya bahagia. Saya lupa meminta kepada Tuhan agar perasaan yang saya miliki juga sama dengan perasaan pria itu.
Selasa, 04 Oktober 2016
Sabtu, 01 Oktober 2016
Kaya Raya
Beberapa bulan terakhir, saya disibukkan oleh pemikiran-pemikiran primitif bahwa tidak bekerja secara normal selayaknya orang kantoran lainnya akan jatuh miskin, tidak punya uang, tidak punya pergaulan, dijauhi banyak orang bahkan dicibir, dan lain hal yang sangat buruk untuk dipikirkan. Belakangan, saya keliru. Pilihan saya untuk tidak bekerja secara Office hour seperti kesibukkan saya satu tahun belakangan, memang sangatlah banyak pertimbangan. Bagaimana kedepannya, apakah nasib saya akan semujur teman-teman saya yang bekerja di kantoran, apakah saya akan memiliki uang untuk biaya hidup saya, apakah saya akan bahagia dengan pilihan yang saya ambil?
Terlalu banyak waktu luang yang saya miliki kala itu. Akhirnya saya memperluas imajinasi negatif ini sampai semenakutkan mungkin. Saya membuang jauh semangat positif yang selama ini coba saya tanamkan dalam kehidupan. Saya selalu berpikiran negatif kepada semua orang yang menatap saya, bahkan orang yang sedang saya pikirkan secara sepintaspun saya negatifkan. Sadar bahwa hal tersebut tidaklah akan membawa kebaikan dalam kehidupan dan masa depan saya, saya mencoba untuk membuang pemikiran itu jauh-jauh. Harus. Wajib.
Suatu hari di penghujung bulan Juli. Saya berkesempatan untuk berbincang dengan seorang dokter ahli kejiwaan yang mumpuni di bidangnya. Tentu, saya tidak akan melewatkan kesempatan ini sia-sia begitu saja. Namun, saya bingung, pertanyaan atau bahasan apa yang harus saya mulai untuk pembicaraan perdana kami. Kemudian, beliau melontarkan satu pertanyaan "Apa yang Anda lakukan 2 hari terakhir?".
"Saya diem aja, Dok di rumah karena sedang libur bekerja. Kalau gak libur ya kerja. Selama libur saya mengerjakan pekerjaan rumah biar gak bete &^I&()(*^1253712"
"Saya hanya bertanya, apa yang Anda lakukan 2 hari terakhir? Adakah hal yang Anda takutkan sampai jawabannya sangat panjang begini?"
"Iya, Dok. Saya di rumah saja. Karena sedang libur kerja dan merubah haluan gaya hidup, saya takut tidak bisa menikmati hidup."
"Memang, gaya hidup di Ibu kota dengan kota kelahiranmu ini berbeda sekali. Anda takut miskin, kan? Penghasilan Anda tidak sebanyak di Ibu kota, kan?"
Kemudian, saya menelan ludah, berusha menjelaskan sejelas-jelasnya keruitan kata yang akan saya ungkapkan dari pikiran saya. "Saya takut tidak punya uang, karena saya sudah tidak bekerja kantoran dan mendapatkan penghasilan tetap setiap bulannya." Ketika kalimat tersebut saya lontarkan kepada dokter kejiwaan saat saya berkonsultasi, beliau hanya tertawa.
Kemudian, beliau berkata "Nabi kita berpesan kepada umatnya bahwa orang yang paling miskin di dunia adalah orang yang takut miskin."
Saya termenung sejenak, ingin sekali menimpali kalimat dokter dengan ribuan kata. Saya sehat, saya punya orang tua yang luar biasa baik, dididik dengan penuh kasih sayang dan makna, punya saudara yang begitu peduli, punya guru-guru yang amat hebat, punya teman dan sahabat yang luar biasa menyenangkan. Maka, apa lagi yang saya takutkan? Apakah saya benar-benar miskin? Tentu tidak. Saya kaya raya, sangat kaya raya. Miskin hanya sebuah kata yang mengandung banyak arti. Jika kata itu berdiri sendiri, maka masih harus dilakukan beberapa penalaran. Jika dimaknai dengan harta duniawi, mungkin saya termasuk golongan orang miskin. Usia 25 tahun, tidak mempunyai tabungan yang melimpah, tidak memiliki aset rumah maupun kendaraan, tidak memiliki simpanan perhiasan yang seberapa, seperti idealnya seumuran saya.
Kemudian, saya menelisik atas segala yang telah saya capai sampai pada usia 25 tahun ini. Tidakkah saya bersyukur atas segala apa yang saya nikmati sekarang? Tidakkah harta dunia hanya titipan Tuhan. Ya, benar Sesungguhnya saya sangat kaya raya atas diri saya sendiri.
Senin, 22 Agustus 2016
Baik vs Jahat
Sebagian orang percaya, manusia dikategorikan menjadi 2
golongan. Golongan yang bersifat baik, dan golongan yang bersifat jahat.
Begitupun saya. Sampai usia saya menginjak 25 tahun, masih mempercayai hal
semacam itu. Saya terus bertekad untuk menjadi orang yang bersifat baik, dalam
segala aspek dan bidang. Tentunya, baik terhadap Pencipta saya, dan makhluk-makhluk
di sekeliling saya. Berusaha untuk tidak menjadi orang jahat, karena dapat
merugikan, dinilai jelek oleh Sang Pencipta, dan tentunya dari semua makhluk
hidup, terutama manusia di lingkungan saya.
Hingga akhirnya suatu peristiwa menyadarkan saya bahwa hal
tersebut sedikit keliru. Selama ini, hampir semua manusia menilai dirinya
sendiri berusaha untuk melakukan yang terbaik dalam segala hal, baik dimulai
dari perencanaan, proses, hingga penilaian dari Sang Pencipta dan makhluk
lainnya.
Lalu, bagaimana dengan para penilai itu? Apakah yang selama ini
manusia lakukan dengan niat dan proses yang baik, akan selamanya dianggap baik
oleh para penilai? Jawabannya adalah belum tentu.
Seperti kata adil. Makna kata adil masih rumit. Adil bukan
berarti sama rata, namun sesuai dengan porsi dan kebutuhan masing-masing. Sama
halnya dengan penilaian baik dan jahat. Segala yang kita lakukan dengan niatan
dan tujuan yang baik, belum tentu akan dinilai baik oleh manusia. Ada makna
di balik itu semua. Tentunya, hanya Sang Penciptalah penilai yang
seadil-adilnya.
Tidak ada manusia yang bercita-cita menjadi orang jahat.
Orang jahat sekalipun, memiliki sisi baik di dalam alam bawah sadar mereka.
Mereka dinilai jahat oleh manusia lainnya karena memiliki interval yang jauh
berbeda dengan indikator orang baik. Bagaimana jika semua manusia di dunia ini
berbuat baik? Tentu tidak akan pernah ada pembeda antara baik dan jahat.
Dari situ saya mempunyai sudut pandang lain mengenai sifat
baik dan sifat jahat. Semua manusia di dunia ini pada dasarnya bersifat baik.
Yang membedakan adalah tingkatan kebaikan mereka. Bagi yang tingkatan
kebaikannya tinggi, maka dia bersifat baik. Namun, bagi manusia yang tingkatan
kebaikannya rendah, maka dia bersifat jahat. Mungkin, ini adalah penilaian dari
sesama manusia. Manusia yang berbuat jahat terhadap manusia, pasti akan dinilai
bersifat jahat oleh manusia lainnya.
Lalu, bagaimana dengan Tuhan? Tentunya, Tuhan memiliki cara
penilaian yang berbeda dari ciptaanNya (manusia). Tuhan adalah penilai yang
seadil-adilnya. Tuhan tahu apa yang terbaik untuk ciptaanNya. Tuhan maha adil.
Dia menilai segala aspek yang tidak dapat dinilai oleh kasat mata manusia, dan
berhak menempatkan pada surga dan nerakaNya.
Jika dinilai tidak adil dan bersifat jahat, maka itu semua
adalah penilaian dari sesama manusia. Percaya penuh kepada Tuhan, bahwa
penilaian Tuhan mengenai tingkatan kebaikan itu masih amat sangat rendah, bukan
masuk pada kategori jahat. Hanya saja, kunci kenaikan tingkatan kebaikan itu
ada pada diri sendiri. Meminta maaf dan berusaha untuk tidak melakukannya lagi,
bahkan akan menjadi lebih baik lagi pada masa yang akan datang merupakan usaha untuk mendapatkan kenaikan tingkatan kebaikan
dari Tuhan.
Rangkasbitung, 22 Agustus 2016
Setelah hujan
Senin, 01 Agustus 2016
Heksa
Penghujung bulan Juni ini, rasanya sayang sekali dilewatkan begitu saja tanpa ada tulisan yang sesekali mungkin akan menjadi bukti ketika saya menua nanti. Tahun 2016 sudah hampir terlewati setengah jalan.
Banyak sekali hal pahit yang harus saya lewati. Menelan bulatan besar yang amat pahit dengan mulut saya sendiri, tidak bisa dibagikan kepada orang lain, adalah gambaran untuk peristiwa Januari sampai Mei lalu.
Mungkin saya begitu naif, menantang Tuhan untuk memberikan sedikit rasa geli pada perasaan dan pertahanan diri saya. Ya, saya terlalu bahagia, terlalu terlena dengan apa yang saya dapatkan. Sehingga, rasa syukur saja tidaklah cukup sebagai hal utama yang saya panjatkan kepada Tuhan. Saya menantang Tuhan untuk memberikan saya kehidupan yang lebih mendebarkan jantung, mengoyak perasaan, melelahkan pikiran.
Tuhan mengabulkan doa saya. Memberikan apa yang saya pinta. Mengambil segala kesabaran dan pertahanan diri saya, sampai akhirnya saya mengeluh, mengadu, bahkan siap untuk menyerah di atas hamparan sajadah.
Begitu sakit perasaan ini. Begitu banyak yang tersakiti, dan dengan begitu, Tuhan membuktikan kehadiranNya. Kata maaf saja mungkin tidak cukup. Hanya waktu yang akan menyembuhkan luka yang cukup sulit disembuhkan ini. Mungkin satu atau dua tahun. Ah, masih kurang rasanya.
Badai ini mungkin telah berlalu, perkiraan saya. Kiranya Tuhan masih mengijinkan saya untuk terus meminta segala hal yang saya butuhkan atau yang saya inginkan, bahkan yang tidakpun akan saya pintakan kepadaNya. Kemudian Dia memberikan apa saja yang terbaik untuk saya, mengangkat derajat saya sebagai hambaNya yang tidak seberapa taat ini dengan beberapa ujian. Tugas saya hanyalah bersyukur dan terus meminta. Itu saja.
Kediri, 29 Juni 2016
Bersyukur, Bertahan dan Berprasangka Baik
Pernahkah kamu merasa terlalu bahagia sampai tidak tahu lagi harus
bagaimana berterima kasih kepada Tuhanmu?
Segala target hidup terpenuhi, dikelilingi orang terkasih, semua doa
terkabul oleh Tuhan, dikasihi oleh semua orang, selalu semangat
beribadah, finansial tercukupi. Adakah celah untuk mengeluh? Sempatkah
untuk sedih? Tentu tidak. Semuanya terlalu indah.
Sampai beberapa waktu, kamu bertanya kepada Tuhan, apakah semua ini akan
kekal? Tidakkah Tuhan memberikan ini semua untukku hanya untuk
mengujiku? Toh ujian Tuhan bukan hanya sekadar hal-hal berat yang sedang
dijalani oleh seorang hamba, namun kebahagiaan yang bertubi-tubi juga
bisa dianggap ujian.
Seberapa kuat hamba selalu bersyukur, seberapa kuat hamba mempertahankan
yang sudah dicapai, seberapa jernih hati hamba untuk selalu
berprasangka baik bahwa Tuhan tidak sedang menguji dengan kebahagiaan,
namun sedang memberikan kenikmatan dan kebahagiaan bertubi-tubi karena
hamba selalu bersyukur, selalu meminta.
Percayalah, ketika kamu sedang mengalami kebahagiaan yang bertubi-tubi,
jangan pernah berpikir bahwa Tuhan sedang mengujimu, atau sedang
mempersiapkan ujian berat kedepannya. Tuhan hanya sedang mengasihi
hambaNya, akan terus seperti itu jika kamu terus bersyukur,
mempertahankan, berprangska baik pada Tuhan.
Jakarta, 21 Februari 2016
Jakarta, 21 Februari 2016
Kami sama-sama Suka Dangdut
Kurang lebih hampir 8 tahun yang lalu kami dipertemukan dalam sebuah persiapan acara perkenalan mahasiswa baru di kampus tercinta. Seorang gadis, kurus, memakai dalaman jilbab topi, kaos bergambar kerropi, lengkap dengan rok dan kacamatanya. Ah, saya pikir gadis ini membosankan, yaa jika dilihat dari raut muakanya sih begitu. Dia berasal dari SMAN 1 Bogor, logatnya sunda sekali, Saya merasa sudah punya saudara di Jakarta, hanya karena bertemu dengan orang sunda. Ini agak berlebihan mungkin. Tapi, percayalah, Jakarta adalah kota multi etnis, bertemu dengan orang yang berlogat daerah yang sama, serasa saudara sendiri.
Kami berkenalan, bertukar kontak untuk memudahkan komunikasi dan bertukar informasi mengenai apa saja yang harus dipersiapkan pada acara ospek nanti. Pada saat itu, gaya bahasa dan tulisan dalam SMS atau di Facebook bahkan Frienster masih sangat 4LaY sekali. Huruf dan angka menjadi satu, tata letak huruf besar dan kecil tidak karuan, tapi kami tidak takut disalahkan oleh guru Bahasa Indonesia, karena kami berpikir kami ini gaul sekali. Iya, gaul pada masanya. hehehehe
Entah mengapa, gadis yang saya ceritakan barusan banyak sekali memberikan informasi mengenai ospek. Saya merasa diakui sebagai “teman” yang pada saat itu saya sebatang kara di jurusan yang saya ambil. Tidak ada teman dari almamater yang sama, daerah yang sama, atau bahkan kenalan yang sama untuk satu jurusan saya. Ditambah dengan logat, penampilan dan tampang saya yang “kampung banget” itu, rasanya punya teman itu hanya angan-angan. Terima kasih, karena sudah menganggap saya teman sejak pertama kita bertemu dan memulai petualangan menjadi mahasiswa sejak 8 tahun silam.
Kami banyak sekali kesamaan. Dimulai dari bulan lahir. Sama-sama lahir di bulan kedua dalam tahun masehi, namun kami harus terpisahkan oleh yang namanya zodiak. Ini tidak adil, hanya karena berbeda tanggal, zodiak kami harus berbeda. Kesamaan lainnya, orang tua kami berasal dari daerah Jawa Timur nan jauh di sana. Walaupun orang tua asli Jawa Timur, kami berkomunikasi dengan logat sunda. Selain itu, kami juga menyukai jenis musik yang sama, dangdut. Alasannya menyukai dangdut adalah karena orang tuanya selalu menyetel musik itu sejak dia kecil, terutama Rhoma Irama. Pernah sekali saya tidak berhenti tertawa karena melihat poster sang raja dangdut terpampang nyata di lemari kamarnya. Sungguh penggemar yang setia. Alasan saya suka dangdut karena tetangga sebelah rumah saya membangun usaha organ tunggal, setiap malam berlatih untuk pentas, alhasil saya hapal semua lagu dangdut pada masa itu.
Ketika saya selesai studi duluan, sedih rasanya mendapatkan bunga darinya. Dengan terus mendoakan agar gadis ini, ah tidak, sekarang dia sudah menjadi wanita. Mendoakan agar segera lulus, dan melanjutkan studi kembali. Ternyata Tuhan teramat baik terhadap wanita ini. Setelah selesai menyelesaikan studinya, beasiswa penuhpun diraihnya. Melihatnya mengabdi di beberapa lokasi bencana, saya menangis bahagia. Melihatnya berada di negeri tirai bambu untuk studi dengan beasiswa penuh, saya menangis bahagia. Melihatnya sudah bergelar M.Si (Han), saya lebih bahagia.
Selamat ulang tahun, Gioveny Astaning Permana, S.Pd, M.Si (Han). Saya tunggu kebahagiaan melimpah dari Tuhan yang lainnya. Aamiin...
Belum Terlambat
Saya berjenis kelamin perempuan, anak pertama, dan usia saya
sudah memasuki seperempat abad. Target hidup saya semuanya hampir tercapai. Kecuali
1, menikah. Perkara mencari pekerjaan, mengejar pendidikan, merangkaki karir,
menjaga pola hidup sehat, mungkin itu bisa saya atur. Tapi mari berkata belum
untuk hal menikah.
Saya pemilih? Tentu saja. Begitu banyak contoh di lingkungan
terdekat saya yang mau tidak mau memberikan pelajaran yang berharga bagaimana
seharusnya kehidupan setelah menikah itu. Setidaknya saya punya gambaran dan
kriteria untuk pasangan hidup saya kelak. Bagaimana bisa kamu menghabiskan
seluruh sisa hidupmu bersama pasangan yang tidak bisa memahami apa yang kamu
katakan? Bagaimana bisa kamu tidur satu ranjang dengan pasangan yang belum
tentu memiliki visi dan misi yang sama denganmu? Bagaimana bisa kamu menikmati
hamil dan membesarkan anak bersama pasangan yang menganggapmu sebagai seorang
ibu dari anaknya saja, bukan pasangan hidupnya? Ah, terlalu banyak pertanyaan
yang meledak-ledak di kepala saya.
Saya terlalu ngoyo mengejar karir? Tentu tidak. Disela-sela
kesibukkan, saya menyempatkan diri untuk menjawab rentetan pertanyaan “apa
kabar?” dari teman lama ataupun sanak saudara yang diakhiri dengan “kapan?” dan
ujungnya mungkin saya curhat. Disela kesibukan saya masih meluangkan waktu
untuk bertemu dengan teman baru dan membuka hati saya.
Apa lagi yang ingin saya kejar? Tentu kebahagiaan yang hakiki. Sebagai manusia yang terahir dengan agama islam, dibesarkan di lingkungan keluarga beragama islam, tentu saya mengidamkan memiliki keluarga bernuansa islam kelak. Meski akhlak dan dandanan saya sama sekali tidak mencerminkan islam yang sebenarnya. Tapi, hey.. ini Indonesia, bukan negara Arab *oke sampai di sini saja membahas ini.
Terkadang, alam bawah sadar saya ingin sekali bangun di setiap
sepertiga malam, memohon dan bersimpuh kepada Allah, introspeksi, apa salah
saya? Apa kurang saya? Apakah niat ini sudah baik? Atau memang hanya ingin
mengikuti tren teman-teman seusia saya yang mayoritas sudah menikah? Tapi saya terlalu pesimis untuk itu. Mungkin Tuhan belum memberi jawaban ini karena kepesimisan saya. Jika memang niat baik saya ini masih mengandung beberapa
unsur pertanyaan di atas, mungkin Allah sedang menunggu saya untuk
memperbaikinya. Niat baik untuk membangun keluarga, melengkapkan ibadah yang
masih bolong-bolong, meneruskan keturunan agama. Aamiin
Minggu, 03 Januari 2016
Tahap Paling Berat 2015
Mungkin bagi yang tidak suka membahas mengenai penelitian dan karya ilmiah, tidak usah membaca notes ini. Sekedar ingin bercerita saja mengenai pengalaman saya dalam melakukan penelitian semasa akhir studi saya tahun lalu.
Penelitian saya termasuk jenis penelitian pengembangan. Tahapannya ngejelimet gemesin gimanaaaa gitu. Judulnya “Pengembangan Paket Pembelajaran IPS Berbasis Masalah di SMP Kecamatan Rangkasbitung, Lebak, Banten”. Produk yang saya kembangkan terdiri dari 4 produk. Buku siswa, buku gur, media pembelajaran (saya memakai software Articulate), dan teknik evaluasi berbasis masalah.
Oktober 2014, saya masuk ke sekolah dan mengadakan poling kepada siswanya, dengan pertanyaan: Mata pelajaran apa yang paling sulit? Mengapa? Nah, hasil jawaban mereka saya jadikan latar belakang penelitian serta judul penelitian saya. Dari situ sudah terlihat arah penelitian saya ke mana, dan saya memutuskan untuk mengambil penelitian pengembangan (tahap ini saya telah menyelesaikan BAB 1. Alhamdulillah).
Setelah itu saya menyusun teori yang mendukung penelitian saya dan mencari model mana yang sesuai dengan penelitian pengembangan saya. Sampai sini, belum ada aral melintang yang berarti. (Saya masih kalem dan lempeng, secara sudah bisa seminar proposal di bulan Februari 2015).
Masuk tahap desain, pengembangan produk, uji coba produk, ini yang bikin kepala saya mau pecah. Saya harus mencari siapapun yang bisa membantu saya dalam mendesain produk pengembangan saya. Untuk menyusun kurikulum dan desain pembelajaran, itu masih bisa saya handle sendiri. Tapi untuk desain visual, kemampuan saya sangatlah minim. Akhirnya, semua teman-teman saya kerahkan. Yang jago desain, saya minta dengan manjanya untuk dibuatkan cover buku dengan catatan sampai semua expert dan dosen pembimbing tak lupa dosen penguji acc (ini lebih dari 5 kali revisi). Terima kasih kepada Imam Rahmadi, Adila Helmi dan Mochammad Ilham Putera yang sudah saya repotkan dengan hebohnya tapi belum saya traktir apa-apa. Hehehee...
Masih dalam tahap desain. Beruntungnya saya sedikit menguasai Adobe Indesign untuk layout buku, jadi tidak perlu merepotkan (lagi) teman-teman saya. Jadi kalau ada revisi expert atau dosen pembimbing, saya bisa edit sendiri. Berbeda dengan media pembelajaran Articulate, saya buta sekali masalah software ini. Alhasil, saya memohon bantuan kembali kepada Adila Helmi untuk membantu menerjemahkan story board yang saya susun ke dalam desain Articulate. Itupun harus sesuai dengan revisi expert dan dosen pembimbing (ini juga lebih dari 3 kali). Terima kasih, Lala...
Untuk teknik evaluasi, saya kerjakan sendiri. Yaaa... sambil dikejar deadline diri sendiri bahwa April harus ujicoba ke sekolah, Bayangkan saja, Februari seminar, April harus selesai produksi, uji expert dan uji coba ke sekolah. Copot pala barbie...
Selesai semua produk sesuai target pertengahan April, saya masih harus bolak balik revisi dari segi konten, desain dan teknik kepada para expert dan dosen pembimbing. Sebagaimana diketahui, dosen pembimbing 2 saya jarang ke kampus, beliau markasnya di kantor PUSTEKKOM Kemdikbud yang di Parung. Iya, Parung yang deket Ciputat. Saya menghabiskan waktu 2-3 jam kalau start dari Rawamangun atau Rangkasbitung. Total lebih dari 5 kali revisi. *pingsan*
Disela mengurus semua itu, saya menyempatkan diri membuat surat penelitian di TU kampus. Prosesnya? Waaaah jangan ditanya. Lumayan bikin harga minyak dunia tidak stabil alias ngejelimet banget! Suratnya saya tujukan kepada dinas pendidikan kabupaten Lebak selaku yang berwenang mengijinkan saya untuk melakukan penelitian. Surat dari kampus sudah jadi, apakah saya diijinkan oleh dinas? Beruntung saya memiliki saudara yang bekerja di dinas pendidikan kabupaten Lebak dan dengan mudahnya saya mendapatkan izin melakukan penelitian. Saya diijinkan melakukan penelitian di 3 sekolah. SMP Negeri 1,2, dan 3 Rangkasbitung. Pihak sekolah sangat kooperatif, gurunya pun sama, siswanya pun lebih kooperatif. Hatiku senaaaang...
Saya melakukan uji coba di 3 sekolah selama 1 bulan. Bayangkan, dalam 1 minggu ada 2 kali pertemuan di setiap kelas, dikalikan jumlah kelas dalam satu sekolah, dikalikan 3 sekolah. Harus koordinasi dengan guru yang bersangkutan, membawa produk penelitian dan hadiah kecil untuk siswa agar lebih aktif dalam belajar (ini biar rame aja di dokumentasinya). Kalau diingat lagi, saya seperti tukang obat. Tiap ke sekolah saya bawa kardus yang isinya buku, bawa laptop, bawa sound, aneh pokoknya. Pokoknya kejadian ini indah dikenang tapi tidak mau saya ulang. hehehee...
Minggu pertama uji coba di sekolah, saya jatuh sakit. Padalah saya sudah terbiasa menyetir motor sendirian, membawa bawaan yang sangat banyak. Mungkin karena pikiran kali ya. Tapi saya tidak peduli, penelitian saya harus selesai tepat waktu. HARUS!!! Akhirnya, akhir April saya telah menyelesaikan penelitian saya, dengan hasil nilai dan perilaku siswa yang memuaskan di luar ekspektasi saya. Terima kasih kepada para kepala sekolah, Ibu Herda (SMP 1 Rangkas), Bapak Tedy (SMP 2 Rangkas) dan Pak Sugeng (SMP 3 Rangkas), jajaran TU sekolah yang sudah saya repotkan, dan tentunya adik-adikku para siswa yang dengan senang hati jadi responden uji coba produk penelitian saya.
Mei sampai Juli saya terus menerus berkonsultasi dengan dosen pembimbing dalam menyusun laporan hasil penelitian dan kesimpulan dari penelitian saya. Jangan ditanya jalannya mulus. Saya mengambil resiko sangat besar. Juni saya resmi bekerja di kampus swasta bonafit di Jakarta, dengan jam kerja yang padat setiap harinya. Beruntungnya atasan saya mengijinkan saya untuk bolak balik kampus-kantor demi menyelesaikan penelitian saya. Maaf ya Ibu Yanti Tjong dan mba Erma Lusia, dulu saya suka ijin-ijin terus. hehehehe...
Setelah penantian, galau dan darah bercucuran, pada tanggal 31 Juli 2015 saya dinyatakan lulus, penelitian saya diterima oleh para dosen penguji dan pembimbing. Alhamdulillah ya Allah. Rasanya, bolak balik Kebon Jeruk - Rawamangun tidak sia-sia. Beruntung sekali, sejak bulan Mei sampai sekarang ada ojek online yang selalu mengantar saya. Kalau saya naik TransJ, Kebon Jeruk - Rawamangun ditempuh selama 2 jam, kalau naik Ojek Online ini maksimal 45 menit saja. Stress saya sedikit hilang, hati senang kantong senang....
Jangan pikir setelah sidang semuanya selesai. Masih ada revisi dan pemberkasan wisuda yang menanti. Saya masih harus bolak balik Kebon Jeruk, Rawamangun, Parung dan Rangkasbitung untuk menyelesaikan ini semua. Masih harus ijin bekerja dengan segala ketidak enakannya. Secara saya karyawan baru :(
Semua penderitaan dan kenikamatan detik-detik akhir menjadi mahasiswa saya berakhir di tanggal 3 September 2015. Alhamdulillah akhirnya saya wisuda. Semua terbayar lunas, tuntas, damai dan sejahtera. Alhamdulillah...
Kurva
Pagi ini, rutinitas saya agak berbeda. Saya bukan wanita yang rutin melaksanakan aktifitas dimulai pukul 6 pagi. Biasanya, setelah melaksanakan kewajiban kepada Sang Khalik, saya melanjutkan mimpi indah atau sekadar menonton acara televisi, entah itu siraman rohani ataupun gosip selebriti yang tidak ada pengaruhnya bagi harga minyak dunia. Ya, saya memang malas, saya akui itu. Habisnya, kegiatan apa lagi yang saya lakukan kecuali hal tersebut?
Pagi ini, saya sudah mengantri di lorong perawatan gigi dan THT. Sakit? Tentu tidak. Saya sengaja meluangkan waktu setiap akhir tahun agar bisa mengetahui sejauh mana kesehatan saya terganggu karena negara api menyerang. Loh? Ah tidak, maksud saya, sejauh mana kesehatan saya terganggu karena pola hidup saya yang tidak karuan.
Resolusi saya setiap tahunnya adalah hidup sehat. Dan setiap akhir tahunpun, harus menerima kenyataan bahwa timbangan saya seperti kurva di buku panduan perkembangan balita yang setiap bulannya melengkung ke atas. Iya, tambah terus. Hikz...
Bukan tidak mau berusaha menurunkan si kurva yang terus naik itu, sudah banyak cara yang saya lakukan. Dimulai dari menjadi member klub olahraga (bertahan cuma 4 bulan), makan hanya dalam kurun waktu 6 jam perhari, puasa gula dan garam dalam seminggu tanpa asupan nasi sama sekali (ini yang paling parah). Lah, saya orang Indonesia tulen, blasteran Sunda dan Jawa, dari kecil dididik makan nasi, bahkan kalau makan mie instan atau kentang yang jelas-jelas karbo semua, saya tetap makan nasi. Alhasil, badan saya meriang, siklus menstruasi saya berantakan, dan hati saya tetap merindukan dirinya yang tak kunjung menunjukkan tanda akan menemui saya. *halah...
Mengenai berat badan. Saya termasuk wanita menyedihkan. Bagaimana tidak, cuma minum air bening saja bisa naik 3kg dalam satu minggu. Sementara saya melihat teman yang makan segala jenis makanan (kecuali makan teman dan omongan sendiri) badannya tetap kurus. Apakah dunia ini adil? Negara di mana saat saya merasakan ketidak adilan ini?
Faktor terbesar adalah genetik. Yak! Saya yakin sekali faktor genetik. Keluarga besar saya itu memang besar-besar... Badannya... Kami semua mengenakan size yang paling kecilpun XL. Pernah pake size S, itu usia 6 tahun (ini membahagiakan sekaligus menyedihkan). Tapi, karena size kami yang abnormal itu, banyak dampak positifnya. Kami jadi memanjangkan rejeki para penjahit dan memanjangkan rejeki para penjual baju bigsize.
Bagaimana bisa resolusi turun kurva selalu gagal setiap tahunnya? Tetap harus optimis, seoptimis para anggota MLM yang foto udah dapet mobil dan ternyata mobilnya itu custom difoto sama anggota lainnya juga (ini saya ngakak baca artikelnya). Yang penting sehat, yang penting bisa kerja dan ibadah, yang penting disayang Ayah-Ibu sama Allah.
Saya bukan orang yang pantang menyerah. Termasuk menyerahkan urusan kenaikan kurva itu sama makanan yang tidak sehat. Tapi saya orang yang tidak mampu berkata tidak. Ketika wangi ayam goreng di outlet yang sering saya lewati sepulang bekerja menggoda indera penciuman saya, saya tidak mampu menolaknya. Di situ kadang saya merasa sedih karena kurva saya akan naik lagi, tapi merasa senang karena makanan kesukaan bisa memenuhi tiap sudut mulut saya, memendam air liur saya, dan masuk tenggorokan saya. Ya Tuhan!!! Dosakah hamba??? Yaa seperti itulah, manusia hanya bisa berencana, tapi aroma ayam gorenglah yang menentukan.
Resolusi tahun depan? Tentu masih banyak. Salah satunya, ya pasti sudah ketebak lah ya. Saya ingin.... Ah, iya! Saya ingin kurva saya turun. Hidup lebih sejat. Olahraga tidak cuma olahraga jari seperti menuliskan note ini dari jam 6 pagi atau hanya niat di hati saja. Namun, harus ada realisasinya. Karir yang lebih cemerlang secemerlang piring yang sudang dicuci dengan Su**ight walau hanya diiklan. Lebih banyak piknik agar tidak galau. Tambah harmonis sama orang tua, saudara, guru, sahabat, teman, dan sesama makhluk hidup baik manusia, hewan maupun tumbuhan. Dan yang paling utama, menjadi hamba Tuhan yang terus memperbaiki diri, mengurangi intensitas dosa rutin maupun non rutin, menambah pahala rutin maupun non rutin.
Cukup sekian dan terima kasih. Salam dari depan poli gigi dengan antrean 14 dan antrean 1 dimulai pukul 8 atau 9 pagi.
Tak lupa saya ucapkan selamat hari Ibu, untuk saya sebagai calon ibu dari anak-anak kita kelak (kita?), untuk Ibu Ecen Masenti yang sudah sabar dan dipaksa Tuhan untuk jadi Ibu saya, dan seluruh wanita di dunia ini. Ini kapan udahannya? Kan tadi udah pamit.
Oke, Saya, Ira Arini, pamit.
Ditulis pada 22 Desember 2015
Muhsin
Pagi ini, saya melihat beberapa video mellow mengenai Ayah. Jadi ingin menuliskan sesuatu tentang Ayah...
Mungkin dalam beberapa (bahkan hampir semua) tulisan saya mengenai keluarga. Ya, karena bagi saya, keluarga adalah segalanya.
Ayah...
Ayah saya berasal dari kabupaten di daerah Jawa Timur bernama Jombang. Beliau merantau ke tanah Sunda dan bertemu dengan Ibu saya. Menikah pada tahun 1989. Setelah 2 tahun menikah, akhirnya saya hadir di tengah-tengah mereka. Happy ending? Tentu belum. Tuhan tidak akan menguji hambaNya di luar batas kemampuan hambaNya. Keluarga kami harus naik kelas. Pada usia saya yang ke-2, Ayah harus menghadap Tuhan lebih dahulu.
Bagaimana dengan saya dan Ibu? Ibu selalu cerita, pada saat itu, tanah pun terasa lunak untuk dipijak. Mendapati imam dalam keluarga kecil kami harus berpulang kepadaNya. Ini yang terbaik. Setelah 2 tahun lamanya segala kesakitan diderita Ayah, kamipun harus mengikhlaskan beliau pergi...
Bagaimana dengan saya dan Ibu? Ya, kami harus tetap melanjutkan ujian-ujian lain yang sedang menunggu di depan kelak. Saya tumbuh sebagai anak yatim. Dibesarkan hanya oleh Ibu yang kuat dan tangguh. Entah mengapa, ingatan saya tentang Ayah sama sekali tidak ada. Saya hanya mampu mengingat suasana saat saya berusia 4 tahun. Saat saya jatuh dari sepeda, saat saya ngompol dan terus pura-pura tidur karena takut dimarahi Ibu.
Tumbuh sebagai anak yang Ayahnya telah pergi...
Saya yakin, pertumbuhan psikologis pada masa anak usia dini saya kurang baik karena saya tumbuh tanpa Ayah. Sebaik apapun Ibu mendidik saya. Setidaknya teori itu yang saya dapatkan ketika saya duduk di bangku kuliah. Namun, jangan menanyakan ketika masa middle and late childhood ataupun adolescence.
Saya berbeda dengan teman-teman semasa kecil. Mereka punya Ayah. Ketika mereka meminta uang jajan kepada Ibunya dan dirasa kurang, maka meminta kepada Ayah adalah solusinya. Itupun kalau dikasih. Saya? Saya hanya meminta uang jajan dari Ibu saja. Kurang atau lebihnya, itu harus cukup dan tidak boleh meminta kembali.
Saat ulang tahun saya tiba, Ibu mengajak saya makan Bakso Ismo dan Teh Botol yang begitu saya gemari di daerah kota kecil saya. Sementara teman-teman lainnya merayakan ulang tahun dengan meriah, meniup lilin, mengundang semua teman, saudara, dan tentunya ditemani Ayah dan Ibunya.
Ketika Idul Fitri tiba, saya mendapat banyak sekali uang dan pakaian. Biasanya, Ibu hanya membelikan saya 2 atau 3 baju baru karena saya adalah putri satu-satunya. Sisanya, saya mendapat 4 pasang baju baru dan ratusan tibu uang dari para saura atau temannya Ibu. Mereka bersedekah, memberi sesuatu untuk anak yatim. Setelah Idul Fitri, saya merasa jadi orang kaya, boleh jajan apa saja yang saya mau, selama 2 minggu memakai baju baru. Sementara teman-teman lainnya, paling sampai hari ke-3 memakai baju barunya. Hal itu terus berlangsung sampai saya masuk di bangku kuliah.
Ketika ada orang asing yang mengajak Ibu saya berbicara, saya sangat protektif. Saya melotot dengan sangar, bahkan saya ludahi. Ya, kali itu saya berpikir harus melingungi Ibu saya. Jika tidak saya lindungi, orang itu akan datang kembali dan mengambil Ibu saya. The only one I have in this world.
Ketika saya tidur, saya hanya ditemani oleh Ibu. Sesekali pengasuh saya yang bernama Teh Juleha menemani. Namun, semenjak beliau menikah. Sementara teman-teman yang lain tidur dengan Ayah dan Ibunya.
Ketika saya belajar membaca dan berhitung, saya selalu ditemani Ibu. Menulis di atas awan, melipat tangan dan kaki, memejamkan mata, membaca segala tulisan sepanjang mata melihat. Sementara teman-teman saya, belajar membaca dan berhitung dibimbing oleh kedua orang tuanya, mayoritas oleh Ayahnya, sedikit dari mereka diajarkan oleh Ibunya, bahkan ada yang hanya diajarkan oleh guru di sekolah saja. Yang terakhir paling miris.
Saya yakin, usia 2-10 tahun itu amat sangat memerlukan sosok orang tua yang lengkap di sampingnya. Orang tua adalah anggota terpenting dalam keluarga. Keluarga adalah sekolah pertama bagi anak. Bagaimana membentuk karakter dan kepribadian, sopan santun dan cara berbicara. Setidaknya itu yang saya rasakan dan diperkuat oleh teori para ahli psikologi. Bahkan, sampai usia senja pun, orang tua masih menjadi sosok terpenting dalam hidup seseorang.
8 tahun tumbuh besar tanpa didampingi seorang Ayah memang sangat berat rasanya. Setidaknya itu yang saya rasakan.Banyak orang yang mengasihani (padahal saya merasa tidak cukup untuk dikasihani).
Ayah, bagaimana rupamu? Bagaimana sikapmu? Bagaimana caramu mengajariku berjalan? Bagaimana caramu mengajariku mengeja dan berhitung? Bagaimana caramu memberi tahuku tentang hal baik dan buruk? Bagaimana caramu membelai lembut rambut serta menciumku ketika terlelap tidur? Bagaimana caramu mengajarkanku naik sepeda dan berlari?
Ah, tugasku hanyalah selalu mendoakanmu. Mendoakan agar kuburmu lapang, siksamu berkurang, dan semua amal ibadah, iman serta islam mu diterima di sisiNya. Aamiin...
Ditulis pada 12 Desember 2015
Ibuku yang Setengah Abad
Hingga waktu menunjukkan hampir pada puncak pergantian hari, saya masih saja terjaga. Ada emosi yang tak terluapkan, ada cerita yang sulit diungkapkan, ada alasan yang mungkin belum bisa dikomunikasikan.
Adalah seorang wanita berusia setengah abad. Berprofesi sebagai seorang guru senior yang masa jabatannya lebih lama daripada usia saya, kebetulan berstatus sebagai PNS. Beliau termasuk golongan lagards (dalam ilmu difusi inovasi, ini golongan terakhir dalam menerima inovasi). Jika belajar mengenai hal baru yang belum pernah beliau kuasai sebelumnya, agak sulit untuk menerimanya. Namun, usaha untuk terus belajar sangat kuat.
Ya, itu sedikit gambaran mengenai Ibu saya. Ibu yang masih semangat belajar komputer. Ibu yang selalu lupa rumus "Sum, average, vlookup, dan hyperlink" pada Microsoft Excel, Ibu yang tak kenal waktu jika bermain game Solaitare dan Onet, Ibu yang kadang saya beri nada tinggi karena sulit belajar Microsoft Power Point, Ibu yang setelah saya nadai dengan tinggi langsung berhenti belajar dan memilih main game, Ibu yang makin hari makin sensitif.
Saat saya masih diusia kanak-kanak, Ibu sangat keras mendidik saya. Mengajarkan huruf hijaiyah yang sangat sulit bagi saya, mengajarkan bagaimana saya harus berhenti pada tanda waqaf, mengajarkan berapa haraqat mad arid lisukun, mengajarkan bagaimana bunyi qalqalah. Saya takut sekali salah, karena jika salah, satu cubitan, satu pukulan dari satu lidi, bahkan satu gelas air teh hangat pernah diguyurkan kepada saya karena beliau sangat kesal dengan banyaknya salah yang saya lakukan. Ya, sepele memang. Tapi pada saat itu, belajar mengaji adalah hal yang menakutkan bagi saya. Harus bisa menerima badan saya biru karena dicubit atau dipukul dengan seutas lidi, bahkan harus mandi malam-malam karena diguyur air minum. Karena saya salah, saya harus dihukum. Itulah yang saya simpulkan kala itu.
Jika memang dalam belajar Microsoft Office saja saya dengan mudah memberikan nada suara yang agak tinggi kepada Ibu, apa karena hal di atas? Ah, saya tidak bermaksud seperti itu. Saya selalu berpedoman pada teori-teori yang saya dapatkan saat di bangku kuliah dulu. Harus sabar menghadapi golongan ini. Meski diulang sekian kali, Ibu tetap saja bertanya bagaimana rumus "SUM" pada Microsoft Excel, saya akan tetap menjawabnya.
Bagaimana dengan bacaan Alquran yang telah Ibu ajarkan dulu? Ah, Ibu masih saja menghitung haraqat yang saya baca ketika melewati Mad Thabi'i. Ibu masih saja mengevaluasi apa yang beliau ajarkan dulu. Masih saja mendengarkan dengan teliti setiap ayat yang saya baca dengan suara pelan. Jika memang tidak terdengar, beliau membuka pintu kamar dan duduk di samping saya, mendengarkan dengan seksama. Suasana seperti itu mungkin akan selalu saya lalui, saya nikmati. Priceless...
Ibu saya tidak memiliki kartu ATM. Alasannya logis. Beliau tinggal di kampung, akses ATM lumayan jauh. Selain itu, lebih banyak alasan negatif dibandingkan positifnya. Itulah sebabnya, selama 7 tahun saya selalu pulang setiap akhir pekan, karena Ibu tidak punya ATM. Hehehee... Tapi, mungkin ini dampak positifnya, saya tidak bisa jauh dari Ibu bahkan 2 minggu saja. Rasa rindu sangat menyesak di dada.
Kembali pada usia setengah abad dan lagards. Semakin bertambah usia manusia, semakin sulit menerima inovasi baru (tergantung pada motivasi yang dimiliki), semakin sensitif perasaan yang dimiliki.Semoga komunikasi antara kami selalu terjaga dengan baik. Pesan yang saya sampaikan dapat diterima dengan utuh tanpa noice. Mungkin tidak segampang itu. Pernah sekali Ibu menelpon sekadar menanyakan sudah makan atau belum. Saya jawab dengan seadanya, kemudian pada akhirnya Ibu menanyakan kabar dari seseorang yang membuat saya rasanya ingin menutup telepon. Akhirnya, Ibu ngambek, tidak mau telepon lagi. Begitu sensitifkah Ibu? Atau nada bicara saya yang terlalu tinggi? Atau komunikasi dan persepsi saya dan Ibu yang tidak sinkron? Entahlah...
Ditulis pada 28 November 2015
Jarak
Jarak Kota Jakarta dan Rangkasbitung tidaklah dekat, saya sering iseng mencoba kalkulasi dengan aplikasi ojek online yang ada di smartphone saya, mungkin ongkosnya bisa buat makan anak kost selama 3-5 hari. Tapi, bukan masalah ongkos ojek onlinenya, kembali pada jarak. Memasuki tahun ke-8 saya merantau di Ibukota negeri ini, rasanya saya masih belum bisa lepas dari pertemuan rutin nan singkat dengan orang tua. Tidak peduli seberapa lelah saya bekerja, tidak peduli seberapa sesaknya gerbong kereta, tidak peduli selarut apa malam, keinginan untuk sekedar mencium wangi khas rumah orang tua memang selalu menguatkan saya untuk pulang.
Mempunyai orang tua yang tidak mengizinkan anaknya untuk merantau selain ke kota Jakarta, yang mewajibkan anaknya untuk selalu pulang disela kesibukannya, mengirimkan pesan sekadar mengingatkan menjaga diri, ibadah dengan taat dan menjaga kesehatan, membuat saya merasa sangat berlimpah kasih sayang. Tuhan, jika memang kasih sayang ini terlalu berlimpah, mengapa hambaMu ini selalu saja mengeluh kepadaMu? Mengapa hambaMu ini selalu saja merasa kurang dan meminta lebih kepadaMu?
Karena Tuhan amat sangat senang jika hambaNya selalu meminta, tetapi cemburu jika hambaNya menduakanNya. Ah... Apakah doa-doa yang saya panjatkan termasuk meminta kepadaNya? Atau mungkin Tuhan merasa cemburu karena jika saja doa saya dikabulkan maka saya akan lebih fokus kepada yang lain?
Ditulis pada 14 Oktober 2015
Ditulis pada 14 Oktober 2015
Mati-matian
Mengapa suhu badan ini secara tiba-tiba naik, sedang kulit
mengeluarkan keringat, napsu makanpun hilang. Seluruh ujung dari anggota
tubuh dingin, wajah pucat tak karuan.
Bertahun menahan perasaan, berkorban demi masa depan, merelakan segalanya demi orang tua. Mungkin inilah yang disebut pengorbanan. Perasaan memang bukan suatu hal untuk dikorbankan. Tidak pantas rasanya menyebutnya dikorbankan. Diri ini seakan sudah mencapai segala yang diinginkan, namun masih saja tetap kurang bersyukur.
Ah... Manusia ini apa maunya?
Genap 3 tahun lalu mencoba merelakan segenap perasaan untuk mengejar masa depan yang lebih baik lagi. Selama itu juga berjuang mati-matian untuk merelakan, tidak mengingat, tidak membahas, ataupun sekedar memikirkan. Bagi saya, haram hukumnya.
Di antara berjuang mati-matian melupakan, juga berjuang mati-matian untuk mendapatkan masa depan. Memang sangat bertolak belakang. Waktu 3 tahun hanya cukup untuk mendapatkan apa yang saya perjuangkan mati-matian, tapi tidak cukup untuk merelakan apa yang saya lepaskan mati-matian juga. Semoga ini hanyalah godaan setan, hasutan jin kafir, dan ujian dari Allah.
Berdoa secara mati-matian, mungkin hal itulah yang akan selalu ditanamkan dalam diri. Diiringi dengan berusaha secara mati-matian semoga senantiasa berada di jalan Allah, jauh dari hal-hal yang dibenci olehNya. Aamiin.
Ditulis 17 September 2015
Bertahun menahan perasaan, berkorban demi masa depan, merelakan segalanya demi orang tua. Mungkin inilah yang disebut pengorbanan. Perasaan memang bukan suatu hal untuk dikorbankan. Tidak pantas rasanya menyebutnya dikorbankan. Diri ini seakan sudah mencapai segala yang diinginkan, namun masih saja tetap kurang bersyukur.
Ah... Manusia ini apa maunya?
Genap 3 tahun lalu mencoba merelakan segenap perasaan untuk mengejar masa depan yang lebih baik lagi. Selama itu juga berjuang mati-matian untuk merelakan, tidak mengingat, tidak membahas, ataupun sekedar memikirkan. Bagi saya, haram hukumnya.
Di antara berjuang mati-matian melupakan, juga berjuang mati-matian untuk mendapatkan masa depan. Memang sangat bertolak belakang. Waktu 3 tahun hanya cukup untuk mendapatkan apa yang saya perjuangkan mati-matian, tapi tidak cukup untuk merelakan apa yang saya lepaskan mati-matian juga. Semoga ini hanyalah godaan setan, hasutan jin kafir, dan ujian dari Allah.
Berdoa secara mati-matian, mungkin hal itulah yang akan selalu ditanamkan dalam diri. Diiringi dengan berusaha secara mati-matian semoga senantiasa berada di jalan Allah, jauh dari hal-hal yang dibenci olehNya. Aamiin.
Ditulis 17 September 2015
Hasil 2015
Alhamdulillah masih bisa menghirup udara di tahun 2016 ini. Saya amat sangat bersyukur kepada Allah untuk segala nikmat dan karuniaNya kepada saya. Begitu sayangnya Allah kepada saya, tidak mungkin saya tidak menyayangiNya kembali.
Tahun 2015 telah terlewati. Banyak sekali hal-hal yang sudah saya capai. Berikut ingatan saya kembali ke tahun lalu.
Januari: Saya benar-benar memutuskan untuk hidup sendiri, tanpa pendamping. Mendapati dia sudah memiliki pengganti saya, walau perih tapi harus tetap tegar. Ini untuk kehidupan yang lebih baik lagi. Selebihnya, hanya itu yang mungkin saya ingat dan berarti di bulan Januari 2015 lalu.
Februari: Selalu saja banyak kejutan yang ada di bulan penuh cinta ini. Bulan ini saya lahir, bulan ini banyak mendapatkan kado indah dari Allah (berupa nikmat iman, islam, kesehatan dan kebahagiaan), kado indah dari orang tua dan keluarga, dan kado indah dari para sahabat. Hampir semua hadiah yang saya dapat adalah benda-benda bergambarkan doraemon. Dari situ saya introspeksi diri, mereka menganggap saya sebagai sosok yang masih kekanakan dengan memberikan hadiah bergambarkan tokoh kartun yang saya sukai. Namun, ada hal lain yang saya amat sangat syukuri yaitu keikhlasan dan doa yang mereka tuturkan untuk saya. terakhir, saya menjalani satu fase dalam tugas akhir penelitian saya. Bulan ini saya menjalani seminar proposal dengan lancar car carrrr... Alhamdulillah...
Maret: Saya kembali melakukan hal yang amat saya sukai. Mengunjungi kota Yogyakarta. Kota yang amat saya sukai. Kota yang ingin saya jadikan tempat berpulang dan tempat mengusir kepenatan. Selain Yogya, saya juga mengunjungi kota Semarang. Kedua kota itu mungkin tidak saya kunjungi untuk pertama kalinya, tapi karena saya terlalu jatuh cinta dengan Yogya, saya masih saja tidak bisa memejamkan mata ketika malam sebelum keberangkatan (sooooo excited). Bertemu dengan orang-orang baru, adik kelas, sahabat dan mengunjungi tempat yang baru. Liburan yang sangat menyenangkan.
April: Sebelum melakukan penelitian pasca seminar proposal, saya menyempatkan diri untuk jalan-jalan ke Bandung bersama teman-teman kuliah. Lumayan lah refreshing. hehehehe... Melakukan penelitian di 3 sekolah sekaligus. Ini mungkin bulan yang lumayan berat. Berat dalam segala hal. Biaya? Tentu saja. Saya harus mencetak buku sebanyak siswa tempat penelitian saya. Iya, 3 sekolah. Belum lagi saya harus melakukan uji expert sebanyak 5 orang expert beserta kenang-kenangannya, dan masih banyak lagi. Saya sempat jatuh sakit di bulan ini, mungkin ini bulan yang lumayan berat dibanding bulan-bulan ysebelumnya. Secara, harus nyejar 3 sekolah untuk uji coba produk, ngejar dosen pembimbing yang stay di PUSTEKKOM daerah Parung (harus bolak-balik Rangkas-Parung atau Rawamangun-Parung), ngejar dosen expert untuk uji coba produk, beli perlengkapan untuk masuk kelas, mengurus surat keterangan penelitian ke dinas pendidikan Kabupaten dan tata usaha kampus. Semua itu saya lakukan sendirian. Iya, sendirian. Alhamdulillah semua pihak sangat kooperatif, semuanya berjalan lancar. Walaupun luar biasa capeknya.
Mei: Banyak hal yang tidak terduga. Saya secara tiba-tiba memutuskan kembali ke kota yang membuat saya jatuh cinta, Yogyakarta. Bertemu dengan teman-teman baru. Tadinya dalam rangka kondangan saja, tapi ujungnya bisa liburan bersama. Hehehehe... Bulan ini juga saya mendapatkan kabar kalau saya diterima untuk bekerja di universitas swasta ternama di Jakarta sebagai konsultan kurikulum. Walaupun tidak mengajar seperti yang saya inginkan sebelumnya, tapi ini patut dicoba. Sebelum memulai bekerja, saya mengikuti berbagai seminar di kampus tercinta bersama teman-teman sekelas, kebetulan pada saat itu sedang masuk bulan Dies Natalis kampus saya. Lumayan dapet sertifikat dan makan gratis. Maklum anak kosan. Hehehe...
Juni: Mulai bekerja dengan resmi di universitas swasta ternama di Jakarta, bertemu dengan teman-teman baru, lingkungan baru, kosan baru, berpisah dari Ayu yang sudah sekamar dengan saya selama 7 tahun. Satu bulan ini saya sulit menyesuaikan diri dengan lingkungan baru. Masih bolak-balik kampus untuk bimbingan mengenai penelitian saya, masih harus merubah mindset bekerja bukan lagi bermain. Bulan ini juga saya menghadapi bulan Ramadhan yang sudah menjadi kewajiban seluruh muslim untuk berpuasa. Tidak hanya bulan penuh dengan puasa, bagi saya ini merupakan titik balik puncak kehidupan dan sejauh mana saya bisa beribadah kepada Tuhan dengan lebih dalam satu tahun terakhir.
Juli: Masih menyesuaikan diri dengan lingkungan pekerjaan, bolak balik kampus untuk bimbingan, dan mengakhiri bulan ramadhan dengan happy. Tahun sebelumnya saya mengingkari janji "setiap ramadhan harus khatam Qur'an", tapi tahun ini alhamdulillah terealisasi kembali. Sungguh 2014 adalah tahun ibadah termalas. Di penghujung Juli ini, saya akhirnya menjalani sidang penelitian. Memperoleh gelar magister sebelum usia saya 25 tahun adalah salah satu target hidup yang sudah saya penuhi. Ah... Allah memang baik...
Agustus: Masih harus bolak balik kampus untuk mengejar tanda tangan dosen demi wisuda September, masih harus menyesuaikan diri dengan lingkungan pekerjaan. Bulan ini lumayan berat. Dalam 1 minggu, saya hanya bekerja bisa 2 hari saja. Sisanya ke kampus, pemberkasan, mengejar tanda tangan dosen. Ah, saya malu dengan atasan saya. Tapi ini konsekuensinya, karyawan baru tapi sudah banyak izin. hehehehe...
September: Alhamdulillah akhirnya saya wisuda. Tepatnya tanggal 3 September 2015 saya wisuda. Banyak sekali kebahagiaan bahkan insidenpun saya jadikan kebahagiaan. Insiden kebaya yang akan saya kenakan saat wisuda ketinggalan di rumah. Kok bisa? Waktu tempuh antara rumah saya dengan tempat wisuda itu 3 jam. Kalau saya memakai kebaya dan sudah berdandan rapi dari rumah, pasti sampai tempat wisuda sudah luntur dan bau keringat (walaupun mobilnya AC). Saya putuskan untuk memakai kaos oblong dan legging selama perjalanan. Alhasil, saat memasuki ruangan upacara sakral wisuda saya memakai kaos oblong dan legging berbalut toga. Tidak apa, yang penting bulu mata, hijab dan make up sudah hits. hehehehe...
Oktober: Bulan Dzulhijjah, bulannya banyak yang menikah. Banyak sekali teman-teman saya yang memutuskan untuk mengakhiri masa lajangnya di bulan ini. Itu berarti, banyak pula yang bertanya kepada saya "Kapan nyusul?". Wasaisul. Saya hanya bisa menjawabnya dengan senyuman. Berharap tidak akan ada lagi pertanyaan seperti itu. Sementara calonpun masih belum terlihat hilalnya. Hehehehe...
November: Tidak ada kejadian berarti. Hal yang paling saya ingat adalah pergi tamasya ke kebun bunga bersama Ayah, Ibu dan teman-teman satu pekerjaannya. Oya, bulan ini saya mulai bisa mengikuti ritme pekerjaan. Cukup lama sepertinya untuk menyesuaikan diri, tapi saya berusaha keras untuk jadi yang lebih baik lagi dalam pekerjaan.
Desember: Bulan ceria karena hampir 2 minggu banyak liburnya. Libur akhir tahun ini saya tidak bepergian ke mana-mana. Hanya diam saja di rumah, menonton film-film yang belum saya tonton di laptop, mengajak adik liburan ke Jakarta.
Itulah kisah saya di tahun 2015. Beberapa mengejutkan, diluar ekspektasi dan Subhanallah sekali.
Tahun 2015 telah terlewati. Banyak sekali hal-hal yang sudah saya capai. Berikut ingatan saya kembali ke tahun lalu.
Januari: Saya benar-benar memutuskan untuk hidup sendiri, tanpa pendamping. Mendapati dia sudah memiliki pengganti saya, walau perih tapi harus tetap tegar. Ini untuk kehidupan yang lebih baik lagi. Selebihnya, hanya itu yang mungkin saya ingat dan berarti di bulan Januari 2015 lalu.
Februari: Selalu saja banyak kejutan yang ada di bulan penuh cinta ini. Bulan ini saya lahir, bulan ini banyak mendapatkan kado indah dari Allah (berupa nikmat iman, islam, kesehatan dan kebahagiaan), kado indah dari orang tua dan keluarga, dan kado indah dari para sahabat. Hampir semua hadiah yang saya dapat adalah benda-benda bergambarkan doraemon. Dari situ saya introspeksi diri, mereka menganggap saya sebagai sosok yang masih kekanakan dengan memberikan hadiah bergambarkan tokoh kartun yang saya sukai. Namun, ada hal lain yang saya amat sangat syukuri yaitu keikhlasan dan doa yang mereka tuturkan untuk saya. terakhir, saya menjalani satu fase dalam tugas akhir penelitian saya. Bulan ini saya menjalani seminar proposal dengan lancar car carrrr... Alhamdulillah...
Maret: Saya kembali melakukan hal yang amat saya sukai. Mengunjungi kota Yogyakarta. Kota yang amat saya sukai. Kota yang ingin saya jadikan tempat berpulang dan tempat mengusir kepenatan. Selain Yogya, saya juga mengunjungi kota Semarang. Kedua kota itu mungkin tidak saya kunjungi untuk pertama kalinya, tapi karena saya terlalu jatuh cinta dengan Yogya, saya masih saja tidak bisa memejamkan mata ketika malam sebelum keberangkatan (sooooo excited). Bertemu dengan orang-orang baru, adik kelas, sahabat dan mengunjungi tempat yang baru. Liburan yang sangat menyenangkan.
April: Sebelum melakukan penelitian pasca seminar proposal, saya menyempatkan diri untuk jalan-jalan ke Bandung bersama teman-teman kuliah. Lumayan lah refreshing. hehehehe... Melakukan penelitian di 3 sekolah sekaligus. Ini mungkin bulan yang lumayan berat. Berat dalam segala hal. Biaya? Tentu saja. Saya harus mencetak buku sebanyak siswa tempat penelitian saya. Iya, 3 sekolah. Belum lagi saya harus melakukan uji expert sebanyak 5 orang expert beserta kenang-kenangannya, dan masih banyak lagi. Saya sempat jatuh sakit di bulan ini, mungkin ini bulan yang lumayan berat dibanding bulan-bulan ysebelumnya. Secara, harus nyejar 3 sekolah untuk uji coba produk, ngejar dosen pembimbing yang stay di PUSTEKKOM daerah Parung (harus bolak-balik Rangkas-Parung atau Rawamangun-Parung), ngejar dosen expert untuk uji coba produk, beli perlengkapan untuk masuk kelas, mengurus surat keterangan penelitian ke dinas pendidikan Kabupaten dan tata usaha kampus. Semua itu saya lakukan sendirian. Iya, sendirian. Alhamdulillah semua pihak sangat kooperatif, semuanya berjalan lancar. Walaupun luar biasa capeknya.
Mei: Banyak hal yang tidak terduga. Saya secara tiba-tiba memutuskan kembali ke kota yang membuat saya jatuh cinta, Yogyakarta. Bertemu dengan teman-teman baru. Tadinya dalam rangka kondangan saja, tapi ujungnya bisa liburan bersama. Hehehehe... Bulan ini juga saya mendapatkan kabar kalau saya diterima untuk bekerja di universitas swasta ternama di Jakarta sebagai konsultan kurikulum. Walaupun tidak mengajar seperti yang saya inginkan sebelumnya, tapi ini patut dicoba. Sebelum memulai bekerja, saya mengikuti berbagai seminar di kampus tercinta bersama teman-teman sekelas, kebetulan pada saat itu sedang masuk bulan Dies Natalis kampus saya. Lumayan dapet sertifikat dan makan gratis. Maklum anak kosan. Hehehe...
Juni: Mulai bekerja dengan resmi di universitas swasta ternama di Jakarta, bertemu dengan teman-teman baru, lingkungan baru, kosan baru, berpisah dari Ayu yang sudah sekamar dengan saya selama 7 tahun. Satu bulan ini saya sulit menyesuaikan diri dengan lingkungan baru. Masih bolak-balik kampus untuk bimbingan mengenai penelitian saya, masih harus merubah mindset bekerja bukan lagi bermain. Bulan ini juga saya menghadapi bulan Ramadhan yang sudah menjadi kewajiban seluruh muslim untuk berpuasa. Tidak hanya bulan penuh dengan puasa, bagi saya ini merupakan titik balik puncak kehidupan dan sejauh mana saya bisa beribadah kepada Tuhan dengan lebih dalam satu tahun terakhir.
Juli: Masih menyesuaikan diri dengan lingkungan pekerjaan, bolak balik kampus untuk bimbingan, dan mengakhiri bulan ramadhan dengan happy. Tahun sebelumnya saya mengingkari janji "setiap ramadhan harus khatam Qur'an", tapi tahun ini alhamdulillah terealisasi kembali. Sungguh 2014 adalah tahun ibadah termalas. Di penghujung Juli ini, saya akhirnya menjalani sidang penelitian. Memperoleh gelar magister sebelum usia saya 25 tahun adalah salah satu target hidup yang sudah saya penuhi. Ah... Allah memang baik...
Agustus: Masih harus bolak balik kampus untuk mengejar tanda tangan dosen demi wisuda September, masih harus menyesuaikan diri dengan lingkungan pekerjaan. Bulan ini lumayan berat. Dalam 1 minggu, saya hanya bekerja bisa 2 hari saja. Sisanya ke kampus, pemberkasan, mengejar tanda tangan dosen. Ah, saya malu dengan atasan saya. Tapi ini konsekuensinya, karyawan baru tapi sudah banyak izin. hehehehe...
September: Alhamdulillah akhirnya saya wisuda. Tepatnya tanggal 3 September 2015 saya wisuda. Banyak sekali kebahagiaan bahkan insidenpun saya jadikan kebahagiaan. Insiden kebaya yang akan saya kenakan saat wisuda ketinggalan di rumah. Kok bisa? Waktu tempuh antara rumah saya dengan tempat wisuda itu 3 jam. Kalau saya memakai kebaya dan sudah berdandan rapi dari rumah, pasti sampai tempat wisuda sudah luntur dan bau keringat (walaupun mobilnya AC). Saya putuskan untuk memakai kaos oblong dan legging selama perjalanan. Alhasil, saat memasuki ruangan upacara sakral wisuda saya memakai kaos oblong dan legging berbalut toga. Tidak apa, yang penting bulu mata, hijab dan make up sudah hits. hehehehe...
Oktober: Bulan Dzulhijjah, bulannya banyak yang menikah. Banyak sekali teman-teman saya yang memutuskan untuk mengakhiri masa lajangnya di bulan ini. Itu berarti, banyak pula yang bertanya kepada saya "Kapan nyusul?". Wasaisul. Saya hanya bisa menjawabnya dengan senyuman. Berharap tidak akan ada lagi pertanyaan seperti itu. Sementara calonpun masih belum terlihat hilalnya. Hehehehe...
November: Tidak ada kejadian berarti. Hal yang paling saya ingat adalah pergi tamasya ke kebun bunga bersama Ayah, Ibu dan teman-teman satu pekerjaannya. Oya, bulan ini saya mulai bisa mengikuti ritme pekerjaan. Cukup lama sepertinya untuk menyesuaikan diri, tapi saya berusaha keras untuk jadi yang lebih baik lagi dalam pekerjaan.
Desember: Bulan ceria karena hampir 2 minggu banyak liburnya. Libur akhir tahun ini saya tidak bepergian ke mana-mana. Hanya diam saja di rumah, menonton film-film yang belum saya tonton di laptop, mengajak adik liburan ke Jakarta.
Itulah kisah saya di tahun 2015. Beberapa mengejutkan, diluar ekspektasi dan Subhanallah sekali.
Langganan:
Komentar (Atom)